Cara Observasi Pendengaran Bayi Baru Lahir

oleh -133 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Jakarta – Gangguan pendengaran mulai mengakibatkan gangguan komunikasi, psikologi, dan sosial.

Hal tersebut diungkapkan, Wakil Ketua Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT) dr. Hably Warganegara, Sp.THT-KL, ketika ditemui di acara temu media, di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, baru – baru ini.

Gangguan pendengaran itu bisa dihilangkan melalui upaya pencegahan dan pengendalian penyakit terutama pada bayi atau tuli kongenital.

Tuli Kongenital bisa terjadi pada bayi sejak lahir. Ketulian itu mampu diakibatkan karena bawaan seperti riwayat hamil atau riwayat lahir, dapat juga disebabkan karena infeksi.

Gejala yg terjadi adalah anak belum mampu bicara sesuai usianya. Bahkan berpotensi menimbulkan persoalan yang lain seperti gangguan THT, dan psikologi.

“Tuli kongenital paling bahaya, seandainya tak ditolong kemungkinan terjadi gangguan perkembangan kognitif, psikologi, dan sosial,” kata dr. Hably.

Gangguan perkembangan kognitif, psikologi, dan sosial itu mulai mengakibatnya terjadi gangguan proses bicara, gangguan perkembangan kemampuan berbahasa, gangguan komunikasi, gangguan proses belajar dan perkembangan kepandaian.

Karena itu, masih menurut dr. Hably, yg perlu diketahui oleh bidan dan masyarakat adalah cara mendeteksi pendengaran bayi secara sederhana. Bayi memang belum dapat berbicara, namun dia mampu memperlihatkan refleks seandainya mendengar suara keras.

Cara observasi bayi terhadap suara mampu dilihat dari refleks bayi saat mendengar suara keras atau disebut refleks moro.

“Refleks moro itu kalau bayi tak menggunakan bedong, tangannya seperti mau meluk, kaget,” ujar dr. Hably.

Ada juga tanda yang lain berupa auropalpebra atau mengejapkan mata, grimacing mengerutkan wajah, berhenti menyusu atau mengisap lebih cepat, bernapas lebih cepat, dan ritme jantung bertambah cepat.

“Jangan dites di depan bayi tetapi di belakang bayi, biasanya kalau bayi mendengar klakson atau tepuk tangan dari belakang bayi, biasanya dia memamerkan refleks. Nah kalau refleksnya tak ada segerakan kontrol ke fasilitas kesehatan buat diperiksa,” tambahnya. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca