Banyumas Raya

Redmond – Ratusan karyawan Microsoft dilaporkan sudah menandatangani surat yg memrotes kontrak senilai US$480 juta antara raksasa teknologi itu dengan Angkatan Darat AS.
Microsoft pada November tahun dulu menerima kontrak dari Angkatan Darat AS bagi memasok headset augmented-realty (AR) yg mulai digunakan di medan perang.
Menurut ketentuan kesepakatan itu, headset AR yg menempatkan gambar holografik ke dalam bidang visi pemakainya, mulai diadaptasi bagi kepentingan militer guna mendeteksi musuh.
“Kami adalah koalisi global pekerja Microsoft, dan kalian menolak bagi menciptakan teknologi bagi perang dan penindasan,” demikian salah sesuatu poin dari isi surat protes tersebut, seperti dikutip NBC, Minggu (24/2/2019).
Surat protes yg dibubuhi nama dan tanda tangan ratusan karyawan itu juga dipublikasikan di papan pesan internal perusahaan dan diedarkan melalui email ke semua karyawan Microsoft pada Jumat dahulu (22/2/2019).
“Kami khawatir bahwa Microsoft berupaya menyediakan teknologi senjata kepada militer AS, menolong pemerintah sesuatu negara ‘meningkatkan kematian memakai alat yg kita buat,” kata surat itu.
Surat yg ditujukan kepada CEO Microsoft Satya Nadella dan President & Chief Legal Officer Microsoft Brad Smith itu mencatat bahwa perusahaan teknologi tersebut sebelumnya sudah melisensikan teknologi kepada militer, termasuk HoloLens bagi digunakan dalam pelatihan, tapi belum pernah sebelumnya ‘melewati batas’ dalam pengembangan senjata.
Sumber: http://teknologi.inilah.com
BanyumasRaya.com

