Romantisme Orba, Partai Berkarya Ingin Rangkul Mereka Yang Rindu Pak Harto

oleh -316 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Tahun 2018 menjadi penanda Tommy Soeharto kembali terjun di dunia politik. Lebih terkenal sebagai pebisnis dan sempat menjadi kader Golkar di masa lampau, kini, romantisme Orba atau Orde Baru, yg lekat dengan sosok sang ayah, ingin ia hidupkan lagi lewat Partai Berkarya.

BERITA TERKAIT
  • Deretan fakta ditemukannya pesawat yg hilang 26 tahun di Sulut
  • RPP gaji PNS diubah, gaji presiden jadi lebih dari Rp 500 juta
  • AS bersiap beri Rp 68 miliar untuk siapa saja milik info keberadaan pemimpin Taliban

Di partai barunya tersebut, pria yg bernama lengkap Hutomo Mandala Putra menempati jabatan pucuk sebagai ketua majelis tinggi partai dan ketua dewan pembina.

Sejumlah nama purnawirawan jenderal juga ada dalam dalam daftar pimpinan, yakni Mayjen TNI (Purn) Muchdi PR sebagai Ketua Dewan Kehormatan, Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhy Purdijatno sebagai Ketua Dewan Pertimbangan, dan Mayjen TNI (Purn) Syamsu Djalal selaku Ketua Dewan Penasihat.

Belakangan juga terkuak, ada nama Pollycarpus Budihari Prijanto dalam daftar anggota Partai Berkarya. Mantan perkara terpidana pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir itu tercatat sebagai kader dari Tangerang.

Saat dikonfirmasi, Sekretaris Jenderal Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang membenarkan bergabungnya Pollycarpus. Ia mengatakan, partainya tak takut keberadaan eks pilot Garuda Indonesia mulai memengaruhi elektabilitas.

“Itu kan masa lalu. Kita tak mempersoalkan latar belakang seseorang. Apalagi negara telah membebaskannya,” ujar Badaruddin kepada Liputan6.com di Jakarta, Rabu (7/3/2018) malam.

Bukan cuma Pollycarpus, meskipun dinyatakan bebas dan tidak terbukti secara hukum, nama Muchdi Purwoprandjono atau Muchdi Pr juga sempat dikaitkan dengan kematian Munir tahun 2004 lalu.

“Beliau salah sesuatu pelopor partai dan sekarang beliau dewan kehormatan,” kata Badaruddin soal keberadaan nama Muchdi Pr.

Terkait keberadaan nama sejumlah purnawirawan jenderal dalam struktur dewan pimpinan pusat (DPP) Partai Berkarya, Badaruddin menganggap, itu adalah hal wajar.

Dia berkaca pada sejarah, di mana dahulu Presiden Soeharto juga menempatkan perwira-perwira militer di tubuh Golkar bagi menangkal pengaruh paham komunis.

“Dulu Pak Harto membuat Golkar itu kan banyak dari TNI, Angkatan Darat khususnya, dalam rangka menghalau paham komunis. Itu kan jalan Pak Harto 32 tahun, beliau berkuasa lewat Partai Golkar. Beliau berhasil membangun bangsa ini. Saya kira irisannya dari situ,” jelas dia.

Di sisi lain, Badaruddin tidak menampik kalau daya jual Partai Berkarya tergantung pada Tommy Soeharto yg identik dengan trah Cendana. Ia juga mengakui seandainya sebagian program kerja partai ini mengadopsi dari Orde Baru.

“Semua orang mampu bilang begitu, karena di Berkarya ada Pak Tommy, itu wajar-wajar saja. Pak Tommy memang magnet partai ini. Program-program kami juga masih mengambil sebagian dari program yg unggul di masa Pak Harto yg mampu diterapkan ketika ini. Misalnya trilogi pembangunan, merupakan keamanan, ekonomi dan pemerataan pembangunan,” papar Badaruddin.

Untuk itulah, kata dia, Partai Berkarya membidik pemilih dari kalangan yg merasakan enaknya hidup ketika Orde Baru berkuasa, tanpa melupakan generasi yg tumbuh di era sesudahnya.

“Kita enggak memungkiri bahwa ada segmen yg kalian bidik ke sana. Tapi generasi sekarang juga kalian kasih ruang. Tapi, yg kami tonjolkan bukan rezimnya, tetapi semangatnya. Dulu ada pasar inpres, sekolah inpres. Itulah yg mungkin dirindukan orang yg milik masa dulu dengan Orde Baru,” jelas Badaruddin.

Ketika ditanyakan, apakah buat mewujudkan segala itu Tommy Soeharto ingin memimpin Indonesia di masa depan, dia tidak menampik.

“Itu pasti. Semua pimpinan partai bermimpi bagi jadi pimpinan di negeri ini. Apa itu lewat legislatif atau eksekutif.

Seandainya partai baru diberi peluang presidential threshold itu 0 persen, Partai Berkarya mulai mengunggulkan Pak Tommy,” tegas Badaruddin.

Untuk itu, salah sesuatu langkah buat mendorong Tommy menuju kepemimpinan nasional adalah dengan menjadikan pria berusia 56 tahun itu sebagai Ketua Umum Partai Berkarya.

“Di rapimnas tanggal 10-13 Maret di Solo, kami mulai meminta Pak Tommy sebagai ketua umum partai,” pungkas dia.

Survei Tommy masih kecil

Partai Berkarya memang tergolong baru. Dibentuk pada 15 Juli 2016 dan disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.NH-21.AH.11.01 Tahun 2016 pada 13 Oktober 2016. Dalam kepengurusan tingkat pusat, nama Tommy Soeharto menjabat Ketua Majelis Tinggi Partai sekaligus Ketua Dewan Pembina.

Tak heran kalau muncul anggapan bahwa Partai Berkarya ingin mengembalikan kejayaan Orde Baru dan trah Cendana. Namun, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia Aditya Perdana menanggap pesimis anggapan itu.

“Memang ada nama Tommy Soeharto di Partai Berkarya. Tapi aku nggak begitu percaya apakah kemudian Partai Berkarya mulai otomatis mengambil pemilih dari orang-orang yg milik romantisme di masa Orde Baru. Yang pasti pemilih sekarang ini dominan berusia muda, yg ketersentuhan dengan Orde Baru kan enggak begitu kuat,” jelas Aditya kepada Liputan6.com, Rabu malam.

Selain itu, kata dia, kalau keberadaan Tommy Soeharto di Partai Berkarya dianggap sebagai usaha bagi menjaring suara dari simpatisan Orde Baru, itu harus dikerjakan melalui survei dulu.

“Tantangan bagi Partai Berkarya adalah eksis saja lalu dengan apa yg dimiliki sekarang. Tommy perannya dominan di partai, kekayaannya pasti tujuh turunan. Apakah itu mulai memengaruhi dukungan dari pemilih, kami harus tes dengan survei di bulan-bulan ini,” ujar Aditya.

Namun begitu, dia pesimistis angka elektabilitas Partai Berkarya mulai menjulang. Bahkan, dia memprediksi angka bagi keterpilihan di legislatif mulai sulit mencapai angka 1 persen.

“Pak Harto sendiri, untuk saya, telah selesai di tahun 1998, karena anak-anaknya rata-rata enggak berpolitik. Mungkin Mbak Tutut saja, tetapi sisanya kan enggak,” jelas Aditya.

Jika ketika ini Partai Berkarya mengusung program yg sangat Orde Baru, dia meyakini banyak pihak mulai menyikapi dengan hati-hati. Itu karena, Partai Berkarya harus menjelaskan romantisme masa dulu Orde Baru mana yg mulai dikembalikan partai ini.

“Kalau itu terus-terusan ditonjolkan Partai Berkarya, bagi tujuan apa? Kalau buat tujuan mengembalikan masa Orde Baru dari gaya otoriter pemimpinnya, masyarakat sekarang kan telah terbiasa dengan gaya kepemimpinan demokratis,” pungkas Aditya.

Sementara itu, menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, berdasarkan survei yg pernah dilakukan, romantisme Orde Baru itu masih ada, kendati angkanya telah tak mampu lagi jadi pegangan.

“Itu data lama, jadi telah kurang relevan. Tapi intinya masih ada dan aku percaya masih cukup signifikan. Cuma masalahnya, per hari ini belum ada keluarga Cendana, anak-anaknya Pak Harto yg bisa meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa mereka milik kemampuan yg sama dengan Pak Harto membangun Indonesia,” ujar Qodari kepada Liputan6.com, Rabu malam.

Ditambah lagi, kata dia, Tommy mampu belajar dari pengalaman Partai Karya Peduli Bangsa atau PKPB yg pernah didukung kakaknya, Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut. Kekalahan PKPB di Pemilu 2009 menunjukkan, menjadi anaknya Pak Harto tak otomatis membuat partainya dipilih masyarakat.

“Dari hasil-hasil survei sementara ini elektabilitas Tommy Soeharto atau Mas Tommy itu masih kecil sekali. Dengan becermin pada pengalaman partainya Mbak Tutut dan hasil surveinya Mas Tommy, menurut aku bagi sementara perolehan atau nasib Partai Berkarya mulai sama dengan partainya Mbak Tutut,” ujar Qodari.

Namun, dia menegaskan, Tommy menjadi faktor kunci di Partai Berkarya, seandainya dilihat dalam posisinya sebagai alat buat mendongkrak partai. Dalam praktiknya mampu dilihat nanti, bagaimana Tommy dengan kemampuan finansial dan manajerialnya membuat Partai Berkarya menjadi mesin politik yg tangguh di lapangan.

“Tapi, kalau mau menggantungkan perolehan suara Partai Berkarya dari popularitas Mas Tommy, itu belum bisa. Karena sekali lagi, berdasarkan hasil survei, elektabilitasnya Mas Tommy itu masih kecil sekali, tak mampu menjadi alat mendongkrak perolehan suara Partai Berkarya,” tegas Qodari.

Dengan fakta itu, dia melihat sosok Tommy harus dilihat dengan cara berbeda, antara keinginan sebagian masyarakat bagi dapat bernostalgia bersama Orde Baru dengan keyakinan bahwa Tommy mampu mewujudkan nostalgia tersebut

“Saya sih percaya bahwa masih cukup banyak masyarakat yg ingin nostalgia dengan Orde Baru. Tetapi, apakah dia percaya atau tak dengan Tommy Soeharto, menurut aku itu beberapa hal yg berbeda,” pungkas Qodari.

Jejak partai politik Cendana

Kendati rezim Soeharto ikut tumbang seiring dengan berakhirnya Orde Baru, bukan berarti keluarga Cendana menjauh dari hiruk pikuk politik Tanah Air.

Sejumlah partai politik sempat didirikan serta ikut dalam pemilu, meskipun tidak ada yg bertahan lama dalam persaingan merebut suara pemilih.

Yang pertama adalah Partai Karya Peduli Bangsa atau PKPB. Partai politik ini didirikan pada 9 September 2002 di Jakarta dan dipimpin R Hartono, mantan KSAD dan mantan Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Pembangunan VII.

Hartono tidak menutupi kalau partai yg dipimpinnya ingin mendulang sukses yg pernah dirasakan Orde Baru. Bahkan, seperti ditulis Liputan6.com, Senin 1 Maret 2004, purnawirawan jenderal ini percaya partainya bakal mendapat dukungan masyarakat yg pernah merasakan kemakmuran pada ketika Soeharto berkuasa.

Yang lebih menarik, partai ini mendapat dukungan dari Siti Hardijanti Rukmana, putri sulung mantan Presiden Soeharto yg karib disapa Tutut. Sejak ayahnya lengser dari kursi kekuasaan, Tutut ikut menghilang. Ia jarang tampil di muka umum. Tapi, 2 Desember 2003, ia hadir dalam acara syukuran PKPB. Saat itu, muncul dugaan bahwa Tutut adalah calon presiden dari PKPB.

Menjelang penghujung 2003, PKPB mendeklarasikan Tutut sebagai calon presiden dari parta itu. Namun, Tutut tidak mau terang-terangan menyatakan diri sebagai capres dari PKPB. Kendati dia menegaskan bersiap berkonsentrasi bagi memenangkan PKPB.

“Selama kampanye, kalian mulai bersiap menolong partai,” tegas Tutut di Jakarta, Rabu 10 Maret 2004.

Namun, niat Tutut menjadi capres gagal setelah hasil Pemilu 2004, PKPB yg bernomor urut 14 cuma memperoleh 2,11% suara secara nasional dan memperoleh 2 kursi di DPR.

Pada 2008, buat berpartisi kembali dalam Pemilu 2009, PKPB sempat mengubah namanya menjadi Partai Karya Pembangunan Bangsa dengan lambang partai baru yg tak jauh berbeda. Setelah UU Pemilu yg baru mengizinkan partai peserta Pemilu 2004 berkompetisi kembali, PKPB memakai kembali nama lama, namun tetap mempertahankan lambang yg baru.

Dalam Pemilu 2009 yg diikuti 38 partai politik, PKPB gagal buat masuk DPR. Hal ini yaitu imbas dari ketentuan electoral threshold pada pemilu sebelumnya dihapus dan diganti dengan parliamentary threshold sebesar 2,5 persen. Pada Pemilu 2014, PKPB pun hilang dari peredaran karena tak lolos verifikasi administrasi KPU.

Setelah Tutut, giliran cucu Soeharto yg turun ke gelanggang politik, merupakan Ari Haryo Wibowo Harjojudanto yg karib disapa Ari Sigit. Ari yaitu anak pertama dari Sigit Hardjojudanto, putra kedua mantan Presiden Soeharto.

Pada 2012, Ari mendirikan Partai Karya Republik atau Pakar. Di partai ini Ari menjabat ketua umum dan sekretaris jenderal dijabat Puspito Adi Wibowo.

Namun, KPU menyatakan Pakar tak lulus verifikasi administratatif bagi menjadi peserta Pemilu 2014. Ari Sigit mengaku kecewa terhadap keputusan KPU tersebut dan menilai hasil verifikasi administrasi parpol itu tak sesuai hukum yg berlaku.

“Penetapan hasil verifikasi KPU tak sesuai hukum karena diputuskan dengan jadwal, tata cara, prosedur dan mekanisme yg bertentangan Peraturan Perundang-undangan,” kata Ari dalam pesan singkatnya kepada Liputan6.com di Jakarta, Selasa 30 Oktober 2012.

Terlepas dari kekecewaan itu, partai besutan Ari tidak mampu lagi ikut dalam kontestasi Pemilu 2014. Tak cuma Ari, anggota keluarga Cendana lainnya juga selalu berusaha bagi ikut dalam pemilu, dengan nama partai dan sosok yg berbeda.

Dia adalah putra bungsu Soeharto, Hutomo Mandala Putra yg karib disapa Tommy. Dia mendirikan partai Partai Nasional Republik (Partai Nasrep) pada 17 Desember 2002 sebagai Partai Sarikat Indonesia dan berubah nama menjadi Partai Nasional Republik pada 5 Juni 2012. Ketua umum partai ini adalah Jus Usman Sumanegara dengan Sekretaris Jenderal Neneng A. Tutty.

“Kami dari gabungan partai-partai juga. Ada partai lama dan kecil-kecil, itu kan banyak yg jebol-jebol. Jadi kepengurusan partai lama mulai lebur,” kata Neneng di Jakarta, Rabu 27 April 2011.

Selain Tommy dan Neneng, deklarator partai ini antara yang lain Mayor Jenderal (Purn) Edy Waluyo, Budi Hartono, dan Sony Pudjisasino dari Partai Buruh, serta Tommy Sanjoto. Tommy sendiri dijadikan daya tarik penting partai dan didapuk sebagai Ketua Dewan Pembina Partai.

Partai ini resmi didaftarkan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi dan Manusia buat menjadi peserta Pemilu 2014. Pada proses seleksi partai politik bagi menjadi peserta Pemilu 2014 yg diselenggarakan KPU, Partai Nasrep lolos dalam tahap verifikasi awal, namun kemudian gagal dalam tahap verifikasi administrasi. Artinya, Partai Nasrep gagal mengikuti Pemilu 2014.

Tak mau menyerah, Partai Nasrep kemudian menetapkan bergabung dengan Partai Beringin Karya yg menjelma sebagai Partai Berkarya. Partai ini didirikan pada 15 Juli 2016 dan mendapatkan legitimasi hukum dan sah sebagai partai politik di Indonesia pada 17 Oktober 2016.

Neneng A Tutty yg sebelumnya menjadi Sekjen Partai Nasrep kini menjadi Ketua Umum Partai Berkarya dengan Sekjen Badaruddin Andi Picunang. Sementara Tommy menjabat sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai sekaligus Ketua Dewan Pembina. Melalui Partai Berkarya inilah Trah Cendana yg diwakili Tommy Soeharto berusaha kembali ke panggung kekuasaan.

Sumber:Liputan6.comLiputan6.com [idc]

Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca