Banyumas Raya

– Louis Daguerre mungkin tidak pernah menyangka bahwa penantiannya selama 10 menit demi memotret pemandangan kota Paris justru menjadi momen yg tercatat indah dalam sejarah.
Menurut laman MyModernMet.com pada Jumat (5/5/2017), kala itu Louis hendak memotret kawasan Place de la Republique di ibu kota Perancis itu. Ia membutuhkan waktu setidaknya 10 menit sampai gambar terekam sempurna. Tak diduga, ketika itulah ada orang lewat dan tidak sengaja terpotret.
Foto yg diambil pada 1839 tersebut menjadi foto pertama dengan manusia sebagai obyeknya.
Foto ini dipotret oleh Louis Daguerre dari jendela rumahnya dan diberi caption huit heure du matin (8 am).Sejak ketika itu, tren berfoto dengan manusia sebagai obyeknya selalu berkembang. Gaya dalam berfoto pun berbeda pada tiap zamannya.
Rupanya kemajuan teknologi, khususnya dalam fotografi, ditengarai turut memengaruhi gaya berfoto kita.
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa orang zaman lalu tak berpose, bahkan sekadar tersenyum ketika difoto? Coba tengok kembali foto lama punya keluarga Anda.
Gaya kaku dengan muka tegang dan raut serius pada foto zaman dahulu bukannya tanpa alasan. Banyak pendapat mengenai hal ini. Salah satunya adalah kemampuan kamera yg begitu lama dalam mengambil gambar.
Bayangkan, pada abad ke-19, orang harus menahan pose yg tak sebentar hingga akhirnya gambar mampu terekam sempurna. Seperti halnya Louis yg menunggu hingga 10 menit lamanya.
Terlebih lagi, tak adanya teknologi pengatur waktu sehingga mereka tak tahu pasti berapa lama sesi foto dapat selesai.
“Jika Anda mulai menahan waktu cukup lama buat berfoto, tentu Anda mulai memilih pose yg paling nyaman,” kata Todd Gustavson, seperti dikutip dari laman Time, Senin (28/10/2016).
Todd adalah kurator teknologi di Museum George Eastman, museum fotografi tertua yg berlokasi di kota New York, Amerika Serikat.
Jadi, daripada tersenyum, mereka cenderung mengambil pose yg paling nyaman dan terkesan datar, bahkan kelihatan terlalu serius.
Hal ini pula yg kelihatan di wajah presiden ke-enam Amerika Serikat (AS), John Quincy Adams—presiden pertama di dunia yg diabadikan dalam foto.
Masih menurut laman MyModernMet.com, foto presiden pertama itu diambil di rumahnya di Massachusetts pada 1843, empat belas tahun setelah ia menunaikan tugasnya sebagai presiden AS.
Makin cepat dan bergaya
Memasuki akhir abad ke-19, teknologi fotografi kian berkembang. Hal ini ditandai dengan lahirnya kamera film yg diproduksi oleh George Eastman.
Berkat kamera Eastman yg berbentuk jauh lebih kecil daripada kamera sebelumnya, juga murah dan gampang dioperasikan, fotografi menjadi semakin populer. Tidak lagi cuma punya kaum elite, fotografi sudah menjadi hobi kalangan kelas menengah.
Ilustrasi kamera, sejarah kamera, evolusi kameraDalam hitungan detik, kamera film membuat gambar terekam sempurna. Bukan sekadar sempurna, hasil foto yg ditangkap juga semakin jernih berkat lensa yg mumpuni.
Salah sesuatu produsen kamera yg turut andil dalam perkembangan fotografi adalah Zeiss. Pada 1935 misalnya, perusahaan yang berasal Jerman ini berhasil menciptakan lensa yg mampu mengaktifkan fitur foto jernih bagi pertama kalinya.
Mengutip laman Zeiss.com Sabtu (21/3/2015), lensanya memakai lapisan anti-refleksi guna menghalau cahaya yg berlebihan dan refleksi yg mengganggu.
Penyempurnaan fitur-fitur kamera akhirnya turut mengubah pose seseorang ketika dipotret. Gaya dalam berfoto semakin tereksplorasi, meninggalkan gaya dengan raut muka tegang dan serius. Ide bagi menyampaikan “cheese” ketika berfoto pun lahir pada era ini.
Laman TodayIFoundOut pada Selasa (2/4/2013) mewartakan, ungkapan ini pertama kali muncul sekitar 1940-an.
Menurut artikel pada 1943 di surat kabar Texas, The Big Spring Herald, memang tak diketahui secara pasti siapa penggagas dan alasan pengucapan “cheese” ketika berfoto. Namun, yg jelas ungkapan ini mulai membuat bibir kalian tersenyum ketika mengucapkannya.
Penyebutan gugus konsonan “ch” mulai membuat gigi atas dan bawah menyatu. Sementara itu, pelafalan vokal “ee” mulai melibatkan gerak bibir sehingga menghasilkan ekspresi wajah yg menyerupai senyum.
Pose-pose luwes lainnya selalu bermunculan di era itu. Kamera film yg gampang dioperasikan juga kemudian menjadi tonggak munculnya teknologi yang lain yg lebih canggih, seperti kamera digital, DSLR, juga mirrorless.
Namun, memasuki tahun 2000-an, kamera bukan lagi menjadi satu-satunya alat bagi berfoto. Sebab, telepon seluler (ponsel) berinovasi dengan menghadirkan kamera di dalamnya.
Berfoto menjadi semakin gampang dilakukan. Semakin banyak pula gaya yg dapat ditampilkan, baik berfoto sendiri, maupun beramai-ramai. Semua momen seakan wajib diabadikan dalam bidikan karena kamera ponsel terus ada dalam genggaman.
Inovasi ponsel demi memanjakan pecinta fotografi kemudian menghadirkan teknologi kamera depan. Kamera ini memungkinkan pengguna buat memfoto obyek sekaligus melihat hasilnya di layar sehingga pengguna tak perlu lagi membalikkan kamera saat memfoto diri sendiri (swafoto).
Ilustrasi selfie/foto keluargaGaya yg dieksplorasi mampu semakin variatif karena perangkat yg digunakan juga semakin gampang dioperasikan. Terlebih lagi, dengan adanya teknologi pengatur waktu atau penangkapan gambar dengan sensor lambaian.
Keberadaan beberapa kamera dalam sesuatu perangkat ini akhirnya semakin memudahkan pengguna ketika memfoto sebuah obyek. Tinggal pilih kamera mana yg mulai dipakai sesuai kebutuhan.
Namun, di “zaman now”, teknologi memungkinkan pengguna buat menggunakan kedua kamera ini sekaligus. Pecinta fotografi dapat mengabadikan momen di kedua sisi secara bersamaan, baik di depan kamera maupun di belakang kamera ponsel.
Fitur bothie Nokia 8 menyajikan tangkapan kamera depan dan belakang dalam sesuatu layar (frame). Nokia 8 juga mendukung live streaming dalam mode bothie ini ke YouTube dan Facebook.Pada ponsel Nokia 8, misalnya. Pengguna tidak perlu bingung memilih bagi menangkap momen di salah sesuatu sisi saja. Mode Dual-Sight pada kamera ini mulai menyajikan tangkapan gambar dari kamera depan dan kamera belakang dalam sesuatu frame atau yg lebih dikenal dengan istilah “bothie”.
Jika dengan sesuatu kamera saja pengguna telah mampu bereksplorasi dengan banyak gaya, bayangkan ketika kedua kamera mampu aktif bersama.
Lupakan telah gaya dengan wajah kaku dan serius seperti halnya foto zaman dulu. Fitur “bothie” dalam Nokia 8 yg didukung oleh lensa Zeiss ini justru mulai membuat gaya foto semakin fun sehingga bersiap eksis ketika diunggah ke media sosial.
Sumber: http://tekno.kompas.com
BanyumasRaya.com

