Ahli: GrabWheels Hanya Cocok Di Tempat Wisata

oleh -101 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Jakarta – Esensi kehadiran skuter listrik seperti GrabWheels punya Grab di Indonesia perlu dikaji lagi. Mempertimbangkan faktor keselamatan dan pemanfaatan terkait mobilitas masyarakat di jalan raya.

“Demam micro-mobility (e-scooter/skuter listrik) memang sedang terjadi di kota-kota besar dunia. Contohnya Berlin, yg bahkan sampai ada lebih dari lima perusahaan penyedia jasa micro-mobility ini,” Executive Director Rujak Center for Urban Studies (RCUS) Elisa Sutanudjaja, mengungkapkan dalam informasi tertulisnya kepada .

Namun, menurutnya, penggunanya sebetulnya bukan warga lokal. Sebab harga sewa yg cukup mahal. “Sampai 5 euro. Pengguna terbesarnya itu turis,” lanjutnya.

Warga Kota Berlin sendiri kurang mengapresiasi keberadaan e-scooter itu. “Ada celotehan yg bilang bahwa pengguna terbesar e-scooter, selain turis, dan biasanya mereka mabuk jadi membahayakan pejalan kaki,” Elisa mengungkapkan.

Maka skuter listrik, kata dia, mulai menarik seandainya beroperasi di tempat wisata atau pusat kegiatan macam tertentu yg banyak atraksi. Bukan di jalan raya.

Saat ini, Grab menjadi pihak paling giat dalam usaha penyewaan skuter listrik memakai merek dagang GrabWheels. Tersebar di sejumlah tempat terutama di kota besar seperti Jakarta.

Data Forbes dan Statista berdasarkan riset yg dikerjakan oleh University of California Los Angeles dan diterbitkan dalam jurnal medis JAMA Network Open mengungkapkan potensi cidera fatal akibat penggunaan skuter listrik. Terutama karena tak terbiasa mengendarainya di kepadatan dahulu lintas.

Seperti dikutip dari Forbes.com, penelitian tersebut dikerjakan di AS pada rentang 1 September 2017 sampai 31 Agustus 2018, ditemukan sebanyak 249 orang terlibat dalam kecelakaan skuter listrik.

Seluruh korban memerlukan perawatan medis dengan sepertiga di antaranya diangkut ke rumah sakit memakai ambulan.

Sebesar 40 persen dari cidera itu adalah patah tulang. Kemudian masalah menderita trauma kepala sebesar 31,7 persen. Sementara sebesar 27,7 persen korban menderita luka, terkilir, dan memar.

Penelitian juga menemukan bahwa cuma 4,4 persen pengguna skuter listrik yg memakai helm.

Kecelakaan yg paling umum dicatat adalah jatuh, tabrakan dengan objek lain, dan pengendara tertabrak kendaraan atau benda yang lain yg bergerak. [ikh]
Sumber: http://teknologi.inilah.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca