Bahu Jalan Tol Bukan Tempat Yang Aman Buat Berhenti

oleh -242 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Jakarta, – Penyanyi Syahrini menuai kritik terkait aksinya berfoto di bahu jalan tol Waru-Juanda di Surabaya, Jawa Timur. Pelantun lagu “Sesuatu”itu beralasan keadaan jalan tol Waru-Juanda saat itu dalam kondisi sepi dari kendaraan dan rombongannya dalam pengawalan. Syahrini merasa aman buat berhenti sejenak sekitar tiga atau lima menit. Ia tidak menyangka, tindakannya itu ternyata melanggar aturan dahulu lintas.

Baca juga : Syahrini Ungkap Kronologi Aksinya Melangkah Manja di Bahu Jalan Tol

Bahu jalan tol disediakan bagi keadaan tertentu, seperti buat lajur ambulans dan mobil pemadam kebakaran yg sedang bertugas, ataupun tempat berhenti pengendara yg mengalami situasi darurat, seperti mogok ataupun persoalan yang lain yg mengharuskannya menghentikan kendaraannya.

Namun fungsi ideal bahu jalan tol tersebut dianggap belum terjadi di Indonesia. Sebab masih tingginya pelanggaran dulu lintas. Pendapat tersebut dilontarkan Pendiri dan Instruktur dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu.

Foto artis dan penyanyi Syahrini yg diunggahnya di akun Instagram menuai kontroversi karena berlatar belakang jalan tol, tepatnya di ruas jalan Tol Waru-Juanda di Surabaya, Jawa Timur. Syahrini dikritik karena tak mengantongi izin dan berpotensi mengganggu dahulu lintas.dok. Instagram Foto artis dan penyanyi Syahrini yg diunggahnya di akun Instagram menuai kontroversi karena berlatar belakang jalan tol, tepatnya di ruas jalan Tol Waru-Juanda di Surabaya, Jawa Timur. Syahrini dikritik karena tak mengantongi izin dan berpotensi mengganggu dahulu lintas.

Menurut Jusri, bahu jalan tol tidak jarang dipakai bagi menyalip kendaraan lain. Kondisi ini yg membuat bahu jalan tol bukanlah tempat yg aman. Jusri mencontohkan pernah ada perkara pengendara yg berhenti di bahu tol tewas ditabrak pengendara yang lain yg hendak menyalip kendaraan yang lain lewat bahu jalan tol.

Baca juga : Begini Ciri Keselamatan Berkendara di Negara Berkembang

“Pengendara itu menabrak mobil yg sedang berhenti yg ada orang di dalamnya, sehingga orang tersebut meninggal dunia. Ini terjadi karena ada kebiasaan di Indonesia yg memakai bahu jalan tol buat tempat menyalip,” kata Jusri kepada , Sabtu (10/3/2018).

Karena itu, Jusri menyarankan pengguna kendaraan buat sebisa mungkin menghindari berhenti di jalan tol. Apabila mobil mengalami kerusakan, Jusri menyarankan pengemudi kendaraan yg rusak buat sebisa mungkin keluar tol lebih dulu. Salah satunya mengontak jasa mobil derek yg disediakan pengelola jalan tol.

Kalaupun dalam keadaan darurat yg tak memungkinkan keluar tol, Jusri menyarankan pengendara bagi meletakan segitiga pengaman atau benda yang lain yg dapat menjadi penanda keberadaan kendaraan yg rusak. Penanda sebaiknya diletakan 30 meter hingga 50 meter dari lokasi rusaknya kendaraan. Selain itu, pengendara juga diminta tak lupa menyalakan lampu hazard.

Ilustrasi derek gendonghttp://www.locostpro.com Ilustrasi derek gendong

Baca juga : Berhenti di Bahu Jalan Tol karena Kondisi Darurat, Perhatikan Ini

Betapa bahayanya bahu jalan tol dapat dilihat dari kisah tragis yg dialami almarhum Fathkun Nadjib. Padahal ketika itu Fathkun berhenti di bahu jalan tol dalam rangka ingin membantu korban kecelakaan di KM 97 tol Cipularang arah Jakarta.

Niat baik malah jadi petaka sebab Fathkun tersambar mobil yg melaju kencang di lajur kiri. Padahal logika di jalan tol, semakin ke kanan jalur maka kecepatan kendaraan seharusnya semakin tinggi. Tapi yg terjadi malah terbalik. Karena masih banyak pengemudi yg memacu kencang kendaraannya di jalur paling kiri dan bahkan bahu jalan.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber: http://otomotif.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca