Banyumas Raya

– Facebook kembali tersandung isu privasi. Setelah skandal Cambridge Analytica tahun 2018 lalu, belakangan Facebook ketahuan sudah memata-matai aktivitas sejumlah pengguna melalui ponselnya dengan iming-iming bayaran sejumlah uang.
Jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg ini diketahui memberi imbalan pada para pengguna berusia 13 sampai 35 tahun sebesar 20 dollar AS (Rp 282.000) per bulan. Sebagai gantinya, pengguna tersebut harus rela aktivitas dan data pribadinya dipantau oleh Facebook.
Data yg diambil berupa aktivitas pencarian di website, keterangan lokasi, pesan pribadi (DM) di aplikasi media sosial, dan dua data lainnya.
Baca juga: 20 Skandal Facebook Sepanjang Tahun 2018
Aktivitas membayar pengguna buat memata-matai aktivitas dan data pribadi mereka telah dikerjakan oleh Facebook setidaknya sejak tahun 2016 lalu.
Facebook mengambil data para pengguna tersebut melalui sebuah aplikasi VPN di bagi iOS dan Android yg bernama “Facebook Research”. Para peserta yg bersedia keterangan pribadinya ditukar dengan uang, diharuskan memasang aplikasi ini di ponselnya.
Bahkan menurut spesialis keamanan Guardian Mobile Firewall, Will Strafach, para pengguna bahkan diminta bagi membuat screenshot halaman yg memperlihatkan apa saja yg mereka pesan dari situs e-commerce Amazon.
Mengintip trafik
Dirangkum Tekno dari TechCrunch, Rabu (30/1/2019), aplikasi Facebook Research bekerja dengan cara mengintip trafik jaringan lewat root access.
Dengan demikian, Facebook pun mampu memantau dan menganalisa aktivitas pengguna di internet lewat ponselnya.
Mekanisme aplikasi Facebook Research ini serupa dengan aplikasi bernama Onavo Protect -juga punya Facebook- yg sudah diblokir dari App Store oleh Apple.
Baca juga: Ingkar Janji Mark Zuckerberg Kepada WhatsApp, Instagram, dan Messenger
Onavo Protect dianggap melanggar dua aturan privasi, kemudian dicabut oleh Facebook dari App Store pada Agustus 2018 dulu setelah mendapat peringatan dari Apple.
Nah, aplikasi Facebook Research yang diperoleh dari sumber di luar App Store (sideload) disinyalir yaitu pengganti Onavo Protect sebagai sarana Facebook memperoleh data pengguna dari perangkat iOS.
Aplikasi Onavo Protect masih ada di toko aplikasi Android, Google Play Store, dan telah diunduh sebanyak 10 juta kali.
Tanggapan Facebook
Facebook sendiri berdalih bahwa tindakan di atas dikerjakan sebagai bagian dari penelitian bagi mengidentifikasi hal-hal tertentu terkait kebiasaan pengguna.
Tujuannya disebut demi membuat kinerja Facebook menjadi lebih baik.
“Karena penelitian ini bertujuan menolong Facebook memahami bagaimana orang memakai perangkat seluler mereka,” ujar seorang juru bicara Facebook.
Baca juga: Melihat Kesungguhan Facebook Perangi Hoaks
“Kami sudah memberi keterangan luas tentang macam data yg kalian kumpulkan dan bagaimana mereka mampu berpartisipasi. Kami tak memberikan keterangan ini dengan orang yang lain dan peserta mampu berhenti berpartisipasi kapan saja,” lanjutnya.
Pasca publikasi laporan terkait oleh TechCrunch, Facebook mengumumkan bakal menghentikan aplikasi Facebook Research versi iOS.
Sumber: http://tekno.kompas.com
BanyumasRaya.com

