Banyumas Raya

Jakarta – Sungguh disayangkan, upaya penanggulangan stunting di Indonesia masih amburadul.
Masalah stunting masih menjadi momok dan Pekerjaan Rumah (PR) buat Indonesia. Menurut Penelitian yg dikerjakan Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM, pada 300 anak usia 1-3 tahun di Jakarta, memamerkan sekitar 76,7 persen dari mereka mengkonsumsi protein yg rendah.
Kemudian, merujuk dari hasil Riskesdas 2010 yg menunjukkan bahwaanak usia 6 – 23 bulan, cuma 38,25 persen yg konsumsi daging dan telur. Kemudian, sekitar 37,2 persen konsumsi susu.
Melihat hal tersebut, penanganan persoalan stunting masih banyak ditekankan suplementasi vitamin dan mineral (mikronutrisi). Padahal, yg harus diperbaiki lebih dahulu adalah makronutrisi (lemak, karbohidrat, protein), baru ditambahkan mikronutrisi.
Pemberian biskuit, suplemen zat besi, vitamin A, yodium, tak berpengaruh dalam pencegahan dan penanggulangan weight faltering dan stunting.
Sekian banyak uang negara dibelanjakan secara tak tepat guna, padahal seharusnya mampu dialihkan bagi yg lebih tepat.
“Misalnya, kalian dapat mengundang chef ke suatu daerah, dulu ajarkan ibu-ibu masak memakai bahan setempat,” kata Dr. dr. Damayanti, Jakarta, baru – baru ini.
Tren memberikan puree buah dan sayur juga meningkatkan risiko anak mengalami weight faltering. Sayur dan buah tetap perlu dikenalkan sejak dini, tetapi cukup sedikit saja.
Sayur dapat ditambahkan pada MPASI, dan buah bagi snack. Sayur dan buah mengandung serat tinggi.
Bila terlalu banyak, mulai membuat bayi cepat kenyang, mengingat ukuran lambung bayi masih sangat kecil.
“Bila bayi kenyang dengan serat, asupan nutrisi yg yang lain jadi tak terpenuhi,” jelas Dr. dr. damayanti.
Terlalu tinggi serat juga membuat bayi sembelit. Selain itu, serat juga mampu mengganggu penyerapan nutrisi tertentu. Sehingga, asupannya perlu dibatasi, tak perlu berlebihan. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

