Banyumas Raya

Facebook mengumumkan kembali beragam upaya buat menangani berita-berita palsu. Sebelumnya, perusahaan media sosial besutan Mark Zuckerberg itu sudah melakukan serangkaian upaya antara yang lain menggabungkan kecanggihan teknologi dan tinjauan manusia, termasuk melalui penghapusan akun palsu, bermitra dengan para pemeriksa fakta, dan meningkatkan kesadaran masyarakat mulai literasi berita.
- Terbuai janji pernikahan, gadis di Surabaya tertipu pria kenalan di FB
- Facebook & Youtube dilaporkan ke Bareskrim karena memuat video cara bikin bom
- Ini cara laporkan konten negatif aksi terorisme di Facebook
- Pemerintah minta Facebook langsung ubah status usahanya di Indonesia
- Polri pertimbangkan periksa pihak Facebook AS terkait kebocoran data
- Soal kebocoran data, Polri nilai Facebook belum kooperatif
Tessa Lyons, Product Manager Facebook mengungkapkan ada dua pengembangan upaya yg dikerjakan pihaknya bagi menangkal keberadaan berita-berita palsu. Antara lain; Memperluas program fact checking ke dua negara.
“Sejak awal peluncuran program third- party fact-checking, kalian sudah menjalankan program ini di 14 negara dan kita berencana bagi menghadirkan program tersebut ke dua negara lainnya hingga akhir tahun ini,” kata dia dalam informasi tertulisnya kepada Merdeka.com, Senin (25/6).
“Melalui program ini, pemeriksa fakta yg telah disertifikasi mulai menilai akurasi berita di Facebook dan sejauh ini mereka sudah menolong kita mengurangi penyebaran berita palsu hingga sekitar 80 persen,” tambahnya.
Kemudian yg kedua, pihaknya juga memperluas uji mencoba memeriksa fakta berupa foto dan video. Hal ini karena konten yg diposting setiap harinya mencapai miliar. Sementara, tidak dapat dikerjakan sesuatu per sesuatu oleh pemeriksa fakta yg diajak bekerja sama oleh Facebook.
“Kami pun menetapkan bagi mengembangkan cara baru buat mengidentifikasi berita palsu dan mengambil tindakan dengan skala lebih besar,” ungkapnya.
Selain itu, upaya yg dilakukannya adalah mengambil tindakan terhadap semua macam pelanggaran baru yg berulang. Terakhir adalah bekerja sama dengan sejumlah akademisi.
Pada bulan April lalu, kata Lyons, pihaknya mengumumkan sebuah inisiatif baru yg mampu menolong penyelenggaraan riset independen tentang peranan media sosial dalam pemilu, serta demokrasi pada umumnya.
“Komisi riset pemilu yg kalian bentuk, ketika ini sedang merekrut staf dan memutuskan prosedur hukum dan organisasi yg diperlukan buat menjadi independen. Dalam dua pekan ke depan, komisi ini mulai launching sebuah website dan membuka kesempatan pengajuan proposal buat mengukur seberapa besar misinformasi yg terjadi di Facebook berikut dampaknya,” jelasnya. [ega]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

