Banyumas Raya

– Pekan ini, Gedung Putih menyampaikan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump bakal menggelar meeting dengan para eksekutif dari industri video game.
Agenda rapat itu terkait persoalan kekerasan dalam game yg menurut Trump menjadi salah sesuatu pemicu kekerasan di dunia nyata di Amerika Serikat belakangan.
Pertemuan terebut rencananya mulai diadakan minggu depan. Para eksekutif industri video game diharapkan mampu memberi masukan mengenai upaya yg mulai mereka lakukan perihal mengurangi kekerasan, khususnya soal keamanan di sekolah.
Namun, di sisi lain, Entertainment Software Association (ESA) selaku perwakilan para pelaku industri game mengaku baru tahu bahwa Trump berniat buat mengadakan pertemuan.
“ESA dan perusahaan-perusahaan yg bernaung di dalamnya belum menerima undangan bagi bertemu dengan Presiden Trump,” sebut ESA dalam sebuah pernyataan yg dikeluarkan Kamis (1/3/2018).
Dituding pemicu penembakan
Niatan Trump bertemu para pelaku industri game adalah kelanjutan dari reaksinya terhadap penembakan massal di sebuah sekolah dasar di Florida, bulan lalu.
Pelaku yg berusia 19 tahun dan diketahui milik persoalan mental memberondong anak-anak sekolah dengan senapan serbu sehingga menewaskan 17 orang.
Alih-alih menyoroti soal kepemilikan senjata api di negerinya, Trump malah menuding bahwa kekerasan dalam video game adalah biang kerok di balik kejadian penembakan massal tersebut.
“Video game, film, hal-hal yg ditemukan di internet ini sangat kejam,” kata Trump minggu ini, sambil menambahkan bahwa sistem rating umur buat konsumsi video game harus diperbaiki, sebagaimana dirangkum Tekno dari Polygon, Sabtu (3/3/2018).
Industri video game selama ini menampik anggapan bahwa kekerasan di dunia maya ada hubungannya dengan kekerasan yg dikerjakan di dunia nyata.
Salah sesuatu argumennya, video game yg dimainkan para gamer di AS sama dengan yg dimainkan gamer di belahan dunia lain, tetapi tingkat kekerasan terkait senjata api di AS jauh lebih tinggi.
“Banyak pihak yg sudah melakukan penelitian dan tak menemukan keterkaitan antara konten media dan kekerasan di dunia nyata,” sebut ESA.
Sumber: http://tekno.kompas.com
BanyumasRaya.com

