Inovasi Kedokteran Gigi Di Era Industri 4.0

oleh -68 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Makassar – Inovasi teknologi semakin bermunculan. Hal ini juga sangat berlaku bagi dunia kedokteran. Kali ini bagi kesehatan gigi.

Dr. drg S. Ratna Laksmiastuti Octavian sebagai pembicara Hands On dalam Pertemuan Ilmiah Nasional Ilmu Kedokteran Gigi Anak ke-12 di Hotel Claro, Makassar, baru – baru ini memperkenalkan suatu aplikasi komputer (software) baru buat memprediksi risiko terjadinya karies gigi pada seorang anak.

Karies atau gigi berlubang menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu persoalan kesehatan penting yang bersifat global.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia yg mempunyai persoalan gigi dan mulut secara rata-rata provinsi adalah sebesar 57,6 persen dan sekitar 10,2 persen lainnya mendapat pelayanan tenaga medis.

Sedangkan prevalensi karies anak usia 5-6 tahun di Indonesia adalah sekitar 93 persen.

“Berbagai upaya sudah dilakukan, baik promotif preventif dan kuratif, tapi prevalensi karies di Indonesia tetap tinggi. Karies pada anak yg tak dirawat mampu mengakibatkan hal-hal yg tak menguntungkan, seperti rasa sakit, infeksi, gangguan aktifitas sehari-hari, gangguan pertumbuhan dan penurunan kualitas hidup,” kata Dr. drg S. Ratna Laksmiastuti Octavian, seperti yg dikutip dari siaran pers, Makassar, Senin, (11/03/2019).

Berdasarkan pokok bahasan tersebut di atas, diperlukan suatu terobosan baru bagi para Dokter Gigi dalam manajemen karies gigi guna menyukseskan Program Nasional Indonesia bebas karies 2030 sesuai rekomendasi WHO.

Inovasi tersebut sejalan dengan perkembangan teknologi ilmu kedokteran gigi di era Revolusi Industri 4.0. Software ini mengedepankan hakikat kedekatan Ibu dan anak, sehingga prediksi risiko terjadinya karies pada anak mampu dikerjakan melalui pemeriksaan Ibunya.

“Banyak hasil riset para ahli memamerkan adanya hubungan yg signifikan antara status kesehatan gigi dan mulut Ibu dengan anaknya,” tambahnya.

Software ini sangat efektif dan bermanfaat sebagai berikut.

1. Alat diagnostik klinik;

2. Identifikasi dan screening pasien khususnya kelompok risiko tinggi;

3. Manajemen karies yg lebih efektif;

4. Sesuai dengan situasi dan keadaan masyarakat Indonesia.
Software ini bisa dipakai secara luas, bebas dan gampang oleh para dokter gigi.

“Software ini berisi interaksi faktor risiko karies dari Ibu dan anak, status penilaian risiko karies pasien anak beserta pedoman manajemen selanjutnya,” ungkapnya.

Pembuatan software ini di bawah supervisi para pakar kedokteran gigi yakni; Prof. Heriandi Sutadi, drg, Sp.KGA (K), Ph.D; Prof. Dr. Sarworini B Budiardjo, drg, Sp.KGA(K); dan Prof. Dr. Tri Erri Astoeti, drg, M.Kes.

Dengan pemakaian software ini secara luas, diharapkan mampu menolong merealisasikan program kesejahteraan Ibu dan Anak khususnya dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut melalui pencegahan karies gigi pada anak Indonesia.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca