Kemenkes Sediakan 29 Ambulans Untuk Jemaah Haji

oleh -61 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Jakarta – Dalam pelayanan kesehatan haji, ambulans menjadi salah sesuatu komponen yg memiliki peran yg tak kalah pentingnya ketimbang unsur lainnya.

Ambulans kerap digunakan buat melakukan evakuasi atau rujukan berjenjang dari layanan di tingkat sektor ke fasilitas kesehatan. Ambulans juga biasanya dipergunakan buat proses tanazul dan visitasi dokter.Pada penyelenggaraan haji 1440H, Kementerian Kesehatan menyediakan 29 ambulans yg tersebar bagi tiga daerah kerja; Makkah, Madinah, Bandara.

“Ini yaitu komitmen nyata Kemenkes dalam mendukung penyelenggaraan haji. Berusaha memberikan yg terbaik. Semua dana operasionalnya pun berasal dari APBN murni Kemenkes,” ujar Dr. dr. Eka Jusup Singka, Msc. Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes RI, seperti yg dikutip dari siaran pers, Jakarta, Rabu, (07/08/2019).

Seluruh ambulans yg melayani jemaah haji Indonesia harus memenuhi standar Arab Saudi. Standar berlaku pada aspek fasilitas atau prasarana bagi mendukung pelayanan optimal, akan dari peralatan yg digunakan, perbekalan pendukung dan sumber daya manusianya. Saat ini seluruh ambulans punya Indonesia sudah memenuhi kriteria standar yg ditentukan dan telah mendapatkan sertifikat Hilal Akmar dari Otoritas Bulan Sabit Merah Arab Saudi (SRCA).

Penanggung Jawab Ambulans, dr. Janni Koesnomo Matsalim, SpOk, MKK, menyampaikan penempatan dan pemanfaatan ambulans berdasarkan kapasitas dan kebutuhannya. Di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah tersedia tiga ambulans besar dan beberapa ambulans kecil.

Ambulans besar digunakan bagi melakukan rujukan pasien dengan status emergensi dari KKHI menuju dua rumah sakit yg ada di Arab Saudi, khususnya wilayah Makkah. Sementara ambulans kecil ditujukan bagi operasional tim visitasi KKHI bagi mengunjungi jemaah haji Indonesia yg tengah dirawat di sejumlah RS Arab Saudi. Sedangkan 11 ambulans lainnya tersebar di sektor 1 hingga sektor 11 Daker Makkah.

“Masing-masing ambulans besar disediakan beberapa pengemudi yg siaga 24 jam, dengan rotasi masing-masing 12 jam. Mereka juga terus didukung 24 jam oleh TGC di masing-masing sektor dalam setiap pergerakannya,” ujar dr. Janni.

Selain pengemudi yg andal, di setiap ambulans besar pada proses rujukan dari sektor atau KKHI ke RS Arab Saudi, pasien mulai didampingi oleh dokter atau perawat dan tenaga pendukung kesehatan. Tenaga kesehatan ini berasal dari Petugas Kesehatan Haji Indonesia, merupakan Tim Gerak Cepat (TGC), Tim Kuratif Rehabilitatif (TKR) dan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).

Meskipun tiap ambulans telah ditempatkan sesuai peruntukkannya, mulai tapi pengaturan tersebut tak bersifat kaku. Janni mencontohkan penggunaan ambulans di KKHI yg mampu memberikan layanan lebih luas. Selain sebagai kendaraan rujukan ke rumah sakit mampu juga sebagai ambulans pendukung buat sektor yg sewaktu-waktu membutuhkan ambulans.

“Apabila unitnya [ambulans sektor]pas kebetulan sedang menuju ke rumah sakit tertentu atau kebetulan misalnya unitnya sedang bermasalah atau apapun, yg prinsipnya sebagai backup,” jelas Janni.

Fleksibilitas ambulans juga berlaku di tiap sektor. Sehingga selain buat melayani sektornya, ambulans di sektor terus bersiap sedia digunakan di sektor yg berdekatan. Kalaupun seluruh sektor yg berdekatan tengah digunakan, maka ambulans KKHI bersiap dikirimkan ke sektor terkait. Dengan adanya sistem regionalisasi tersebut diharapkan tak mulai ada sektor yg kekurangan atau mengalami kekosongan ambulans mana kala dibutuhkan.

“Alhamdulillah masih dapat tertangani bagi pelayanan terhadap 231 ribu jemaah haji kita,” tambahnya.

Khusus buat Armuzna, pengelolaannya lebih kompleks dan bersifat dinamis. Apalagi kebijakan Kerajaan Arab Saudi yg berubah setiap tahunnya. Di periode waktu lima hari, ambulans harus dibagi buat ditempatkan di KKHI, di Arafah, Muzdalifah dan Mina. Begitu juga harus siaga di hotel yg berada di sekitaran kawasan Mina mengantisipasi jemaah yg memilih tak tinggal di tendanya tapi ke hotelnya semula. Positifnya, kendaraan ambulans dari Daker Madinah dan Bandara mulai dikerahkan bagi pelayanan kesehatan di masa Armuzna tersebut.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca

No More Posts Available.

No more pages to load.