Demi Pemerataan Bahan Bakar, Muncul Wacana SPBU Mini

oleh -80 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

JAKARTA, – Pemerintah Indonesia, lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai memperpanjang program Bahan Bakar Minyak ( BBM) Satu Harga hingga tahun 2024. Namun, langkah ini masih jauh bagi mensejahterakan atau meratakan distribusi BBM ke kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Tertular).

Berdasarkan data yg dilontarkan Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas ( BPH Migas), ada 1.582 Kecamatan di wilayah 3T. Sedangkan hingga lima tahun mendatang, titik penyalur BBM Satu Harga baru tersedia sebanyak 500 titik.

Artinya, masih ada 1.252 Kecamatan di wilayah 3T yg belum bisa merasakan program BBM Satu Harga. Oleh sebab itu, Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa mengusulkan buat membangun Sub Penyalur dan SPBU Mini berbasis Kecamatan, yg menawarkan harga Solar dan Premium seragam (Rp 5.150 per liter buat Solar dan Rp 6.450 per liter buat Premium).

“BPH Migas mendorong masyarakat dan Pemerintah di wilayah 3T bagi membentuk Sub Penyalur,” kata Fanshurullah di Konfrensi Pers Pengendalian Kuota Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu Tahun 2019 di Kantor BPH Migas, Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Baca juga: Warga Desa Terpencil di Halmahera Barat Nikmati BBM Satu Harga

Sub Penyalur yaitu perwakilan dari sekelompok konsumen pengguna macam BBM Tertentu (Solar) dan/atau macam BBM Khusus Penugasan (Premium) di daerah dengan kriteria yg ditetapkan.

Ketentuannya, jelas pria yg akrab disapa Ifan ini, sub penyalur tak boleh mengambil margin keuntungan, cuma boleh tidak mengurangi ongkos angkut dari SPBU terdekat ke lokasinya, yg ditetapkan oleh Bupati.

Terkait syarat pembukaan sub penyalur sendiri merupakan memiliki izin lokasi dari Pemerintah Daerah, jarak minimal 5 kilometer dari APMS (10 kilometer dari SPBU), serta pertimbangan lain.

“Lalu, kami juga mengusulkan pembangunan mini SPBU berbasis kecamatan, dengan harapan menjamin ketersediaan dan pendistribusian BBM kepada masyarakat di wilayah-wilayah yg belum mendapatkan penyalur BBM Satu Harga,” kata Ifan.

Baca juga: Pakai BBM Premium dan Pertalite Lebih Mahal Dibanding Pertamax?

Pembangunan Mini SPBU berbasis kecamatan yaitu sebuah bentuk kerjasama antara Badan Usaha Niaga BBM yg bisa dikerjakan dengan Koperasi, Pesantren, maupun dengan BUMDES. Bedanya, di SPBU kecil ini mulai dijual juga BBM non subsidi yg memiliki spesifikasi oktan di atas 90 seperti Pertamax.

Sumber: http://otomotif.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca

No More Posts Available.

No more pages to load.