Orthorexia Nervosa, Obsesi Pada Makanan Sehat Yang Justru Membahayakan

oleh -320 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Jika berbicara tentang gangguan makan, mungkin kamu telah familiar dengan bulimia, anoreksia, atau emotional eating. Semua gangguan makan ini milik tujuan yg sama merupakan buat mencapai bentuk tubuh sehat idaman.

BERITA TERKAIT
  • Lawan bahaya anoreksia dengan 8 makanan sederhana ini
  • Foto selfie picu gangguan makan?
  • Ini efek mengerikan gangguan makan pada pria

Lalu, apakah kamu mendengar tentang Orthorexia Nervosa alias obsesi tak wajar mulai konsumsi makanan sehat.

Ya, kamu tak salah membaca bahwa ada dua orang yg begitu terobsesi buat memiliki tubuh sehat dan bentuk menawan sehingga mereka tergila-gila dengan makanan sehat hingga berubah menjadi obsesi yg tak sehat. Dan obsesi ini dinamakan dengan Orthorexia Nervosa.

Gangguan ini merayap perlahan namun pasti menghinggapi pikiran penderitanya. Bermula dari niat bagi menurunkan berat badan dan memiliki tubuh yg lebih sehat, penderita pun akan mengubah pola makan dan menambahkan rutinitas olahraga harian. Berat badan pun mulai turun hingga penderita pun menuai pujian dari orang di sekitarnya.

Dorongan dopamin yg muncul karena pujian ini membuat penderita bahagia dan akan membuat mereka memperhatikan apa yg mereka makan, menghitung kalori, dan memeriksa setiap makanan yg mulai dikonsumsi. Tidak lama kemudian, gangguan ini mulai membuat penderitanya tidak mampu menikmati makanan enak atau kegiatan yg bersifat rekreasional lainnya. Jika mereka makan 1 potong kue saja, maka mereka mulai menggantinya dengan olahraga mati-matian.

“Bagi penderita orthorexia nervosa, sejumput garam diukur, setiap gigitan makanan dihitung, dan dulu diganti dengan olahraga. Siklus ini berlangsung secara obsesif hingga penderita tidak menyadari bahwa lama-kelamaan kesehatan tubuh dan pikiran mereka memburuk,” terang penelitian yg dilansir dari Boldsky.com.

Lalu, apa yg harus dikerjakan agar penderita mampu sembuh?

“Sama seperti gangguan makan lain, penderita membutuhkan bantuan dokter, sebaiknya psikiater atau psikolog buat menolong mereka memahami akar persoalan dan kemudian menyingkirkannya. Dukungan positif dari lingkungan terdekat seperti keluarga, pasangan, dan teman juga diperlukan agar penderita bebas dari gangguan ini.” [feb]

Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca