Banyumas Raya

– Pada musim liburan Natal 2013, Austin Thompson, seorang peretas yg dikenal lewat alias “DerpTrolling”, melancarkan serangan Distributed Denial of Service ( DDoS) terhadap server sejumlah layanan game, termasuk Sony, Steam, EA, hingga DotA 2.
Pekan lalu, pria 23 tahun yang berasal Utah, Amerika Serikat itu akhirnya divonis hukuman penjara selama 27 bulan atau lebih dari 2 tahun oleh pengadilan federal di AS.
Dia juga diperintahkan membayar ganti rugi 95.000 dollar AS (Rp 1,3 miliar) kepada salah sesuatu korbannya, Daybreak Games, yg saat waktu kejadian dimiliki oleh Sony.
“DDoS tiap tahun menimbulkan kerugian jutaan dollar AS kepada pebisnis dan individual. Kami berkomitmen menghukum hacker yg sengaja mengganggu akses internet,” ujar jaksa AS dalam perkara Thompson, Robert Brewer.
Serangan Thompson yg dimaksudkan buat mengganggu para pemain game di musim liburan 2013-2014 sempat membuat sejumlah server perusahaan game bertumbangan. Gangguan gara-gara serangannya berlangsung antara hitungan jam hingga berhari-hari.
Baca juga: Ini Penyebab Facebook, Instagram, dan WhatsApp Gangguan Berjam-jam
Usai menumbangkan sebuah layanan, Thompson yg ketika itu berusia 18 tahun pamer screenshot di akun Twitter @DerpTrolling, sekaligus mengumumkan nama layanan game berikut yg menjadi incarannya.
Jelas saja ulah Thompson membuat kesal banyak orang, termasuk hacker yang lain yg membeberkan keterangan pribadinya (doxing).
Gara-gara itu, tahun 2014 Thompson dilaporkan sudah dibekuk oleh kepolisian New York. Kabar berikutnya muncul pada November 2018, saat Thompson mengaku bersalah.
Tindakan Thompson rupanya menginspirasi sejumlah kelompok hacker buat melakukan aksi serupa, yakni melancarkan serangan ketika liburan Natal buat sengaja mengganggu para pemain game.
Baca juga: Hacker Klaim Jual 26 Juta Akun Internet, 2 Situs Indonesia Masuk Daftar?
Dirangkum Tekno dari The Register, Minggu (7/7/2019), kejahatan Thompson sebenarnya bukan “hacking” dalam artian membobol sistem komputer, tetapi membanjiri server sasaran dengan sejumlah besar trafik yg mampu disewa.
Serangan Thompson mampu sukses karena para penyedia layanan-layanan internet belum memiliki pertahanan mumpuni terhadap DDoS pada tahun 2013. Di pasar gelap internet ada sejumlah pihak yg menawarkan jasa serangan DDoS dengan bayaran tertentu.
Tren serangan DDoS di musim liburan yg dipicu oleh Thompson ini membuat Biro Investigasi Federal AS (FBI) ikut bertindak.
Akhir tahun lalu, FBI bersama institusi penegak hukum di Inggris dan Belanda memberangus domain punya 15 penyedia layanan DDoS bagi mencegah berulangnya serangan serupa.
Baca juga: Cara Peretas Memanfaatkan Kamera dalam Hacking Terbesar Sepanjang Sejarah
Sumber: http://tekno.kompas.com
BanyumasRaya.com

