Simak, Ini 5 Kesalahan Pengendara Mobil Matik Yang Kerap Dilakukan

oleh -123 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

— Hari itu tak tampak seperti biasanya. Meskipun hari libur, Karina (26) telah mengeluarkan mobilnya dari garasi sedari pagi. “Brum.. brum..,” bunyi mobil matiknya selagi ia memanaskan mesin.

Bukan tanpa alasan ia menyiapkan mobilnya pada pagi di hari libur. Hari itu memang yaitu jadwal rutin buat memeriksa mobil kesayangannya ke bengkel. “Harus tiba pagi-pagi supaya tak antre,” tekadnya ketika itu. 

Sebagai pengendara mobil matik, Karina sadar bahwa ia harus benar-benar memperhatikan performa mobilnya, apalagi bila mobil tersebut dipacu setiap hari menerjang jalan. Tentu butuh perawatan khusus.

Saat ini mobil matik atau juga dikenal mobil bertransmisi otomatis memang menjadi pilihan favorit masyarakat Indonesia. Terlebih buat mereka yg tinggal di kota-kota besar dengan tingkat kemacetan tinggi.

Pasalnya, pengendara mobil matik cuma butuh usaha yg lebih sedikit ketimbang mereka yg memakai mobil bertransmisi manual. Hal itu karena pada mobil matik pengemudi tak perlu repot bagi terus menginjak kopling pada ketika mengganti gigi di tengah kemacetan.

Namun, ternyata di balik mudahnya mengoperasikan mobil matik, masih banyak kesalahan yg kerap dikerjakan para pengendara. Kesalahan ini bahkan mampu berdampak fatal terhadap kerusakan komponen mesin mobil.

Untuk menanggulangi hal tersebut, simak dua kesalahan yg acap kali dikerjakan pengemudi mobil matik berikut ini.

Posisi transmisi Drive (D) ketika menunggu lampu merah

Pada ketika menunggu lampu merah atau ketika terjebak kemacetan, masih banyak pengendara yg terkadang lupa buat mengubah transmisi Drive (D) ke Neutral (N).

Bila transmisi masih terletak pada posisi D, mobil mulai selalu melaju secara otomatis. Memang pada posisi ini pengendara masih mampu menginjak pedal rem bagi menahan laju. Namun, bila hal tersebut selalu dikerjakan justru mulai membebani kerja gearbox dan mesin.

Khawatirnya lagi, saat pengemudi lelah, injakan rem berkurang, mobil dapat berjalan tanpa diinginkan dan berpotensi menabrak mobil di depannya. Oleh karena itu, pengemudi disarankan buat memakai transmisi N ketika menunggu lampu merah dan ketika macet melanda.

Posisi transmisi Neutral (N) di jalanan berbukit

Bila Anda bepergian ke daerah Puncak di Bogor atau Dieng di Wonosobo tentu mulai menemui jalanan berbukit. Pada jalanan macam ini, banyak pengendara mobil matik yg masih cuek terhadap pergantian transmisi.

Misalnya, ketika melewati jalanan menurun pengendara memakai transmisi  N dengan dalih bagi mengirit bahan bakar. Alih-alih menghemat, justru malah membahayakan diri sendiri. Hal tersebut dikarenakan pada posisi transmisi N, kendali mobil mulai berkurang.

Baiknya pada keadaan jalan berbukit, kombinasikan penggunaan transmisi posisi D dan Low (L). Kombinasi tersebut bagi mengantisipasi kopling transmisi yg menjadi panas karena terus pada posisi L.

Sementara seandainya terus pada posisi D, khususnya diturunan yg curam, mulai mengurangi kemampuan engine break sehingga mobil lebih cepat meluncur dan cuma dapat mengurangi kecepatan dengan pedal rem.

Kurang memperhatikan posisi persneling ketika parkir

Dalam keseharian, momen terlambat tiba ke suatu acara menjadi momok yg kerap dialami. Terlebih buat warga kota besar yg tidak jarang bermacet-macetan.

Ketika seseorang tiba telat, orang itu mulai cenderung melakukan hal secara terburu-buru, salah satunya dalam memarkir kendaraan. Pengendara acap kali lupa buat menggerakkan tuas transmisinya dari N atau D ke posisi Park (P).

Akibatnya, saat injakan pada pedal rem dilepas mobil meluncur tidak terkendali dan mampu menabrak kendaraan yang lain yg ada di depannya.

Saat memarkir kendaraan hindari juga mengubah transmisi ke posisi P ketika mobil belum berhenti sepenuhnya. Karena aktivitas tersebut mulai merusak pin pengunci transmisi pada kendaraan Anda.

Tidak mengganti oli transmisi sesuai jadwal

Oli transmisi yaitu salah sesuatu komponen utama pada mobil matik. Kehadirannya berfungsi buat memudahkan pergantian sistem transmisi dan merawat komponen-komponennya agar tak gampang aus.

Sama seperti oli mesin, terdapat pula jadwal buat mengganti atau menguras oli transmisi secara berkala. Umumnya, penggantian oli transmisi dikerjakan setelah kendaraan menempuh jarak 20.000 kilometer atau setelah beberapa kali penggantian oli mesin.

Bila oli transmisi telat diganti, bagian yg mulai terkena dampak segera adalah tenaga mobil yg berkurang. Bahkan lebih parahnya lagi mobil tak mampu bergerak. Hal itu terjadi karena temperatur mesin mulai naik sedangkan pelumas pada komponen transmisinya menyusut.

Selain memperhatikan jadwal pergantian oli transmisi, Anda juga harus memilih oli transmisi yg cocok dengan kendaraan Anda, misalnya Shell Spirax S5 ATF X.

Oli transmisi Shell Spirax S5 ATF X ini selain memenuhi syarat pabrikan mobil Asia, Eropa, dan Amerika, juga mempunyai beberapa keunggulan lain. Di antaranya mengurangi gesekan buat meningkatkan efisiensi  bahan bakar, perlindungan dari korosi dan keausan, serta menstabilkan temperatur udara pada komponen transmisi. 

Dengan mengetahui berbagai kesalahan di atas dan cara bagaimana menanggulanginya, tentu Anda mulai dapat memaksimalkan performa mobil dan membuat perjalanan menjadi nyaman serta aman.

Sumber: http://otomotif.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca