Yudo Achilles Sadewa, putra Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, menilai saham-saham yang berada di bawah Grup Bakrie dan Grup Hapsoro memiliki peluang menjadi multibagger pada 2026.
Pandangan tersebut disampaikan Yudo dalam Podcast Cuap Cuap Cuan. Ia menilai kinerja saham-saham dari kedua grup tersebut sudah berada pada level yang menarik, setidaknya hingga kuartal II atau kuartal III tahun 2026, terutama karena adanya dorongan menuju masuknya saham-saham tersebut ke dalam indeks MSCI.
“Kalau menurut saya, saham-sahamnya Pak Bakrie atau Pak Hapsoro itu sudah cukup solid. Sampai kuartal dua atau tiga 2026 masih oke, apalagi ada target masuk MSCI,” ujar Yudo, dikutip Jumat (2/1/2026).
Dari sisi sektoral, Yudo menyoroti saham pertambangan emas sebagai salah satu kandidat multibagger pada 2026. Ia menilai tren harga emas dan perak yang terus menanjak akan menjadi katalis positif bagi saham-saham di sektor tersebut.
Menurutnya, pergerakan saham komoditas cenderung mengikuti kenaikan harga aset dasarnya. Dalam kondisi harga emas dan perak yang meningkat, potensi keuntungan di saham dinilai bisa lebih besar dibandingkan hanya memegang komoditas fisik.
Sebaliknya, saham pertambangan batu bara dinilai memiliki peluang yang lebih terbatas untuk memberikan keuntungan berlipat, khususnya pada kuartal pertama 2026.
Untuk sektor perbankan, Yudo menyebut saham-saham bank besar atau blue chip seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) tetap layak dipertimbangkan sebagai aset koleksi jangka menengah hingga panjang. Meski demikian, ia mengakui bahwa laju imbal hasil saham-saham tersebut relatif lambat.
“Kalau perbankan, menurut saya saham-saham blue chip seperti BCA, BRI, Mandiri, itu return-nya pelan, tapi cukup aman dan oke untuk dikoleksi,” kata Yudo.
Lebih lanjut, Yudo juga menyinggung saham bank digital sebagai instrumen investasi berisiko tinggi. Ia mencontohkan saham PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) yang baru melantai di bursa dan sempat mengalami euforia dengan kenaikan harga hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA), sebelum akhirnya berbalik turun dan terkena auto rejection bawah (ARB).
Ia menilai fenomena tersebut mencerminkan tingginya volatilitas saham IPO, khususnya di sektor perbankan digital. Oleh karena itu, Yudo menyarankan investor untuk menerapkan manajemen risiko yang ketat, salah satunya dengan memasang trailing stop sebesar 5 persen.
Fitur tersebut memungkinkan sistem secara otomatis mengirimkan perintah jual ketika harga saham turun hingga menyentuh batas yang telah ditentukan, sehingga potensi kerugian dapat dikendalikan.


