Banyumas Raya

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, baru saja bertemu dengan perwakilan Facebook Indonesia. Dalam pertemuannya itu, ia meminta pihak Facebook melakukan beragam langkah.
- Sore ini, Menkominfo bertemu perwakilan Facebook bahas bocornya data pengguna
- Facebook harus jelaskan data apa saja yg bocor
- Menkominfo panggil Facebook jelaskan masalah kebocoran data
Salah satunya, mematikan aplikasi-aplikasi yg dikerjasamakan Facebook dengan pihak ketiga. Terutama yg berkaitan dengan adanya kuis-kuis personality tes yg kerap muncul di media sosial besutan Mark Zuckerberg itu.
“Matiin lalu jangan boleh ada di Indonesia,” jelasnya kepada awak media ketika melakukan meeting dengan perwakilan Facebook Indonesia di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Kamis (5/4).
Setelah itu, ia juga meminta dengan langsung hasil audit yg mulai dikerjakan oleh Facebook yg dikerjasamakan dengan pihak ketiga. Hal ini guna diketahui adakah penyalahgunaan data yg dikerjakan oleh Facebook. Langkah ini juga sejalan dengan rencana Facebook sendiri terkait audit tersebut.
“Saya minta hasil dari audit yg mulai dikerjakan Facebook atas aplikasi-aplikasi yg dikerjasamakan dengan pihak ketiga. Jangan sampai nanti terdampak kepada masyarakat kita,” katanya.
Hasil dari audit yg dilakukannya oleh Facebook, dikatakan Public Policy Lead Ruben Hattari, belum diketahui kapan selesainya. Hal itu tergantung dari audit yg sudah dikerjakan oleh Facebook internasional.
“Ya, kalian sih selalu melakukan audit dan koordinasi dengan Facebook pusat dan kami terus membuka communication channel dengan Pak Rudiantara. Untuk tanggal pastinya kapan, ya aku belum ada kepastian,” terangnya.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan siaran pers Facebook, Rabu (4/4), mereka mengakui bahwa terdapat 87 juta data yg dimungkinkan disalahgunakan oleh CA.
Dari 87 juta data yg kebobolan, sebagian besar adalah pengguna Facebook dari Amerika Serikat atau sekitar 81,6 persen data disalahgunakan. Selain Amerika Serikat, ada dua negara termasuk Indonesia.
Indonesia masuk urutan ketiga data yg disalahgunakan. Sekitar 1,3 persen dari 87 juta. Di atas Indonesia, ada Filipina yg kemungkinan besar penyalahgunaan data pengguna dari negeri itu sekitar 1,4 persen. Selain ketiga negara itu di antaranya Inggris, Mexico, Kanada, India, Brazil, Vietnam, dan Australia. [idc]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

