Banyumas Raya

JAKARTA, – Mantan Ketua Umum Pusat Pimpinan Muhammadiyah Buya Syafii Maarif menegaskan, kelompok besar masyarakat yg jarang mengungkapkan pandangannya (silent majority), harus bersuara dalam menghadapi Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.
Sebab, ujaran kebencian dan ancaman aksi kekerasan berupa persekusi dengan isu SARA mulai berpotensi mengganggu jalannya proses pemilihan. Pria yg akrab disapa Buya Syafii itu ingin segala masyarakat bersuara dan melawan narasi kebencian dan persekusi secara bijaksana.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif di Gedung PPATK, Jakarta, Selasa (19/12/2017).“Orang-orang normal jangan diam. Jangan diam. Kalau diam, nanti mulai semakin merajalela,” ujarnya di Wisma Antara, Jakarta, Kamis (29/3/2018).
Buya Syafii mengakui bahwa upaya tersebut berisiko untuk diri seseorang. Namun demikian, hal itu patut dikerjakan buat menegakkan kualitas demokrasi yg sehat. Sebab, seringkali ada pihak tertentu yg memakai identitas tertentu buat memancing konflik yg tidak terkendali.
Baca juga : Negara Jangan Anggap Remeh Pengaruh Ujaran Kebencian dan Hoaks
Ia berharap pihak-pihak yg menjunjung nilai keberagaman dan kemajemukan harus menjadi sosok perlawanan utama.
Upaya perlawanan aksi ujaran kebencian dan persekusi harus dikerjakan dengan pikiran sejuk dan sikap yg tegas.
Menurutnya, seandainya penanganan dikerjakan dengan cara-cara kekerasan, justru mulai memperparah konflik di kalangan masyarakat.
“Dan aku telah banyak bicara, kelompok yg menyalahgunakan identitas SARA mulai menimbulkan bahaya. Kita harus berhadapan dengan sikao sejuk tetapi tetap tegas,” katanya.
Buya menilai, seandainya orang-orang berakal sehat memilih diam dalam menghadapi ujaran kebencian dan persekusi, maka efeknya mulai meluas.
Baca juga : Banyak Hoaks, NU-Muhamadiyah Imbau Umat Perkuat Persatuan NKRI
“Kalau orang berakal sehat diam, ini mulai membuat yg yang lain tak waras, ujaran kebencian di medsos menjadi tidak terkendali. Jadi tantangannya cukup berat,” ujarnya.
Di sesuatu sisi, pihak kepolisian juga tak memberi tempat untuk pihak-pihak yg melakukan ujaran kebencian dan aksi persekusi.
“Kita berharap aparat begitu, jangan dibiarkan nanti muncul “polisi-polisi swasta” yg sewenang-wenang,” katanya.
Ia mengingatkan agar Indonesia tak menjadi Suriah, Irak, dan Mesir, yg menjadi rapuh akibat ujaran kebencian di dalam masyarakatnya.
Sumber: http://nasional.kompas.com
BanyumasRaya.com

