Banyumas Raya

Sampah rupanya menjadi persoalan menarik untuk perusahaan rintisan (startup) di Jawa Tengah. Meski terkesan bisnis remeh-temeh, rupanya sampah dipandang memiliki potensi atau peluang dari bisnis digital yg mampu dikembangkan secara masif di kemudian hari.
- Apple Developer Academy buktikan anak muda RI bertalenta di bidang teknologi
- IKM syariah didorong manfaatkan teknologi guna tingkatkan daya saing
- Wapres JK: Dampak negatif teknologi, hoaks berujung konflik sosial
- Ini ponsel paling murah sejagat, setara harga mie ayam semangkuk
- Menteri Rudiantara beberkan manfaat teknologi blockchain di bidang perpajakan RI
- Uji mencoba senjata paling mengerikan, manusia jadi kelinci percobaan
Tidak percaya? Lihat saja tiga startup yang berasal Jawa Tengah yg menjadi peserta The NextDev 2018 Talent Scouting seri kedua di Semarang pada Mei lalu. Tercatat ada tiga startup yg sama-sama ingin mengelola sampah di kotanya sekaligus menawarkan dampak sosialnya kepada masyarakat.

2018 Merdeka.com
Yuk, kalian mengenal lebih dekat tiga startup Semarang yg sama-sama menyodorkan solusi sosial persoalan sampah:
1. Litterasi.com
Startup yang berasal Temanggung ini menawarkan pengelolaan sampah dengan cara unik, yakni menukarkan sampah sekolah dengan buku. Buku tersebut nanti mampu dimanfaatkan bagi tidak mengurangi koleksi perpustakaan sekolah. Didirikan oleh Yanuar Jaka Permana dan Palupi Ika Wardani, Litterasi.com cenderung menyasar sekolah bagi mendapatkan sampahnya. Sampah tersebut memiliki poin yg dapat ditukar dengan buku, seandainya jumlah poinnya telah memenuhi. Misalnya, sampah kardus bekas memiliki 2.000 poin per kilogram, koran bekas 2.200 poin per kilogram, sampah botol plastik 3.000 per kilogram, gelas plastik 2.000 per kilogram, dan kertas HVS bekas 2.500 per kilogram. Sementara sesuatu buku minimal harus ditebus dengan 30 ribu poin, misalnya.
Menurut Yanuar, aplikasinya memfasilitasi sekolah menukarkan sampahnya dengan buku baru bagi perpustakaan, sehingga sekolah menjadi sekolah yg peduli lingkungan, sekaligus literasi. Cara kerjanya simpel, pihak sekolah memanggil penjemput sampah melalui aplikasi Litterasi.com, supaya sampah langsung diambil. Setelah sampah sekolah diambil, sekolah mulai mendapat poin yg tercatat di aplikasi. Poin yg dikumpulkan mampu digunakan bagi membeli buku yg dibutuhkan. Semua proses tersebut dikerjakan melalui aplikasi Litterasi.com.
2. Sampahmuda.com
Sesuai namanya, pengelolaan persoalan sampah secara digital ini dikerjakan para mahasiswa, antara yang lain Reanes Putra, sang CEO. Menurut Reanes, Sampahmuda adalah platform digital pengelolaan sampah, yg menghubungkan para penimbul sampah dengan pengelola sampah dan pabrik daur ulang sampah. Saat ini Sampahmuda.com sudah mengelola sampah sebanyak 42 ton di enam desa dan tujuh pabrik, seperti yg dipresentasikan ketika tampil sebagai peserta The NextDev Talent Scouting Semarang.
Reanes mengungkapkan seandainya target pasarnya adalah mahasiswa dan perusahaan pengelola sampah. Dari mereka lah, Sampahmuda.com mendapat komisi bagi mendanai operasional startup-nya. Sampahmuda juga bekerja sama dengan dua lembaga sosial bagi mendukung misi sosialnya, antara yang lain Yayasan Pertamina.
Seperti startup sampah lainnya, lewat aplikasi, Sampahmuda.com juga memakai sistem poin. Jadi sampah Anda mulai dihargai dengan poin. Semakin berat sampah Anda, semakin banyak poin yg Anda kumpulkan. Nah, poin yg dikumpulkan tersebut mampu Anda gunakan bagi belanja produk-produk menarik di Trashpoint. Seperti buat belanja pulsa telepon seluler, isi Go-Pay, membayar tagihan lisytik PLN, bahkan mebayar zakat.
3. Moretrash
Aplikasi digital pengelolaan sampah yg tidak kalah menarik adalah Moretrash. Devid, sang pendiri, mengungkapkan startup-nya khusus menyasarkan kampus dan mahasiswa dengan menawarkan solusi pengelolaan sampah.
“Mahasiswa tingkat akhir atau sedang menyusun skripsi biasanya memiliki sampah lebih banyak dari mahasiswa non-tingkat akhir. Apalagi mereka biasanya harus keluar dari kampus langsung sehingga mesti bersih-bersih,” ujar Denis yg mengaku mengembangkan aplikasi ini terinspirasi saudaranya yang berasal Solo yg terjun di bisnis sampah.
Untuk memasarkan jasanya, Moretrash memakai aplikasi percakapan LINE. Saat ini jumlah ordernya mencapai 100 order, dengan target pendapatan usaha di tahun pertama Rp 460 juta! Wow, tetapi begitulah keyakinan Devid ketika tampil di The NextDev Talent Scouting 2018 di Semarang, Mei lalu. Lebih jauh, Devid mengungkapkan seandainya pendapatan usahanya berasal dari komisi yg ditetapkan sebesar 20 persen dari setiap kurir sampah yg dikirim.
Cukup menarik bila ternyata sampah mampu menjadi peluang usaha yg potensial buat startup. Selain menawarkan solusi pengelolaan sampah secara digital, persoalan lingkungan juga menjadi lebih baik karena sampah dikelola dengan benar pula. Bagaimana dengan Anda, tertarik juga membangun startup pengelolaan sampah di kotamu?
Segera matangkan konsepnya dan sertakan dalam event pengembangan startup terbaik di Indonesia, The NextDev 2018. Info lebih lanjut, klik di sini! [aki]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

