Masih Jadi Kontroversi, Ini 4 Pertanyaan Seputar Supersemar…

oleh -62 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

– Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar yaitu salah sesuatu kontroversi terbesar dalam sejarah Indonesia. 

Bermodalkan Supersemar, Soeharto yg ketika itu menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat mendapat mandat dari Presiden Soekarno buat memulihkan kondisi pasca-Gerakan 30 September yg selama ini dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia.

Namun, secara perlahan Soeharto melakukan sejumlah langkah strategis yg membuat dia mengambil alih kepemimpinan nasional.

Adapun, kontroversi terbesar adalah ketika ini tak ada yg tahu di mana keberadaan Supersemar. Salinan terkait kepemimpinan nasional itu hingga ketika ini tidak terlacak, meski peristiwa penyerahan Supersemar mampu dibilang memiliki bukti sejarah yg kuat.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-5112'); });

 

Setelah 53 tahun surat mandat itu dirilis, berikut sejumlah fakta terkait Supersemar.  berupaya menghadirkannya dalam bentuk pertanyaan, dengan harapan tetap memicu upaya pengungkapan misteri yg menyelubunginya.

1. Supersemar jadi alat kudeta?

Supersemar tidak cuma akronim dari Surat Perintah 11 Maret 1966. Surat ini bisa dibilang sebagai “mandat” yg diberikan Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto, selaku Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Dalam naskah Supersemar, disebut bahwa Soeharto mampu mengambil seluruh tindakan yg dianggap perlu buat mengawal jalannya pemerintahan saat itu. Setelah keadaan pulih, Soekarno berharap mandat itu dikembalikan.

Namun, Soeharto kemudian melakukan sejumlah langkah strategis yg dianggap merugikan Soekarno. Dilansir dari dokumentasi Harian , langkah itu antara yang lain menangkap 15 menteri loyalis Soekarno.

Selain itu, Soeharto tanpa persetujuan Soekarno juga melakukan pembubaran PKI yg kemudian dianggap sebagai organisasi terlarang. The Smiling General itu juga membubarkan Tjakrabirawa selaku pasukan pengaman presiden, serta berupaya mengontrol media.

Baca juga: Aksi Soeharto Berbekal Supersemar, dari Bubarkan PKI hingga Kontrol Media

Langkah Soeharto itu disesali Soekarno, yg menganggap sudah melampaui wewenang pengemban Supersemar.

Presiden Soekarno membantah bahwa Supersemar adalah alat buat transfer kekuasaan kepada Soeharto. Hal ini disampaikan Soekarno dalam pidato yg disampaikan ketika peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1966.

“Dikiranya SP 11 Maret itu suatu transfer of authority, padahal tidak,” kata Soekarno dalam pidato berjudul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” atau lebih dikenal dengan sebutan “Jasmerah”.

Sejarawan Asvi Warman Adam pun menilai bahwa Supersemar menjadi alat buat Soeharto bagi melakukan “kudeta merangkak”.

Soeharto sendiri telah membantah mengenai tuduhan kudeta. Dikutip dari arsip Harian , Soeharto yg ketika itu menjabat presiden menyampaikan bahwa Supersemar cuma digunakan bagi “membubarkan PKI dan menegakkan kembali wibawa pemerintahan”.

“Saya, kata Presiden Soeharto, tak pernah menganggap Surat Perintah 11 Maret sebagai tujuan buat memperoleh kekuasaan mutlak. Surat Perintah 11 Maret juga bukan yaitu alat bagi mengadakan kup terselubung,” demikian kutipan di Harian terbitan 11 Maret 1971.

Baca juga: Supersemar, Surat Kuasa atau Alat Kudeta?

2. Siapa saja terlibat?

Menteri Perindustrian, Letjen TNI M. Jusuf (kiri) dan Menteri Dalam Negeri Letjen TNI Amir Machmud (kanan) keduanya Tokoh Supersemar disamping Almarhum Letjen TNI Basuki Rachmat, tampak terlibat dalam suatu pembicaraan serius. Gambar ini diambil di ruang tunggu (VIP room) L.U. Kemayoran Kamis pagi 10 Maret 1977 sesaat sebelum kedua pejabat tersebut meninggalkan Jakarta bagi mengadakan kunjungan kerja ke daerah. menteri Jusuf pada hari itu mulai ke Padang buat meresmikan perluasan Pabrik Semen Indarung II sedang Menteri Amir Machmud mulai ke Irian Jaya buat mengadakan serangkaian kunjungan kerja di daerah tersebut. Menteri Perindustrian, Letjen TNI M. Jusuf (kiri) dan Menteri Dalam Negeri Letjen TNI Amir Machmud (kanan) keduanya Tokoh Supersemar disamping Almarhum Letjen TNI Basuki Rachmat, tampak terlibat dalam suatu pembicaraan serius. Gambar ini diambil di ruang tunggu (VIP room) L.U. Kemayoran Kamis pagi 10 Maret 1977 sesaat sebelum kedua pejabat tersebut meninggalkan Jakarta bagi mengadakan kunjungan kerja ke daerah. menteri Jusuf pada hari itu mulai ke Padang buat meresmikan perluasan Pabrik Semen Indarung II sedang Menteri Amir Machmud mulai ke Irian Jaya buat mengadakan serangkaian kunjungan kerja di daerah tersebut.

Secara mendasar, Supersemar melibatkan Presiden Soekarno dan Letjen Soeharto. Namun, surat itu tak diberikan segera melainkan melalui perantara tiga jenderal.

Dengan demikian, ada lima orang yg terlibat dalam penyerahan “surat sakti” tersebut. Selain Soekarno dan Soeharto, ada juga nama Brigjen Amirmachmud, Brigjen M Jusuf, dan Mayjen Basuki Rachmat.

Soekarno selaku presiden pada Jumat pagi, 11 Maret 1966, sempat mengadakan meeting Kabinet 100 Menteri. Namun, dia harus meninggalkan lokasi setelah mendengar ada pasukan tidak dikenal di sekitar Istana Kepresidenan di Jakarta.

Amirmachmud selaku anggota kabinet kemudian melaporkan keadaan terakhir di Istana kepada Soeharto. Kemudian, bersama M Jusuf dan Basuki Rachmat, mereka bertiga menemui Soekarno yg telah berada di Istana Bogor buat mengatakan permintaan Soeharto.

Baca juga: Ini Peran 5 Tokoh Penting dalam Penyerahan Supersemar…

Permintaan Soeharto bagi diberikan mandat khusus tak dianggap luar biasa oleh Soekarno, mengingat situasi pada hari-hari itu memang tak menentu. Demonstrasi mahasiswa menentang pemerintah berlangsung setiap hari sehingga mengganggu aktivitas pemerintah.

Dilansir dari Harian yg terbit pada 7 Maret 2010, di Istana Bogor, Presiden Soekarno didampingi oleh Wakil PM I/Menlu Subandrio, Wakil PM II/Ketua MPRS Chairul Saleh, dan Wakil PM III J Leimena. Di tempat itu juga hadir Panglima Kodam Siliwangi Mayjen Ibrahim Adjie.

Sempat muncul desas-desus bahwa ada juga jenderal keempat yg hadir, merupakan Wakil Panglima AD, Brigjen Maraden Pangabean.

Ajudan Soekarno, Soekardjo Wilardjito, bahkan menyebut Maraden menodongkan pistol ketika meminta dibuatkan surat mandat buat Soeharto. Namun, pernyataan Soekardjo sudah dibantah Maraden, M Jusuf, juga Soebandrio.

Baca juga: Benarkah Soekarno Ditodong Pistol Saat Teken Supersemar?

3. Soekarno menyesali Supersemar?

Keberadaan naskah asli dan perbedaan interpretasi mengenai Supersemar menjadi permasalahan saat itu.

Soekarno menilai bahwa Soeharto tak berhak melakukan itu, walaupun ia menggenggam Supersemar.

Ia akhirnya mengeluarkan Supertasmar, Surat Perintah 13 Maret 1966. Ini yaitu surat perintah yg dikeluarkan Soekarno buat mengoreksi Supersemar.

Dalam buku Menggugat Kudeta Jenderal Soeharto: Dari Gestapu ke Supersemar (1998) karya AM Hanafi, disebutkan bahwa Kelahiran Supertasmar berawal saat Soekarno marah mendengar kabar bahwa Partai Komunis Indonesia dibubarkan oleh Soeharto.

Kekeliruan langkah Soeharto dalam menginterpretasi Supersemar itulah yg memicu Soekarno mengeluarkan Supertasmar.

Supertasmar itu berisi pengumuman bahwa Supersemar bersifat administratif/teknis, dan tak politik. Soeharto juga diminta bagi langsung memberikan laporan kepada Presiden.

Namun sampai ketika ini, keberadaanya tidak jelas. Supersemar dan Supertasmar yg asli belum mampu diketemukan bahkan pencarian sampai Sekretariat Negara.

Baca juga: Misteri Supertasmar, Surat Perintah dari Soekarno bagi Koreksi Supersemar

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam menilai bahwa Supersemar yaitu blunder yg dibuat Soekarno.

“‘Mengambil suatu tindakan yg dianggap perlu'. Itu mungkin blunder yg dikerjakan Bung Karno, oleh seorang sipil, dengan perintah yg tak jelas pada seorang tentara,” kata Asvi pada 6 Maret 2016.

Baca juga: Wawancara Asvi Warman Adam: Supersemar Mungkin Blunder Bung Karno

4. Ada tiga versi Supersemar?

Salinan Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar Salinan Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar

Keraguan keaslian Supersemar yg dipublikasikan secara luas muncul setelah Presiden Soeharto dan Orde Baru (Orba) tumbang pada 1998.

Saat ini, Supersemar yg beredar di tengah masyarakat ada tiga versi. Ketiga versi itu tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Namun, tiga naskah Supersemar yg disimpan dalam brankas antiapi punya ANRI di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, dipastikan tak autentik alias palsu. Kepastian bahwa naskah itu palsu diperoleh setelah dikerjakan uji forensik di Laboratorium Polri pada 2012.

Baca juga: Berburu Naskah Asli Supersemar…

Adapun tiga versi itu, pertama adalah Supersemar dari Sekretariat Negara dengan ciri-ciri jumlah halaman beberapa lembar, berkop Burung Garuda, diketik rapi, dan di bawahnya tertera tanda tangan beserta nama Sukarno.

Kedua, Supersemar yg diterima dari Pusat Penerangan TNI AD dengan ciri jumlah halaman sesuatu lembar, berkop Burung Garuda, ketikan tak serapi versi pertama.

Penulisan ejaan telah memakai kaidah bahasa Indonesia yg berlaku pada ketika itu. Jika pada versi pertama di bawah tanda tangan tertulis nama Sukarno, pada versi kedua tertulis nama Soekarno.

Ketiga, adalah Supersemar yg diterima dari Yayasan Akademi Kebangsaan, dengan ciri jumlah halaman sesuatu lembar, sebagian surat robek sehingga tak utuh lagi, kop surat tak jelas, cuma berupa salinan.

Tanda tangan Soekarno pada versi ketiga ini juga berbeda dengan versi pertama dan kedua.

Baca juga: Wawancara Kepala Arsip Nasional, Supersemar Gelap, Tak Ada Dokumen dari Periode Itu

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112'); });

Sumber: http://nasional.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca