Indonesia Ikut Workshop Bhutan

oleh -91 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Bhutan – Delegasi Indonesia mengikuti Regional Workshop on Optimising Antimicrobial Use, with Focus on Antimicrobial Stewardship pada 12 14 Februari 2019, di Paro, Bhutan.

Delegasi Indonesia terdiri dari perwakilan Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan, Kemenkes RI, dan Direktorat Pelayanan Kefarmasian, Kemenkes RI.

Seperti yg dikutip dari siaran pers, Senin, (18/02/2019). workshop yg diadakan oleh WHO South East Asia Region Office (SEARO), bertujuan buat membangun kapasitas nasional dalam mengoptimalkan penggunaan antibakteri melalui implementasi program antimicrobial stewardship (AMS) dan klasifikasi Access, Watch and Reserve (AWaRe) yg diluncurkan oleh WHO tahun 2017.

Acara workshop dibuka oleh Menteri Kesehatan Bhutan, Dr. Lyonpo Dechen Wangmo. Workshop ini dihadiri 46 peserta dari 8 negara South East Asia Region: Bangladesh, Bhutan, India, Indonesia, Nepal, Maldives, Thailand, Timor Leste, dan dua NGO (MSF).

Fasilitator berasal dari WHO Headquarter, WHO SEARO, dan para pakar. Fasilitator memaparkan tentang klasifikasi AWARE (Access, Watch, Reserve) buat antibiotik yg mulai diterapkan dalam Essential Medicines List (DOEN) dan Pedoman Penggunaan Antibiotik segala negara anggota WHO.

Dipaparkan juga metode surveilans penggunaan antimikroba (AMU) dan konsumsi Antimikroba (AMC) dalam kerangka GLASS (Global Antimicrobial Resistance Surveilance System) dan Antimicrobial Stewardship (AMS) yg juga direkomendasikan oleh WHO bagi diterapkan oleh seluruh negara anggota dalam upaya pengendalian resistensi antimikroba (AMR).

Workshop ini yaitu bagian dari implementasi strategic objective 4 dari Global Action Plan on Antimicrobial Resistance (GAP AMR), merupakan Optimising the Use of Antimicrobial.

Tiap delegasi memaparkan upaya pengendalian AMR dan implementasi program AMS di masing-masing negara melalui poster.

Tiap negara belajar dari keberhasilan negara yang lain dan masukan dari para pakar.

Sebagai output dari workshop, negara menyusun rencana aksi jangka pendek (2019) dan jangka menengah (2020 2021) bagi implementasi program AMS di level nasional dan rumah sakit dipandu fasilitator.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca