Banyumas Raya

– Semenjak Huawei masuk daftar hitam bisnis dan perdagangan Amerika Serikat, di China akan berkembang wacara bagi melakukan aksi balasan berupa pemblokiran terhadap iPhone, yg memang diproduksi di Negeri Tirai Bambu.
Namun, bos Huawei sendiri, Ren Zhengfei rupanya tak setuju dengan langkah semacam itu. Dia mengemukakan pendapatnya dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg awal minggu ini.
“Itu tidak mulai terjadi. Kalaupun terjadi, aku yg pertama mulai protes,” ujar Ren yg yaitu pelopor Huawei. “Apple adalah guru saya, pimpinan. Sebagai murid, apakah aku mulai melawan guru?” imbuh dia.
Baca juga: Bos Huawei Mengaku Suka Beli iPhone
Ren agaknya ingin berhati-hati menyikapi hubungan dengan Amerika Serikat dalam konteks perang dagang dengan China, juga Apple yg banyak mempekerjakan warga China.
Ren mengaku kagum dengan Apple lantaran berhasil membangun ekosistem besar seputar iPhone. Sebelumnya dia bahkan mengaku suka membeli iPhone bagi keluarganya ketika berada di luar China.
Huawei sendiri mengalami pemutusan kerja sama dari sejumlah perusahaan teknologi, termasuk Google dan ARM, juga didepak dari aliansi Wi-Fi, setelah dimasukkan dalam daftar hitam bernama entity list oleh pemerintah AS.
Perusahaan yg bemarkas di Shenzen, China itu pun tidak dapat memperoleh akses hardware maupun software dari perusahaan AS, atau yg memiliki keterkaitan seperti ARM (Inggris) dan Panasonic (Jepang).
Masalah tersebut, menurut Ren, sebelumnya sempat diantisipasi pada pertengahan 2018, ketika sanksi serupa dibebankan oleh ZTE dan AS. Huawei pun menimbun chip dan komponen yang lain buat dapat tetap menjalankan bisnisnya, tetapi pasokan ini cuma mulai bertahan selama tiga bulan.
Baca juga: 8 Fakta Penangguhan Lisensi Android Ponsel Huawei
Selain dituding menjalankan kegiatan mata-mata buat pemerintah China, Huawei turut diduga mencuri kekayaan intelektual dari sejumlah perusahaan teknologi jenis Cisco dan Motorola.
Tuduhan ini dibantah oleh Ren yg menyampaikan bahwa penguasaan teknologi Huawei berada di atas perusahan-perusahaan AS, dan merasa tidak perlu menjual produk ke AS, sebagaimana dirangkum Tekno dari Bloomberg, Rabu (29/5/3019).
“AS tak pernah membeli produk dari kami,” katannya. “Bahkan kalau AS ingin membeli produk kita di masa depan, mungkin aku tidak mulai mau jual ke mereka. Tak perlu ada negosiasi.”
Sumber: http://tekno.kompas.com
BanyumasRaya.com

