Tak Lagi Suka Supercar Gara-gara Nissan Leaf

oleh -60 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Singapura – Sebagai pemilik pertama Nissan Leaf di Singapura, Direktur Astuce Technologies Christian Sauzedde menjelaskan alasannya memilih mobil listrik kendati ia terbiasa memakai mobil berperforma tinggi seperti supercar.

“Saya segera jatuh cinta. Saya dapat mendapatkan segala yg aku suka dari sebuah mobil dan aku tahu aku menginginkannya. Saya membeli mobil tersebut dalam sesuatu minggu,” kata Sauzedde dalam informasi tertulis Nissan.

Dia menyebut bahwa salah sesuatu fitur yg membuatnya jatuh hati adalah e-Pedal. Teknologi e-Pedal pada Nissan Leaf membuat pengemudi cuma memakai sesuatu pedal buat start, akselerasi, deselerasi, dan berhenti.

“e-Pedal adalah salah sesuatu hal yg fantastis dari mobil ini. Saya cuma mendorong sesuatu pedal dan aku memiliki kekuasaan penuh. Kelincahannya. 150 horse power motor 110 KW,” ujar Sauzedde.

Baca juga: Nissan Pamer Drifting dengan Mobil Listrik

Dia pun mengaku terkejut dengan torsi konstan yg dapat dikeluarkan sebuah mobil listrik.

“Torsi konstan pada gigi tertinggi, dan aku bahkan tak merindukan suara mesin supercar,” kata Sauzedde.

Selain soal kesenangan mengemudi, aspek ingin mengedukasi orang yang lain soal keberlanjutan teknologi ramah lingkungan menjadi salah sesuatu pemicunya menggunakan mobil listrik.

“Tapi yg lebih penting, mobil ini mewakili perubahan yg kalian seluruh harus pikirkan dan merasa bertanggung jawab buat melakukannya. Seiring pertambahan populasi, planet ini tak berubah ukuran,” kata dia.

“Kendaraan listrik bukanlah kompromi antara kinerja dan kenyamanan. Coba saja. Motor listrik mampu melaju dengan kecepatan yg sangat tinggi,” imbuh Sauzedde.

Dia menambahkan, “Rentangnya juga sangat nyaman, karena kalian cuma mengisi daya mobil selama di kantor. Selanjutnya, dunia mulai serba listrik. Ini persoalan waktu. Dan suatu hari aku berharap mobil ini, Nissan Leaf dan sebuah supercar mulai berlomba berdampingan. Saya tahu siapa yg mulai menang.”

Baca juga: Nissan Leaf Hadir dengan Teknologi dan Warna Baru

Christian Sauzedde yg menjadi warga Singapura selama 30 tahun, menceritakan ketika tumbuh besar di Paris pada tahun 1950-an, ia melihat perubahan ayahnya yg pindah ‘dari sepeda ke mobil'.

Saat itu, ia melihat bahwa keberadaan mobil bisa menolong kehidupannya.

“Ayah aku dan aku pergi buat melihat mobil itu dan aku sangat bersemangat. Sejak ketika itu, mobil melambangkan kebebasan untuk saya. Anda bisa pergi ke mana pun Anda inginkan, kapan saja Anda inginkan,” kata Sauzedde.

Pada usia 18 tahun, ketika belum bisa membeli mobil, dia meluapkan kreatifitasnya dengan membangun kereta memakai bagian mobil Volkswagen. Ia memotong sasisnya kemudian menukar mesinnya dengan Porsche.

Selama dua dekade berikutnya, kecintaan Christian terhadap dunia mekanik dan mesin selalu berlanjut, hingga kini ia memiliki tujuh unit supercar.
Sumber: http://teknologi.inilah.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca