Kendaraan Konsumsi Premium Dan Pertalite Bisa Lebih Boros

oleh -95 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

JAKARTA, – Pemerintah Indonesia telah memutuskan standar emisi gas buang Euro III buat sepeda motor dan Euro IV bagi mobil. Namun, pemerintah masih saja menyediakan bahan bakar oktan rendah yg telah tak sesuai lagi dengan kebutuhan teknologi mesin kendaraan bermotor, baik sepeda motor atau mobil zaman sekarang.

Kesimpulan ini disampaikan Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif KPBB (Komite Penghapusan Bensin Bertimbal), dalam diskusi bertema “Pengendalian Pencemaran Udara Terganjal Kualitas BBM” di sekretariat KPBB, Sarinah, Jakarta, Jumat (16/8/2019).

“Konsekuensi dari penerapan standar Euro 2, kini seluruh varian sepeda motor dan mobil memiliki rasio kompresi minimal 9:1,” ujar pria yg juga akrab disapa Puput tersebut.

Baca juga: Mobil Mesin Bensin Harus Euro IV Mulai September 2018

Puput juga menjelaskan, kendaraan kecil sekelas sepeda motor matik berkapasitas 110 cc, memiliki rasio kompresi 9,2:1. Mobil murah atau LCGC, juga MPV kelas 1.500 cc ke bawah, memiliki rasio kompresi 10:1. Sementara mobil kelas menengah dan mewah, rasio kompresinya akan dari 11:1 hingga 12:1.

” Kendaraan dengan rasio kompresi 9:1 membutuhkan bensin dengan RON minimal 91. Sedangkan kendaraan dengan rasio kompresi 10:1 ke atas, membutuhkan bensin dengan RON minimal 95,” kata Puput.

Puput menambahkan, seandainya dipaksakan, maka kendaraan memang tetap mampu beroperasi, tapi menimbulkan efek mengelitik atau knocking di mesin.

“Mesin yg mengelitik mulai menjadi tak bertenaga, karena bensin dengan RON lebih rendah dari kebutuhan mesinnya mulai terbakar oleh kompresi piston di ruang pembakaran mesin (self ignition) tanpa didahului percikan api busi,” ujar Puput.

Baca juga: Pakai Bensin RON Rendah, Ini Efeknya ke Sirion Baru

Mesin New Astra Toyota AgyaAzwar Ferdian/Otomania Mesin New Astra Toyota Agya

Kondisi self ignition ini yg dibilang Puput mampu menyebabkan bensin lebih boros sekitar 20 persen, karena terbakar percuma tanpa menghasilkan tenaga. Sehingga, buat menempuh jarak tertentu membutuhkan bensin lebih banyak.

“Borosnya bensin ini juga meningkatkan emisi, baik emisi rumah kaca (CO2), maupun emisi pencemaran udara, seperti PM, HC, CO, NOx, dan SOx,” kata Puput.

Efek samping yg terakhir adalah terjadinya detonasi yg menyebabkan keretakan piston, kerusakan ring piston, busi, dan lainnya, karena efek self ignition.

Sumber: http://otomotif.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca

No More Posts Available.

No more pages to load.