Banyumas Raya

Pasca Uber menjual segala aset bisnisnya di Asia Tenggara, para driver dari startup ride-sharing yang berasal AS tersebut diharapkan bagi ‘hijrah’ ke Grab. Namun meskipun direkomendasikan bagi berpindah, para driver lebih memilih pindah ke perusahaan lain.
- Ini deretan anak muda Indonesia yg masuk daftar ’30 Under 30′ dari Forbes
- Inspirasi Silicon Valley buat Karapan, sang juara e-agriculture dari The NextDev 2017
- Rayakan hari jadi, JD.ID gelar Onlinepedia 3.28
Pada faktanya, mekanisme migrasi sopir Uber ke Grab tidaklah mudah. Hal ini menjadi biang penolakan driver Uber bagi bergabung dengan startup yg berbasis di Singapura tersebut.
“Kalau mereka yg loyal sama Uber itu tampaknya tak mulai pindah ke beberapa kompetitor ojek online yg lain,” ujar Heru (49), Pembina Solidaritas Uber Motor Indonesia (SUMI).
Heru mengungkap, sekarang telah ada sekitar 10.000 sopir Uber kompak berbondong-bondong buat pindah ke aplikasi transportasi lokal baru bernama Anterin.
Ya, aplikasi ini adalah aplikasi transportasi terbaru yg sebelumnya belum pernah ada di era Go-Jek, Grab, Uber.
“Mungkin yg loyal itu mulai mau bangun Anterin jadi pemain baru dan milik banyak daya saing sepeninggal Uber,” sahut Heru.
Selain itu, Tekno Liputan6.com juga sempat mengumpulkan keterangan dari dua sopir Uber di lapangan. Saat diajak berbincang mengenai akuisisi Grab, para sopir ternyata belum sepenuhnya percaya buat pindah.
“Grab saingannya banyak,” ujar Agus, salah sesuatu sopir. Ia juga sempat membandingkan tarif dengan Go-Jek yg lebih tinggi.
Apa itu Anterin?
Anterin, aplikasi yg didominasi warna biru ini mengangkat tagline “Bebaskan Pilihanku”. Co-founder Anterin, Uki Utama, menjelaskan kalau Anterin adalah aplikasi transporting market place pertama di dunia yg memungkinkan ojek online memilih dan menentukan berapa harga yg sepantasnya mereka bayar.
“Mereka mampu memilih secara spesifik macam kendaraan yg sesuai dengan kebutuhannya, dan memilih pengendara favorit yg membuatnya nyaman sepanjang perjalanan,” kata Uki.
Pada ketika yg sama, CEO dan co-founder Anterin Imron Hamzah, juga mengklaim kalau transportasi adalah solusi utama buat kota pintar yg mandiri di masa depan.
“Karenanya, Anterin adalah besutan teknologi digital dan aplikasi mobile yg mumpuni dan yaitu karya bangsa kita, juga dibangun dengan modal sendiri dari anak-anak muda Indonesia,” ungkap Imron.
Anterin didirikan sejak 2015 dan mulai mengaspal akan April 2018. Saat ini, aplikasi Anterin telah tersedia di toko aplikasi Android, Google Play Store.
“Aplikasi Anterin telah ada dari 2015. Jaketnya beda sendiri, berwarna biru. Makanya sekarang mau kalian bangun dan populerkan. Anterin ini produk nasional negeri kita,” ujar Heru.
Anterin sendiri memberi pernyataan bahwa telah ada 50.000 driver yg bersiap jadi mitra. Pertemuan dengan antara Anterin dan Uber pun mulai langsung melancarkan naiknya salah sesuatu startup ride-sharing ini menantang yg telah ada. Direncanakan, meeting antara Anterin dan perwakilan driver Uber dilaksanakan hari ini (1/4).
Sumber:Liputan6.com
[idc]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

