Curhatan seorang pelaut Indonesia viral di media sosial setelah mengaku bertemu kapal tanker milik Pertamina di kawasan Selat Hormuz. Dalam unggahan tersebut, ia mengaku terkejut karena seluruh kru kapal disebut berasal dari India, tanpa satu pun warga negara Indonesia (WNI).
Pelaut bernama Adrian Umar itu membagikan pengalamannya saat berpapasan dengan kapal tanker bernama Gamsunoro pada 18 April 2026.
Momen Pertemuan di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Dalam video yang beredar, Adrian awalnya mengaku antusias karena bertemu kapal berbendera Indonesia di tengah situasi geopolitik yang memanas di kawasan Selat Hormuz.
Seperti diketahui, wilayah tersebut tengah terdampak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya, sehingga sejumlah kapal, termasuk milik Pertamina, dilaporkan mengalami hambatan pelayaran.
Namun, rasa bangga Adrian berubah menjadi kaget setelah mencoba berkomunikasi dengan kru kapal.
“Kru India, pemiliknya orang Indonesia tapi krunya India,” ujar salah satu kru dalam percakapan yang direkam.
Tidak Ada Kru Indonesia
Adrian kemudian memastikan kembali apakah ada kru asal Indonesia di kapal tersebut. Jawaban yang diterima membuatnya semakin terkejut.
“Negatif, tidak ada orang Indonesia, semuanya India,” lanjut kru kapal.
Fakta tersebut memicu kekecewaan Adrian. Ia mengaku awalnya berharap bisa berinteraksi dengan sesama pelaut Indonesia di tengah situasi sulit di perairan internasional.
Soroti Nasib Pelaut Indonesia
Dalam pernyataannya, Adrian mempertanyakan mengapa kapal milik perusahaan nasional tidak melibatkan tenaga kerja dalam negeri, padahal Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah pelaut besar di dunia.
“Indonesia punya sekitar 1,4 juta pelaut, kita termasuk tiga besar dunia untuk non-perwira,” ujarnya.
Ia juga menilai fenomena ini menjadi salah satu alasan banyak pelaut Indonesia memilih bekerja di perusahaan asing.
Kritik untuk BUMN dan Pemerintah
Adrian menyampaikan kritik terbuka terhadap kebijakan perusahaan dan pemerintah terkait penggunaan tenaga kerja di sektor maritim.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menimbulkan ironi:
- Kapal milik Indonesia
- Dikelola perusahaan negara
- Namun tenaga kerjanya didominasi asing
“Perusahaan negara tapi tidak memberi ruang untuk anak bangsa,” kata Adrian.
Ia juga menyinggung pentingnya keberpihakan terhadap tenaga kerja lokal, terutama di sektor strategis seperti pelayaran dan energi.
Konteks Industri Pelayaran Global
Di sisi lain, penggunaan kru asing dalam industri pelayaran internasional bukan hal baru. Praktik ini kerap dilakukan karena:
- Standar sertifikasi global
- Efisiensi biaya operasional
- Ketersediaan tenaga kerja di pasar internasional
Meski demikian, isu minimnya keterlibatan pelaut lokal di kapal nasional tetap menjadi sorotan publik, terutama dalam konteks kedaulatan tenaga kerja.
Viralnya curhatan pelaut Indonesia ini membuka diskusi lebih luas terkait:
- Kebijakan ketenagakerjaan di sektor maritim
- Peran BUMN dalam menyerap tenaga kerja lokal
- Daya saing pelaut Indonesia di pasar global
Di tengah jumlah pelaut nasional yang besar, publik kini menunggu klarifikasi dan langkah konkret dari pihak terkait agar potensi sumber daya manusia Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal di industri sendiri.

