Banyumas Raya

New York – Pemerintah China memperingatkan perusahaan teknologi besar, termasuk Microsoft dan Dell dari AS serta Samsung dari Korea Selatan, bahwa mereka mulai menghadapi konsekuensi yg mengerikan seandainya menuruti larangan administrasi yg diberlakukan oleh Pemerintah AS.
Menurut New York Times, peringatan itu disampaikan dalam meeting yg digelar minggu lalu, setelah Beijing mengumumkan sudah membuat daftar perusahaan dan individual yg ‘tak mampu dipercaya’, yg dianggap sebagai cara buat membalas pemerintahan Donald Trump karena menetapkan rantai penjualan Huawei di AS.
Pembuat semikonduktor ARM dari Inggris dan SK Hynix dari Korea Selatan, juga diundang dalam rapat tersebut.
Berdasarkan sumber ‘orang dalam’, New York Times melaporkan, meeting dipimpin oleh Badan Perencanaan Ekonomi Pusat China, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China, serta turut dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China, yg mengatakan sambutan kepada sejumlah perusahaan yg mengekspor barang ke China.
Keterlibatan tiga badan pemerintah China memperlihatkan adanya koordinasi tingkat tinggi dan kemungkinan persetujuan dari pimpinan paling atas. Intervensi itu sepertinya dirancang bagi menggalang dukungan untuk Huawei, meski perusahaan itu tak secara khusus disebutkan.
Juru bicara Microsoft, Dominic Carr, menolak mengomentari meeting tersebut, demikian juga dengan perwakilan bagi ARM, Phil Hughes, dan juru bicara Dell, Dave Farmer. Perwakilan bagi Samsung dan SK Hynix pun tak menanggapi permintaan komentar dari New York Times.
Larangan pada Huawei bulan dulu mengejutkan banyak orang, karena menyerang segera jantung ambisi teknologi China. Kini, kedua negara adidaya itu sepertinya membuat ‘senjata baru’ buat membidik sesuatu sama lain.
“Situasi sekarang sangat rumit karena administrasi Trump, melalui taktik brinkmanship-nya, sudah mengacaukan segala hubungan, komersial dan sebaliknya,” kata Scott Kennedy, penasihat senior di Pusat Studi Strategis dan Internasional yg berbasis di Washington yg mempelajari kebijakan ekonomi China.
Sementara itu, kepala geoteknologi di konsultan Grup Eurasia, Paul Triolo, menuturkan ada persepsi kuat di Beijing bahwa Pemerintah AS berniat menumpulkan naiknya teknologi China. Menurut dia, konfrontasi antara kedua negara besar itu memiliki implikasi politik besar buat Presiden China Xi Jinping
Presiden Xi dan partainya mulai dianggap tak dapat mempertahankan masa depan ekonomi China seandainya konfrontasi dengan AS menghancurkan Huawei dan menghempaskan rencana peluncuran teknologi nirkabel 5G, tambah Triolo.
Secara lebih luas, peringatan yg dibuat China itu juga sepertinya yaitu upaya bagi mencegah putusnya rantai pasokan yg menghubungkan ekonomi China ke semua dunia.
Produksi beragam komponen elektronik dan bahan kimia, bersama dengan perakitan produk elektronik, menjadikan negara itu sebagai fondasi operasi banyak perusahaan multinasional terbesar di dunia.
Karena hubungan perdagangan antara AS dan China sudah rusak, ada peningkatan kekhawatiran di China bahwa perusahaan-perusahaan besar mulai memindahkan produksi ke tempat yang lain bagi menghindari risiko jangka panjang.
Sumber: http://teknologi.inilah.com
BanyumasRaya.com

