Banyumas Raya
Jakarta (ANTARA News) – Pemerintah pada ketika ini sedang berfokus dalam mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik yg lebih ramah lingkungan ketimbang mobil bermesin bakar konvensional.
Pada 2020, kendaraan emisi karbon rendah (Low Carbon Emission Vehicle/LCEV) diharapkan berkontribusi sebanyak 10 persen terhadap produksi dalam negeri. Selanjutnya pada 2025 mulai naik menjadi 20 persen atau 400ribu dari populasi market domestik yg diproduksi sebanyak 2juta unit, sebelum menyentuh 35 persen pada 2035.
Langkah tersebut tak terlepas dari komitmen Pemerintah Indonesia dalam menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca (CO2) sebesar 29 persen pada 2030, sekaligus menjaga energi khususnya di sektor transportasi darat. Apalagi, industri otomotif berkontribusi cukup signifikan buat perekonomian nasional.
Untuk mendorong industri otomotif di Indonesia agar berinvestasi memproduksi kendaraan listrik, pemerintah pun menjanjikan pemberian insentif lewat regulasi baru. Kemenperin mengusulkan kepada Kementerian Keuangan mengenai pemberian insentif terhadap pengembangan program LCEV, yg di dalamnya termasuk kendaraan listrik.
Toyota Indonesia melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) berkomitmen mendukung pemerintah bagi membangun industri mobil listrik dalam negeri. Toyota yaitu salah sesuatu perusahaan Jepang yg paling lama menanamkan investasinya di Indonesia yakni sejak 1971.
Presiden Direktur PT TMMIN Warih Andang Tjahjono (tengah) dan Kepala Divisi Hubungan Eksternal Teguh Trihono ketika wawancara khusus dengan media Indonesia di Tokyo, Sabtu (28/7/2018). (ANTARA News/Monalisa)
Dalam sebuah wawancara khusus dengan Antara dan sejumlah media Indonesia di Tokyo, Sabtu (28/7) lalu, Presiden TMMIN Warih Andang Tjahjono berbicara banyak mengenai peran perusahaan dalam kontribusinya bagi membangun industri Indonesia termasuk dalam hal kendaraan listrik.
“Ke depan, kendaraan listrik itu keharusan. No choice. Pasti ke situ,” kata Warih.
Bahan bakar fosil, lanjutnya, mulai habis. “Pasti nantinya energi terbarukan. Pertanyaannya adalah, bagaimana kalian mempersiapkan itu sebaik-baiknya.”
Ia menekankan bahwa Indonesia harus mampu membangun industri mobil listrik di dalam negeri, bukan mengimpor berbagai komponen pendukungnya.
“Kita harus menyiapkan tenaga kerja kita. Untuk memiliki daya tawar kuncinya ada pada sumber daya manusia, people, people, people,” ujarnya.
Baca juga: Peran kebudayaan dalam hubungan diplomatik Indonesia-Jepang
Baca juga: Luhut minta industri mobil listrik dibangun Bekasi-Karawang-Purwakarta
Empat pilar penting
Menurut Warih, ada empat pilar penting yg harus dipersiapkan agar sukses menuju era kendaraan listrik, antara yang lain supply chain (rantai pasok meliputi seluruh aktivitas penyaluran barang produksi hingga ke konsumen), infrastruktur, regulasi pemerintah, dan konsumen.
“Keempat pilar tersebut menjadi pekerjaan rumah yg harus diselesaikan lebih dahulu. Semua harus barengan siapnya,” kata Warih.
Kendaraan listrik murni atau hibrida memakai tiga komponen utama, yakni motor penggerak, baterai, dan inverter. Maka mulai terjadi perubahan kebutuhan komponen. sementara kebanyakan industri komponen tier 3 dan tier 2 adalah pengusaha dengan modal terbatas.
“Supply chain ini kalian persiapkan karena sebenarnya komponen kita (Toyota) itu 70 persen dari supply chain. Kami cuma mengelola (in house) 30 persen. Kami harus mempersiapkan mereka agar bersiap dengan perubahan yg terjadi karena komponen berubah,” ungkap Warih.
“Jadi mulai ada perubahan supply chain itu, kalau hitung-hitungan teori 30 persen. Sekarang bagaimana menyiapkan supplier-supplier itu bagi mengubah bisnisnya. Tadinya bagi apa, sekarang bagi apa. Harus mikir bareng-bareng karena menyangkut ketenagakerjaan juga,” tambahnya.
Warih menegaskan, ketika era kendaraan listrik, para pengusaha rantai pasok tetap mampu terlibat. Berdasarkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), mobil konvensional secara rata-rata memakai 3.000 komponen, sedangkan kendaraan listrik cuma membutuhkan 200 suku cadang.
“Maka TMMIN dan pabrik-pabrik yang lain sedang engage bersama supplier-supplier ini. Bagaimana supaya ke depan sama-sama hidup,” ujar Warih.
Ia melanjutkan, hal yang lain yg harus dipersiapkan adalah isu sumber daya manusia, teknologi, dan produktivitas.
“Supaya industri komponen kuat, bukan cuma perakitan. Kalau industri komponen tak kuat, nanti impor, impor, impor. Nanti depresiasi rupiah teriak lagi,” ujarnya.
Salah sesuatu kendaraan konsep yg dipamerkan di Toyota Mega Web, Odaiba, Tokyo. (ANTARA News/Monalisa)
Tidak seperti mobil konvensional, kendaraan listrik memakai baterai sebagai tenaga penggerak. Warih mengatakan, industri komponen dalam negeri harus didorong memproduksi baterai yg digunakan sebagai sumber energi kendaraan listrik.
Menurut Warih, Indonesia memiliki sumber bahan baku buat pembuatan komponen baterai, seperti nikel murni di Morowali dan Halmahera serta kobalt di Bangka.
“Kita harus memanfaatkan natural resources itu buat menjadi industri komponen baterai. Baterai itu kan ada ratusan part, nah bagaimana menghubungkan ratusan part itu dengan natural resources kita. Kita harus mendorong supaya industri ini ada di Indonesia, secara teori pasti kompetitif, kalau kalian kompetitif pasti dapat supply chain secara global,” jelas Warih.
Baca juga: Untuk mobil listrik, investor baterai yang berasal China-Perancis siap “groundbreaking”
Baca juga: BPPT sumbang pengisi daya mobil listrik nasional
Dukungan regulasi
Agar teknologi baterai mobil listrik dapat didorong di dalam negeri, lanjut Warih, pemerintah harus mengeluarkan regulasi yg mempermudah penanaman investasi yg menarik investor.
“Orang yg mampu bikin ini kan negara-negara maju, kalau kalian disuruh mikirin teknologinya dari nol, selesainya kapan. Suruh investor masuk. Caranya? dengan regulasi yg kompetitif dibanding negara-negara lain,” kata Warih.
Kemudahan yg mampu diberikan pemerintah, yakni tax allowace, tax holiday, fasilitas tarif bea masuk, dan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP).
“Setelah itu, regulasi yg baru ini harus kami sosialisasikan ke negara-negara yg milik teknologi ini. ‘Saya milik natural resources loh! Saya milik industri yg bagus loh! please come!’ lebih bagus lagi kalian milik biro jodoh ‘kalau lo dateng ke negeri gue, lo mulai gue partner-in ke siapa, siapa, siapa’,” papar Warih.
Perusahaan patungan atau joint venture, menurut Warih, menjadi jalan keluar yg paling realistis.
“Karena sebenarnya orang ‘merebut’ teknologi dengan joint venture, kalau kami involved pasti tahu lebih banyak,” ujarnya.
Warih mengatakan, apabila tak cepat-cepat mempersiapkan industri komponen baterai di dalam negeri, maka mulai didahului negara-negara tetangga yg juga bersaing sebagai sumber bahan baku komponen baterai seperti Thailand, Vietnam, Burma, Malaysia, India, dan Taiwan.
Jika baterai yg menjadi komponen vital dalam pengembangan kendaraan listrik dikuasai, maka Indonesia mulai gigit jari seandainya cuma menjadi pasar buat negara lain. “Industri harus di Indonesia, tak boleh natural resources kami diambil tetapi tak diproduksi di sini,” tegas Warih.
Baca juga: Aturan insentif mobil listrik keluar Agustus
Tantangan lain
Ilustrasi – Mobil listrik Toyota FT. (https://commons.wikimedia.org/)
Baterai sebagai sumber energi kendaraan listrik mampu diisi ulang melalui sistem kerja mesin bensin serta disambungkan ke sumber daya (plug-in). Teknologi tersebut membutuhkan infrastruktur seperti stasiun pengisian listrik umum (charging station).
Menurut Warih, hal itu utama guna memastikan masyarakat bisa menggunakan kendaraan listrik dengan gampang dan nyaman.
“Kalau teknologi sekarang telah berkembang — misal charging time — lalu menghabiskan waktu tiga jam, tetapi kalau tiga jam kelamaan lah. Bagaimana supaya cepat? Itu harus ada perubahan teknologi. Sekarang ada negara yg mengisi baterai mobil listrik-nya telah cepat, misal di Jerman, mampu charge 30 menit bagi menempuh jarak 70 km,” jelas Warih.
Selain itu, mobil listrik biasanya memakai baterai Lithium Ion yg memiliki limbah yg berbahaya bila telah digunakan atau tak terpakai, sehingga Indonesia harus bersiap menerapkan teknologi daur ulang pada baterai macam itu.
“Tantangan lainnya mengolah teknologi-teknologi baru ini setelah rusak, mengelola limbah baterai,” kata Warih.
Ia memberi contoh, seandainya 2025 ada sekitar 400ribu kendaraan listrik, maka ada ratusan ribu mobil listrik yg harus dikelola.
“Servis-nya, kalau biasanya servis mobil sekitar beberapa jam selalu kalau servis mobil listrik lebih dari beberapa jam ya kalian males beli. Terus penampungan limbah baterainya bagaimana. Ukuran baterainya juga harus dipikirkan jangan terlalu besar dan berat, mobil kalau terlalu berat kan tak enak. Itu juga tantangan-tantangannya,” papar Warih.
Baca juga: Jepang cuma produksi mobil listrik dan hibrida pada 2050
Sosialisasi dan edukasi
Sebelumnya, Toyota Indonesia menyerahkan enam unit Toyota Prius, enam unit Prius Prime (Plug-in Hybrid), serta enam Corolla Altis kepada Kementerian Perindustrian yg kemudian diserahkan ke enam universitas bagi diriset guna mengetahui seberapa besar peluang memasarkan kendaraan listrik.
“Tujuan penting studi ini adalah konsumennya. Bagaimana memperkenalkan kendaraan listrik ke konsumen. Supaya ada pikiran di konsumen bahwa kendaraan listrik itu enak juga meningkatkan penerimaan dari konsumen. Karena sebenarnya yg paling utama dari kendaraan listrik itu adalah marketnya ada,” kata Warih.
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono (ketiga kiri) didampingi Presiden Direktur PT Toyota-Astra Motor (TAM) Yoshihiro Nakata (kedua kiri) dan Wakil Presdir TAM Henry Tanoto (kiri), menyaksikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kedua kanan) menyerahkan secara simbolis kunci mobil elektrifikasi Toyota kepada Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Widodo Muktiyono pada kick-off Riset Komprehensif Electrified Vehicle dengan Melibatkan Perguruan Tinggi, di Jakarta, Rabu (4/7/2018). (ANTARA /Audy Alwi)
Masih banyak masyarakat yg asing terhadap kendaraan listrik dan ragu-ragu karena cuma mampu menempuh jarak tertentu buat sekali mengisi baterai.
Oleh sebab itu, terkait kendaraan listrik ini, lanjut Warih, masyarakat harus diyakinkan dalam seluruh aspek, akan dari pengenalan kendaraan listrik, pos pengisian baterai, servis mobil dan bengkel, dan lainnya.
“Dulu kan pemikirannya kalau beli mobil automatic perawatannya susah, mahal, kalau aki habis tak dapat didorong dan sebagainya. Sekarang yg beli mobil automatic lebih banyak dibanding manual. Itu lah pentingnya edukasi ke konsumen,” tutur Warih.
“Kalau konsumen tak tahu, tak mulai beli. Kalau tak ada yg beli, tak ada market di Indonesia. Kalau di Indonesia tak ada market, maka tak ada industri. Analogi itu lah yg membuat kami ngomong bahwa konsumen adalah pilar yg penting, yg harus pertama kami pikirkan,” tambah Warih.
Baca juga: Soal mobil listrik, jangan samakan Indonesia dengan negara Eropa
Baca juga: Toyota sediakan 12 Prius buat penelitian mobil listrik pemerintah
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © 2018
Sumber: http://www.antaranews.com
BanyumasRaya.com

