Banyumas Raya

Usai Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yg dikerjakan secara serentak, seorang konsultan sistem IT Pilpres 2019 Harry Sufehmi mengaku dibombardir panggilan misterius dari nomor luar negeri.
- 91% Form C1 KPU masuk, Ridwan Kamil unggul 979.831 suara dari Sudrajat
- Program Kartu Tani & OTT Bupati Tasdi penyebab Ganjar keok di Purbalingga
- Kolom kosong menang di Makassar, KPU tegaskan tidak pengaruhi legitimasi
Akhirnya, ia menetapkan bagi menonaktifkan nomor ponsel miliknya bagi sementara waktu karena jumlah panggilan yg mencapai ratusan.
Menanggapi aksi tersebut, peneliti keamanan siber Pratama Persadha menyampaikan hal itu yaitu aksi iseng belaka.
Pratama pun menyebut aksi ini tidak perlu dikategorikan sebagai upaya peretasan. “Kalau menurut aku iya (aksi ini tidak mampu dikategorikan sebagai upaya peretasan). Terlalu dibesar-besarkan itu,” tuturnya.
Ia beralasan aksi peretasan tersebut biasanya membuat sistem rusak, mencuri data, termasuk mengambil alih perangkat korbannya. Selain itu, aksi peretasan umumnya menggunakan teknik tertentu dan mencari kelemahan dari suatu sistem buat bisa menerobosnya.
Terlebih, menurut Pratama, sebenarnya ada banyak aplikasi yg mampu digunakan bagi melakukan panggilan telepon dari luar negeri, termasuk memilih yang berasal negaranya.
“Contohnya, memakai Skype dengan membeli credit buat melakukan panggilan telepon,” tuturnya usai dihubungi Tekno Liputan6.com, Kamis (28/6).
Terkait aksi permintaan me-reset Telegram atau WhatsApp memang pasti membutuhkan SMS otentikasi ke smartphone pemilik aslinya.
Karenanya, ia menyampaikan segala orang mampu melakukan aksi semacam ini, selama memang memiliki nomor telepon pengguna lain.
Ia juga menuturkan, modus mengirimkan beragam telepon spam ini tidak jarang dikerjakan agar perangkat sasarannya sulit digunakan.
“Bahkan, kalau pihak yg mengganggu konsultan itu pintar, dia dapat mengirim ratusan SMS dalam sesuatu waktu. Akibatnya, smartphone pasti hang dan tak mampu digunakan, karena setiap di-restart mulai masuk selalu ratusan SMS spam,” tutur chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication System Security Research Center) itu.
Sumber: Liputan6.com
Reporter: Agustinus Mario Damar [ega]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

