Banyumas Raya

Jakarta – Perjalanan mudik Lebaran memakai kendaraan pribadi dengan menempuh jarak jauh tentunya memerlukan stamina prima, karena selama perjalanan berpotensi menemukan sejumlah hambatan, baik itu kemacetan lalulintas atau faktor cuaca.
Selain stamina yg prima, suasana mudik yg happy juga diperlukan agar tak menimbulkan rasa bosan selama perjalanan yg mempengaruhi kenyamanan dan konsentrasi ketika berkendara.
Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri, Brigjen Pol Dr. Chryshnanda Dwilaksana M.SI, menyampaikan mudik dengan perasaan senang bisa mengurangi ketegangan dan menepis emosi ketika terjebak dalam kemacetan.
“Mudik yg happy membuat mudik mengasyikkan, walau macet tetap ada satu yg setidaknya membuat ada harapan dan hiburan. Adanya informasi, solusi dan komunikasi mulai mengurangi tingkat ketegangan dan emosi pengguna jalan yg terjebak dalam kemacetan,” kata Brigjen Pol Chryshnanda, dalam informasi tertulisnya.
Dia menyebut, pemudik biasanya ‘diuji’ dengan berbagai hambatan antara yang lain kemacetan akibat jalan yg tak menampung, kerusakan jalan, putaran jalan, penyempitan, hingga perilaku pengguna jalan yg melanggar aturan.
“Faktor-faktor yg menjadi potensi terjadinya perlambatan atau kemacetan yg harus menjadi perhatian di antaranya persimpangan sebidang, bottle neck dan gate tol. Belum lagi ada perbaikan atau pembangunan jalan, pasar tumpah dan parkir sembarangan yg berdampak kemacetan, namun tidak jarang dianggap wajar,” ujar Brigjen Pol Chryshnanda.
Jenderal polisi bintang sesuatu ini juga menggarisbawahi pentingnya persiapan fisik dan rencana perjalanan untuk pemudik, mengingat jarak jauh yg umumnya ditempuh.
“Perlu kesiapan yg matang sebelum berangkat,” katanya.
Brigjen Pol Chryshnanda menjelaskan bahwa Kepolisian RI berupaya meningkatkan kualitas keselamatan dan menurunkan tingkat fatalitas kecelakaan dengan memakai sistem pemantauan berbasis.
Berkaitan dengan Program Road Safety, terdapat lima perhatian penting terkait arus mudik yg menjadi standar pelayan publik yg diupayakan secara selalu menerus, sinergis dan berkesinambungan, yakni:
1 Kelancaran bagi memenuhi standar kapasitas, prioritas dan emergency.
2. Sistem pemantauan dan pendeteksian atas volume arus/ tingkat kepadatan arus dahulu lintas
3. Standar volume kendaraan bagi kecepatan minimal maupun maksimal
4. Standar kapasitas bagi menentukan prioritas pengaturan tingkat kepadatan dari pengalihan arus, contra flow hingga sistem one way
5. Standar pelayanan di gate, dan exit toll
Standar kelancaran, keamanan, keselamatan, hingga keadaan darurat itu dibangun dengan berbasis TI yg diimplementasikan melalui sistem peta dan pemantauan, serta komando pengendalian, yg didukung aplikasi online, sistem network manual maupun elektronik.
“Yang paling utama bagi terus diingat adalah keselamatan tetap yg pertama dan utama. Stop pelanggaran, stop kecelakaan, dan keselamatan buat kemanusiaan,” pungkas Brigjen Pol Chryshnanda.
Sumber: http://teknologi.inilah.com
BanyumasRaya.com

