Psikolog: Jangan Marah Lihat Unggahan Negatif Soal Bom Surabaya

oleh -192 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Bom yg meledak di tiga gereja di Surabaya dan memakan korban menuai reaksi beragam. Ada yg simpati, namun tidak sedikit orang melontarkan komentar negatif.

BERITA TERKAIT
  • Awas, anak mampu trauma lihat korban bom Surabaya
  • Awas, 3 macam gangguan jiwa yg rentan terjadi pada wanita
  • Gangguan jiwa dysmorphic disorder muncul karena media sosial. Apa itu?

Biasanya, mereka berani melontarkan pendapat negatif itu di media sosial. Salah sesuatu yg menuai kontroversi adalah unggahan politikus dari Partai Gerinda, Fadli Zon.

Dalam rentetan twit-nya, Fadli Zon menulis, “Terorisme biasanya berkembang di negara yg lemah pemimpinnya, gampang diintervensi, banyak kemiskinan ‘N ketimpangan dan ketidakadilan yg nyata.” Tidak sedikit kemudian warganet yg murka dan marah melihat status tersebut.

Yang melakukan hal ini bukan hanya Fadli Zon saja. Banyak juga pihak yang lain yg berkomentar negatif, menuduh kejadian tersebut hanyalah propaganda, atau malah menyebar isu hoaks lewat media sosial mereka.

Jelas saja hal ini mengundang kemarahan warganet lain. Beberapa di antaranya bahkan sampai melakukan tangkap layar (screen capture), dulu mengunggahnya di media sosial masing-masing sambil mengajak yg yang lain bagi tak berbuat hal yg sama.

Pertanyakan laki2 yang berdiri di sampingnya apakah ada kaitan dari wanita itu…
Tangkap pendukung teroris [email protected]_Polri @CCICPolri #PrayForSurabaya

Rico Ariesta (@AriestaricoRico) 13 Mei 2018

Psikolog Anak dan Remaja, Ike R Sugianto, yg juga mengetahui hal tersebut, lebih menyarankan agar kita, para warganet, tak merespons apa pun status negatif yg berkaitan dengan bom Surabaya.

“Kalau kalian lihat posting-an di media sosial kurang sreg di hati, mending melipir saja. Sudah, tak perlu komentar apa pun, dan tak perlu juga coba meluruskan penulisan status tersebut,” kata Ike.

Menurut Ike, pemerintah sendiri telah menganjurkan kami buat melapor siapa pun yg menuliskan status yg bersifat radikal. Kalau status terkait bom Surabaya yg dibaca itu kurang sensitif, mending diamkan saja.

“Ada dikatakan, otak itu bekerja sesuai persepsi, bekerja sesuai pemahaman orang tersebut. Jadi, tak ada gunanya menjelaskan satu kepada orang yg tak ingin mendapatkan penjelasan,” kata Ike.

Diam bukan berarti setuju

Kemudian, kalau penulis status tersebut telah beranggapan yg benar adalah a, b, atau c, mau kami bilang itu salah dan yg benar adalah x, y, atau z, mereka tak mulai mau menerimanya. Malah yg terjadi adalah perpecahan.

“Menurut saya, tak perlu dikomentari apa pun,” ujarnya. “Dikomentari balik, juga tak berubah, toh?” kata Ike menambahkan.

Ike cuma mengingatkan, diam bukan berarti kalian setuju sama pendapat yg salah dan kurang sensitif terhadap bom Surabaya tersebut. Akan tetapi, untuk apa memperbesar isu-isu seperti itu?

“Bisa jadi, ada akun yg tak kenal memang sengaja dibuat bagi memanaskan suasana. Jadi, lebih baik diam, kalau itu yg dibahas itu isu radikal, langsung laporkan,” ujarnya.

Sumber: Liputan6.com [ita]

Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca