Operasi Penyelamatan 16 Warga Negara Jepang Saat Peristiwa 1965

oleh -196 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya


PADA 22 Maret 2018, kebetulan aku makan siang di sebuah restoran sushi Okunoen, Tsukiji, di Tokyo. Ada 3 meja besar di sesuatu ruangan di restoran itu. 

Saya, istri, dan teman-teman duduk di sesuatu meja. Sementara, di beberapa meja lainnya duduk orang-orang Jepang yg tak kalian kenal.

Kebetulan di antara teman kita sesuatu meja ada yg berulangtahun. Kejutan tiba saat kalian selesai makan dan hendak meninggalkan restoran.

Seorang pelayan bersama beberapa orang teman kalian yg tinggal di Tokyo tiba dengan kue ulangtahun lengkap dengan lilin dan bernyanyi “happy birtday to you”.

Yang mengejutkan, melihat perayaan kecil itu, orang-orang Jepang yg tak kita kenal yg duduk di beberapa meja dekat kalian berhenti makan, berdiri, dan ikut bernyanyi. Kami menghampiri mereka dan menyapa sesuatu per sesuatu seraya mengucapkan terima kasih atas simpati mereka.

Di salah sesuatu meja ada empat orang kakek dan sesuatu orang nenek. Mereka bertanya dari mana yang berasal kami. Mengetahui kita dari Indonesia salah seorang dari mereka berbicara beberapa tiga kata dalam bahasa Indonesia, di antaranya “terima kasih.”

Interaksi menjadi lebih hangat. Bincang-bincang ringan terjadi. Ada yg mengaku pernah tinggal di Yogyakarta kurang lebih 3 tahun.

Salah sesuatu dari mereka memperkenalkan diri sebagai Toshimitsu Morita, anggota manajemen grup kontraktor Jepang yg bertugas membangun Hotel Ambarukmo.

Konon, Ambarukmo Hotel, Bali Beach, dan Samudra Beach Hotel adalah Hotel Internasional yg dibangun Jepang sebagai bagian dari program pampasan perang Jepang bagi Indonesia.

Operasi penyelamatan

Tidak ada perbincangan istimewa hingga mereka tahu bahwa aku adalah mantan anggota Angkatan Udara Republik Indonesia. Mengetahui bahwa aku adalah prajurit Angkatan Udara, Bapak Toshimitsu mengatakan kisah dramatis operasi penyelamatan 16 warga Jepang dari Jogyakarta ke Jakarta pada tahun 1965.

Mereka adalah empat dari 16 orang yg diselamatkan. Nenek di meja itu lalu adalah seorang guru yg mengajar di Universitas Gajah Mada. Sementara, empat kakek tersebut adalah anggota manajemen kontraktor yg membangun Hotel Ambarukmo.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-210346665559669319-411'); });

Bapak Toshimitsu Morita, Goro Yamazaki, Tsuyoshi Hashiba, Hiroski Takahashi, dan Ibu Noriko Ishizaki yg duduk di meja sebelah kita dengan terbata-bata dalam bahasa campuran Jepang, Inggris, dan Indonesia menceritakan kisah yg tak mulai pernah mereka lupakan seumur hidup.

Dengan bantuan sahabat saya, orang Indonesia yg sudah lebih 30 tahun tinggal di Jepang, sebagai penterjemah sukarela, Toshimitsu San dan teman-teman menceritakan kisah dramatis di tahun 1965 ketika operasi pembasmian PKI tengah berlangsung di Jawa Tengah.

Situasi ketika itu demikian chaos, tak menentu, dan gawat. Segala kemungkinan terburuk mampu terjadi terhadap ke-16 orang Jepang tersebut. Dalam situasi yg menegangkan mereka dievakuasi oleh polisi dan prajurit Angkatan Udara ke Jakarta.

Ke-16 warga Jepang itu diterbangkan dari Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, ke Lanud Halim Perdanakusuma. Di tahun 1965 Lanud Halim masih steril dari kegiatan penerbangan komersil.

Mereka diterbangkan dengan pesawat fighter dan bomber AURI. Perlu dua kali pergi-pulang karena sesuatu pesawat cuma dapat membawa sesuatu atau beberapa orang.

Saya tak begitu percaya dengan ceritanya tentang pesawat fighter dan bomber yg disebut-sebut digunakan buat operasi evakuasi tersebut. Tetapi, Bapak Toshimitsu dengan percaya menyampaikan bahwa dia tahu betul bahwa itu adalah pesawat macam fighter dan bomber.

Kemungkinan besar, mampu saja yg dimaksud adalah dua pesawat latih antara pesawat T-34A Mentor yg yaitu pesawat latih di Sekolah Penerbang AU di Joggyakarta.

Atau mungkin, mampu saja juga yg dimaksud dengan pesawat bomber adalah B-25 Mitchel yg dimiliki Angkatan Udara ketika itu.  Pesawat tersebut masih digunakan ketika Operasi Seroja di Timor-timur tahun 1970-an.

Toshimitsu menutup ceritanya dengan mata berkaca-kaca menahan haru. Ia mengatakan, dirinya dan teman-temannya berhutang budi kepada Angkatan Udara Indonesia yg disebutnya sangat tulus menyelamatkan mereka.

Mereka tak tahu sama sekali tentang apa yg sebenarnya terjadi. Mereka cuma mendapat keterangan bahwa sedang terjadi “kudeta”.

Di Lanud Halim mereka dijemput oleh petugas Kedutaan Besar Jepang dan dipulangkan ke Tokyo dengan selamat. Dua tahun setelah itu mereka kembali ke Indonesia, ke Yogyakarta, bagi meneruskan pekerjaan yg belum selesai.

Itulah cerita Toshimitsu Morita dan teman-teman ketika makan siang di sebuah restoran sushi di tengah keramaian kota Tokyo pada pertengahan Maret yg dibalut suhu dingin 5 hingga 10 derajat celcius.

Walahualam bisawab.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112'); });

Sumber: http://nasional.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca