Banyumas Raya

– Pada Maret lalu, bocoran e-mail internal Go-Jek bocor ke media massa. Isinya memperlihatkan rencana layanan ride-sharing lokal tersebut buat “go global”.
Lantas pada awal April 2018, pimpinan dewan majelis rendah Filipina, Luis Campos, secara terang-terangan mengundang Go-Jek buat melebarkan sayap ke negerinya. Hal ini menyusul hengkangnya Uber dari Asia Tenggara karena diakuisisi Grab.
Pemerintah Filipina khawatir posisi Grab semakin dominan di negara-negara rumpun padi dan memicu monopoli. Pasalnya, pemain ride-sharing lokal di Filipina (Hype Transport Systems Inc, HirNa Mobility Solutions Inc, Golag Inc) dianggap belum milik daya saing yg tinggi bagi berkompetisi dengan Grab.
Dua indikasi itu diperkuat pengakuan baru dari Aileen Lizada, yakni anggota dari regulator bidang transportasi di Manila, Filipina. Ia sesumbar pihaknya dan perwakilan Go-Jek bakal bertemu minggu depan.
Hingga kini Go-Jek masih enggan mengonfirmasi rencana ekspansinya ke luar Indonesia secara umum, maupun rencananya bertemu regulator Filipina secara khusus, sebagaimana dihimpun Tekno, Senin (23/4/2018), dari Reuters.
Baca juga : Berapa Jumlah Pengguna dan Pengemudi Go-Jek?
Yang jelas, seandainya memang Go-Jek hendak bersaing di luar kandang, modalnya mampu dibilang cukup besar. Layanan yg didirikan Nadiem Makarim tersebut dibekingi banyak investor asing yg milik posisi kuat, antara yang lain Google Alphabet, Meituan-Dianping, Temasek, hingga JD.com.
Pada seri pendanaan terbarunya, Go-Jek menghimpun sekitar 1,2 miliar dollar AS atau Rp 16 triliun secara kolektif, dari investor existing maupun yg anyar. (Baca juga : Modal Triliunan Rupiah dari Astra dan Djarum Dipakai Apa oleh Go-Jek?)
Sumber: http://tekno.kompas.com
BanyumasRaya.com

