Banyumas Raya

Google baru-baru ini sudah mengonfirmasi bahwa pihaknya menyatakan menolak pengembangan Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan, AI) buat berbagai keperluan militer. Hal tersebut secara segera ditegaskan oleh CEO Google Sundar Pichai dengan menyebut bahwa perusahaannya tak mulai fokus dalam dunia militer.
- Tolak kerja sama dengan Pentagon, belasan karyawan Google mundur
- Pemerintah targetkan aturan pajak Google cs keluar kuartal I-2018
- Google telah cantumkan Yerusalem ibu kota Israel
- Google ditengarai bayar tunggakan pajak hari ini
- Nama jalan tidak senonoh muncul di google maps Bekasi
- Google maps telah kembalikan nama Jalan Dewi Sartika di Bekasi
“Cara kecerdasan buatan dikembangkan dan digunakan mulai memiliki dampak signifikan pada masyarakat di hari-hari mendatang,” tulis Pichai dalam blognya.
Ia pun menerangkan, penerapan kecerdasan buatan Google tak mulai menjurus pada teknologi yg mampu menyebabkan orang terluka.
Tak cuma menyebabkan kerusakan langsung, Pichai juga tak mau teknologi kecerdasan buatan Google dipakai buat tindakan pengintaian yg melanggar norma-norma internasional, serta melawan hak asasi manusia.
Google juga menekankan pentingnya mengembangkan kecerdasan buatan demi keuntungan yg menguntungkan masyarakat luas, dan supaya lebih banyak orang-orang yg mengembangkan kecerdasan buatan buat tujuan mulia tersebut.
Meski menolak kecerdasan buatan dipakai buat kerusakan, pihak Google tetap berminat bekerja bagi militer dan pemerintah di area-area lain, seperti keamanan siber, pelatihan, rekrutmen militer, dan seputar keselamatan dan kesehatan.
“Cara kecerdasan buatan dikembangkan dan digunakan mulai memiliki dampak signifikan pada masyarakat di hari-hari mendatang,” tulis Pichai dalam blognya.
Ia pun menerangkan, penerapan kecerdasan buatan Google tak mulai menjurus pada teknologi yg dapat menyebabkan orang terluka.
Tak cuma menyebabkan kerusakan langsung, Pichai juga tak mau teknologi kecerdasan buatan Google dipakai buat tindakan pengintaian yg melanggar norma-norma internasional, serta melawan hak asasi manusia.
Google juga menekankan pentingnya mengembangkan kecerdasan buatan demi keuntungan yg menguntungkan masyarakat luas, dan supaya lebih banyak orang-orang yg mengembangkan kecerdasan buatan bagi tujuan mulia tersebut.
Meski menolak kecerdasan buatan dipakai buat kerusakan, pihak Google tetap berminat bekerja bagi militer dan pemerintah di area-area lain, seperti keamanan siber, pelatihan, rekrutmen militer, dan seputar keselamatan dan kesehatan.
Sebelumnya, ribuan karyawan mengirimkan surat permohonan ke Sundar Pichai buat menghentikan dukungan teknologi AI bagi kepentingan militer.
Dukungan AI yg dimaksud adalah pengembangan teknologi AI Google bagi meningkatkan akurasi serangan militer lewat drone.
“Kami yakin Google tak perlu masuk pada bisnis yg berkaitan dengan perang,” demikian bunyi salinan surat permohonan yg ditandatangani oleh karyawan perusahaan, sebagaimana dikutip Tekno Liputan6.com dari Business Insider.
Para karyawan yg tanda tangan yaitu perwakilan dari karyawan Alphabet yg mencapai 70 ribu orang.
Mereka menuntut Google menarik diri dari Project Maven. Proyek ini yaitu pilot program dari Pentagon. Karyawan pun meminta agar perusahaannya tak mulai pernah lagi mengembangkan teknologi yg mampu dimanfaatkan bagi peperangan.
Juru bicara Google dalam keterangannya menyebut, “Kami tahu banyak pertanyaan terkait dengan teknologi baru ini, sehingga dengan adanya obrolan bersama karyawan dan ahli dari luar ini sangat utama dan bermanfaat.”
Sekadar diketahui, bulan dahulu Google mengagetkan banyak pihak baik di dalam maupun luar perusahaan ketika mengkonfirmasi pihaknya menyediakan teknologi AI bagi militer AS.
Berdasarkan informasi para ahli, teknologi AI ini mampu digunakan buat menarget lokasi serangan dengan lebih jitu.
Reporter: Tommy Kurnia
Sumber: Liputan6.com [ega]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

