Rumus 20-20 Ini Jauhkan Mata Anda Dari Kacamata

oleh -277 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Menjadi salah sesuatu organ vital, mata justru kadang disepelekan dan dipaksa bekerja keras. Apalagi seiring perkembangan teknologi berupa gadget dan komputer ketika ini.

BERITA TERKAIT
  • Mata gatal? Jangan kucek pakai tangan!
  • Jangan dikucek! Ini 8 solusi sederhana bagi mata yg kering dan gatal
  • Steve Jobs dan Bill Gates justru larang anak pakai gadget, kenapa?

Anda harus tahu, ada beberapa kebiasaan sehari-hari yg ternyata dapat meningkatkan risiko gangguan kelainan refraksi pada mata, merupakan kebiasaan baca yg terlalu dekat dan paparan sinar ponsel yg terus-menerus.

Kelainan atau gangguan refraksi adalah kelainan pembiasan cahaya yg membuat bayangan tak fokus tepat di retina mata. Alhasil mata atau penglihatan jadi kabur.

Dan kelainan refraksi yg tak terkoreksi sebesar 42 persen yaitu penyebab paling besar dari gangguan mata di segala dunia.

Dokter Spesialis Mata dari SILC Lasik Center at Klinik Mata Cahaya Tijar, Zoraya Ariefia Feranthy, mengatakan, di banyak jurnal telah dinyatakan bahwa sebesar 70 persen faktor refraktif seseorang dapat dipengaruhi oleh genetika (keturunan).

Sementara itu sisa 30 persen karena faktor kebiasaan. “Faktor yg paling kami tak sadari adalah gadget dan kebiasaan baca,” kata Zoraya.

Sehingga, kebiasaan kalian memakai penglihatan baca dekat itu sangat memengaruhi kelainan refraksi pada mata kita.

“Kalau faktor genetika, kami tak dapat apa-apakan. Akan tapi yg mampu kami kendalikan adalah kebiasaan baca dekat, salah satunya, dahulu kemudian paparan gadget selalu menerus,” ujar dia.

Ingat Rumus 20 – 20

Zoraya terus mengingatkan para pasiennya bagi mengingat rumus 20 (menit) – 20 (detik). Setelah kalian membaca buku, memakai ponsel, atau menatap layar komputer selama 20 menit, langsung melihat satu yg jauh (dengan jarak lebih dari enam meter) selama 20 detik.

“Jadi gampang. 20-20 itu buat menjaga kelainan refraksi kita,” kata Zoraya.

Namun, balik lagi, genetika atau keturunan yaitu faktor yg paling sulit diprediksi dan dikendalikan. “Itu sangat menentukan kecepatan perubahan, sekaligus berapa besar kelainan itu masih terjadi,” kata Zoraya menekankan.

Sumber: Liputan6.com [ita]

Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca