Berhemat, Tesla Tutup Sejumlah Diler Di China

oleh -61 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Beijing – Produsen mobil listrik ternama Tesla berencana menutup dua diler dan ruang pamernya di pasar China.

Sejumlah pengamat berpendapat kebijakan tersebut ditempuh sebagai upaya penghematan biaya dalam menghadapi persaingan dari produk lokal China yg sedang gencar memperbanyak diler sebagaimana dilaporkan dua media setempat, Selasa.

Tesla mulai menutup dua diler di China akan triwulan kedua dan hal itu mulai dikerjakan terhadap beberapa dilernya di Shanghai, demikian ifnews.com melaporkan.

Perusahaan otomotif yg berbasis di California, Amerika Serikat, itu juga mulai mengakhiri hubungan kerja dengan dua staf penjualannya di China.

“Kami mulai menutup dua diler, tetapi tetap mempertahankan platform, lokasi, dan pusat keterangan di dua tempat ramai pembeli,” demikian pernyataan kantor Tesla yg dikutip yicai.com.

Menurut laman resminya, Tesla memiliki 64 diler di daratan Tiongkok. Namun, pada Minggu (10/3) Tesla kembali pada rencana semula yg pernah disampaikan oleh CEO Elon Musk pada akhir Februari dulu mengenai penutupan sebagian besar dilernya dan beralih pada penjualan daring bagi menghemat biaya sehingga harganya pun lebih realistis.

Pihak Tesla menyebutkan 20 persen diler lainnya juga sedang dalam peninjauan selama dua bulan ke depan dengan mempertimbangkan efektivitas sehingga ada yg harus ditutup dan ada yg masih tetap buka.

Perusahaan itu juga mulai menaikkan harga mobil listrik Tesla sebesar 3 persen di segala dunia pada 18 Maret 2019, kecuali buat model 3 yg dipatok 35.000 dolar AS.

Pengamat otomotif independen yg berbasis di Shanghai Wu Shuocheng menganggap bahwa kebijakan tersebut sangat tepat buat Tesla karena produknya sudah mendapatkan pengakuan yg positif dari pelanggannya di China seperti dikutip Global Times.

Berbeda dengan pengamat otomotif independen yg berbasis di Beijing Su Hui yg berpendapat bahwa tak seharusnya Tesla mengambil langkah sejauh itu.

“Untuk membangun jaringan bisnis daring dan luring memang bagian dari strategi, namun Tesla seharusnya mampu memahami bahwa kendaraan yaitu aset terbesar kedua buat keluarga di China. Bagi dua konsumen, butuh pengalaman nyata sebelum membuat keputusan membeli atau tidak,” ujarnya.

“Sangat perlu menjajal kendaraan secara fisik di diler sebelum memutuskan,” kata seorang profesional bermarga Li menambahkan.

Meskipun Tesla dianggap dominan di industri kendaraan energi terbarukan (NEV) di China, langkah penutupan tersebut tak mulai diikuti oleh pesaing lokalnya.

Beberapa NEV lokal yg berkembang pesat mulai selalu memperluas outlet mereka di daratan Tiongkok itu.

Pendiri sekaligus CEO WM Motor Shen Hui menyatakan tak mulai mengikuti langkah Tesla. Sebagai perusahaan rintisan, WM masih mulai memperluas jaringan dilernya.

Demikian halnya dengan Xiaopeng Motors yg berencana mulai membuka 70 diler baru di 30 kota di China. Langkah serupa juga mulai dikerjakan oleh Nio yg dijuluki “Teslanya China”.

“Berbagai tahap pengembangan sangat menentukan strategi pengembangan yg berbeda pula. Dibandingkan dengan Tesla, keberadaan diler lokal masih sangat lemah,” kata Wu menambahkan. [tar]
Sumber: http://teknologi.inilah.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca