Kapolri: Polisi Tidak Nyaman Dengan Sebutan Muslim Cyber Army

oleh -237 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

JAKARTA, – Komisi III menggelar pertemuan dengar pendapat (RDP) dengan Polri di gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Dalam pertemuan tersebut sejumlah anggota Komisi III sempat mempersoalkan penggunaan kata “Muslim”, ketika polisi mengungkap kelompok penyebar hoaks Muslim Cyber Army (MCA).

Menanggapi hal itu Kepala Polri (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian menegaskan bahwa MCA memang memakai atribusi “Muslim” sebagai nama kelompok mereka.

Hal itu bertujuan buat menarik simpati masyarakat, serta memperhatikan konten-konten hoaks yg mereka sebarkan melalui akun di media sosial.

“Soal MCA, ini istilah dari investigasi yg kita lakukan. Kelompok ini menyebut diri mereka seperti itu. Jadi bukan bahasa dari Polri. Apa mau dikata, kata itu dipakai bagi menarik perhatian,” ujar Tito di ruang meeting Komisi III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

“Bagi kalian dan Muslim memang tak nyaman. Sesuai ajaran Islam menyebar hoaks tak sesuai Islam,” kata dia.

(Baca juga: MUI: Mencatut Nama Muslim, MCA Menodai Kesucian Ajaran Islam)

Menurut Tito, dari berbagai dokumen yg ditemukan ketika investigasi, kata Muslim memang digunakan sebagai identifikasi kelompok MCA.

Ia mengungkapkan bahwa sebenarnya Polri juga tak nyaman dengan penggunaan kata Muslim sebagai nama kelompok penyebar hoaks. Oleh sebab itu, Tito sudah memerintahkan jajarannya buat memakai singkatan MCA agar membuat masyarakat lebih nyaman.

“Kami tak nyaman dengan istilah itu. Polisi tak salah karena polisi cuma mengatakan fakta yg ada,” ujar Tito Karnavian.

“Kalau polisi ganti nama justru itu rekayasa. Tidak boleh. Maka lebih netral kalian gunakan singkatan MCA itu mulai lebih soft. Membuat publik nyaman,” kata dia.

(Baca juga: MCA Dianggap Punya Daya Rusak Lebih Besar Dibandingkan Saracen)

Pada kesempatan yg sama Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran mengatakan, investigasi polisi menemukan fanpage dan akun Facebook yg memproduksi konten-konten yg menyebabkan rasa permusuhan dan kebencian serta mengandung unsur SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

“Dari hasil investigasi kita temukan akun FB grup maupun fanpage itu menamakan dirinya United Muslim Cyber Army. Ini yang kalian temukan,” kata Fadil.

“Kami dalami kontennya memang memproduksi sesuai UU ITE Pasal 28 mampu dipidana karena mentransmisi keterangan yg menyebabkan rasa permusuhan dan kebencian yg mengandung unsur SARA,” tuturnya.

TV Hal ini diungkap oleh ketua penasehat persaudaraan alumni 212 Kapitra Ampera.

Sumber: http://nasional.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca