Pasangan Suami Istri Harus Saling Jujur

oleh -83 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Jakarta – Membangun rumah tangga memang tak mudah. Selain butuh kasih sayang dan pengorbanan, agar rumah tangga tak goyah saat mendapat serangan dari orang ketiga, dibutuhkan pemikiran yg jernih.

Masalah dalam membangun rumah tangga memang tak dapat terbentung. Pasangan suami istri justru tak dapat menangkal datangnya persoalan dari seluruh sisi. Terlebih saat hubungan tengah renggang, dan masuklah pihak ketiga yg meruntuhkan biduk rumah tangga yg tengah dibangun.

Ini tak saja menyakitkan, tapi juga sangat menyita pikiran Anda dalam menjalankan hidup.

Berkaca dari persoalan rumah tangga yg belakangan ini marak karena adanya orang ketiga, psikolog Tika Bisono, menyarankan agar pasangan suami istri mampu berkonsultasi dengan baik kepada psikolog saat menghadapi persoalan tersebut.

“Tika Bisono menggaris bawahi pentingnya berkonsultasi ke pakar psikologi perkawinan. Tujuannya bagi kembali ke rambu-rambu,” kata Tika Bisono seperti yg dikutip dari siaran pers, Jakarta, Senin, (14/01/2019).

Masih menurutnya, ini adalah fase ujian yg kerap tiba pada pasangan suami istri. Tinggal, bagaimana keduanya menghadapi dan mengatasi persoalan tersebut.

“Di sinilah fase ujian kesuamian dan keistrian sebuah pasangan. Apakah istri dapat menerima suami saat lemah. Atau, apakah suami mampu menerima istri ketika lemah,” tambahnya.

Dia melanjutkan, pada fase konsultasi, keduanya harus jujur, dan jujur itu adalah bagian terberat.

“Jangan berlindung di balik dalih dikerjain, dikejar-kejar, tapi faktanya setelah makan malam pertama, masih ada makan malam kedua, ketiga, bahkan kemudian sarapan dan makan siang. Atau dengan kata lain, tak mungkin pihak luar mampu membuka pintu pribadi kita, kalau tak dikasih kunci. Itu logika,” ungkap Tika.

Berdasar teori psikologi, maupun berdasar pengalaman Tika Bisono sebagai psikolog, fase konseling pasangan yg usai didera masalah orang ketiga, harus dibawa ke pemahaman it takes two to tango.

“Lepas dari kadar besar kecil, perkara orang ketiga terjadi karena kesalahan tiga orang sekaligus. Orang ketiga salah, suami salah, istri salah. Ini mulai terbuka dalam sesi konsultasi. Jika suami-istri jujur dan bersedia me-reset hubungan, bukan tak mungkin mulai menimbulkan katarsis. Menumbuhkan hal-hal positif yg justru memperkuat ikatan pernikahan ke depan,” ujarnya.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca