Jalan Jatibaru Tak Kunjung Dibuka, Sopir Angkot Somasi Anies Baswedan

oleh -408 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Sopir angkot yg biasa beroperasi di wilayah Tanah Abang melayangkan somasi buat Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Perwakilan sopir angkot dan kuasa hukum mendatangi Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat pada Rabu (7/3).

BERITA TERKAIT
  • Bukti dugaan pungli PKL di Tanah Abang diserahkan ke Polda Metro
  • Diperiksa selama 4 jam, pelapor penutupan Jalan Jatibaru dicecar 21 pertanyaan
  • Soal Jl Jatibaru mulai dibuka, Sandi bilang ‘Jangan terlalu berharap dikerjakan cepat'

Dalam somasinya, para sopir angkot meminta Anies membuka kembali Jalan Jatibaru Raya yg dalam dua bulan terakhir ditutup dari pukul 08.00 sampai 18.00 WIB. Karena Pemprov DKI memakai jalan tersebut bagi mengakomodir para PKL.

“Buka jalan itu. Saya telah lama menunggu. Saya dikasih program OK OTrip ini. Program ini tak sesuai dengan anak-anak (para sopir),” jelas perwakilan sopir angkot, Abdul Rosyid.

Para sopir yg protes ini khusus sopir mikrolet M08 rute Tanah Abang-Kota. Jika Anies tidak menggubris soal somasi itu, maka pihaknya mulai membawa masalah ini ke jalur hukum.

Tidak sesuainya program OK OTrip disampaikan Rosyid karena jarak tempuh ditargetkan 190 kilometer. Sementara trayeknya tidak sampai pada angka itu.

“Satu ritase aku 10 kilometer. Kalau setengah hari lima kali keliling hanya 50 kilometer. Kalau pagi sampai sore paling 10 kali. Armada itu ada 260 unit di trayek saya, tetapi bagi OK OTrip hanya 90. Sisanya kemana?” jelasnya.

Untuk pengaturan rute ulang (rerouting) menurutnya cuma lagu lama. Menurutnya tidak dapat juga dilaksanakan karena trayeknya belum jelas kemana.

“Saya kan trayeknya Tanah Abang-Kota. Pemerintah mengeluarkan program ini udah harus klop, udah tinggal kami terima bersih. Bukan yg banyak ganjalan di bawah. Makanya aku perjuangkan, aku bilang OK OTrip ini tak sesuai,” ujarnya.

Seharusnya, kata Rosyid, sebelum program OK OTrip diluncurkan, harus ada persetujuan dari seluruh sopir. “Itu yg aku bilang. Sisa armadanya mau dibeli atau gimana? Program ini harus jelas,” kata dia.

Gaji bagi sopir yg ikut program OK OTrip juga menurutnya kecil. Ia memaparkan hitungan gaji yg didapatkan harus 190 kilometer dan dikalikan Rp 4.000 per kilometer. “Memang nyampe Rp 600 ribu. Tapi dengan trayek saya, enggak nyampe. Sehari hanya 100 kilometer,” ucapnya.

“Gaji itu dari penghasilan kami per kilometer. Kalau enggak nyampe ya enggak. Sebelum menerapkan lihat dahulu gimana. Kalau dia menerapkan itu, lihat dahulu bagaimana,” lanjutnya.

Walaupun ritasenya kemudian diturunkan jadi 170 kilometer, Rosyid menyampaikan tetap tidak mampu mencapai target. Soal gaji, juga tidak mulai mencukupi karena harus dibagi lagi dengan uang bagi BBM. [fik]

Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca