Penjelasan Polri Soal Penangkapan Dosen UNJ Robertus Robet

oleh -58 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

JAKARTA, – Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo membenarkan bahwa polisi menangkap aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yg juga dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Robertus Robet pada Kamis (7/3/2019) dini hari.

“Pukul 00.30 sudah dikerjakan penangkapan terhadap pelaku dugaan tindak pidana penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yg ada di Indonesia,” ujar Dedi ketika dikonfirmasi, Kamis pagi.

Menurut Dedi, Robet ditangkap karena diduga sudah melakukan penghinaan terhadap institusi TNI ketika berorasi di depan Monumen Nasional (Monas), dua waktu lalu.

Sosiolog UNJ Robertus Robet/Indra Akuntono Sosiolog UNJ Robertus Robet

Setelah dikerjakan penangkapan, Robertus Robet dibawa oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Dirtipidsiber Bareskrim Polri bagi pemeriksaan lebih lanjut.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-5112'); });

Baca juga: Dosen UNJ Robertus Robet Ditangkap Polisi karena Diduga Langgar UU ITE

Menurut informasi, Robertus dijerat dengan Pasal 45 A ayat (2) Jo 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 207 KUHP.

Sebelumnya, Peneliti Amnesty International Indonesia Papang Hidayat mengonfirmasi keterangan penangkapan Robet. 

Papang menyebutkan, polisi mendatangi rumah Robet sekitar pukul 00.15, kemudian membawanya ke Mabes Polri.

“Pada 7 Maret 2019 sekitar pukul 00.15 pihak Kepolisian mendatangi rumah Robertus Robet dan membawanya ke Markas Besar Kepolisian bagi proses penyidikan,” ujar Papang melalui pesan singkat, Kamis. 

Menurut Papang, berdasarkan surat dari kepolisian, Robet dijerat Pasal 45 A ayat (2) jo Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Robet diduga sudah melakukan penyebaran keterangan yg ditujukan bagi menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat berdasarkan SARA, berita hoaks, atau penghinaan terhadap penguasa atau badan umum.

Tindak pidana tersebut diduga dikerjakan Robet ketika berorasi di Aksi Kamisan pada 28 Februari 2019 mengenai dwifungsi ABRI.

Dalam orasinya itu, Robet menyanyikan lagu yg kadang dinyanyikan mahasiswa pergerakan 1998 buat menyindir institusi ABRI.

Sementara itu, melalui sebuah video, Robet sudah memberikan klarifikasi atas orasinya itu.

Pertama, Robet menegaskan bahwa lagu itu bukan dibuat oleh dirinya, melainkan lagu yg populer di kalangan gerakan mahasiswa pada 1998.

Lagu itu dimaksudkan sebagai kritik yg ia lontarkan terhadap ABRI di masa lampau, bukan TNI di masa kini.

Ia juga mengatakan, lagu itu tak dimaksudkan buat menghina profesi dan institusi TNI.

“Sebagai dosen aku tahu persis upaya-upaya reformasi yg dikerjakan oleh TNI dan dalam banyak kesempatan aku justru memuji reformasi TNI sebagai reformasi yg berjalan paling maju,” ujar Robet. 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112'); });

Sumber: http://nasional.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca