Debat Ketiga, Istilah “10 Years Challenge” Ma’ruf Amin Hingga Entakan Sandiaga…

oleh -46 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

JAKARTA,  — Beragam penilaian muncul atas penampilan beberapa calon wakil presiden dalam debat ketiga Pemilihan Presiden 2019 yg digelar pada Minggu (17/3/2019) malam di Hotel Sultan, Jakarta Pusat.

Istilah-istilah yg dilontarkan cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin sempat membuat terenyak.

Sementara entakan cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno di penutup debat tidak diduga.

Pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, milik penilaian tersendiri atas penampilan kedua cawapres.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-5112'); });

Baca juga: Debat Ketiga, Debat Ala Maruf Vs Sandiaga…

Menurut dia, Ma'ruf berhasil mematahkan dugaan banyak orang. Ia tampil di luar dugaan.

Bagaimana dengan Sandiaga? Arya menilai, penampilannya di bagian akhir bisa membuat orang tidak terduga.

Tiga sasaran Ma'ruf Amin

Arya mengatakan, penampilan Ma'ruf Amin pada debat ketiga cukup mengejutkan. Ia menganggap, apa yg disampaikan Ma'ruf sesuai dengan konteks dan tema debat.

Peneliti CSIS Arya Fernandes di Kantor CSIS/Rakhmat Nur Hakim Peneliti CSIS Arya Fernandes di Kantor CSIS

“Debat semalam memperlihatkan bahwa Kiai Ma'ruf itu berhasil membuat atau mengambil momentum dan membuat orang kagum karena sebelumnya di debat pertama masih tak maksimal seperti yg tampak di debat ketiga,” ujar Arya saat dihubungi, Minggu (17/3/2019).

Sementara berbagai istilah yg dilontarkan Ma'ruf, menurut dia, bukan tanpa tujuan. Ada kelompok yg disasar.

Baca juga: Sejumlah Fakta Menarik dalam Debat Ketiga antara Maruf VS Sandiaga…

Pertama, menurut Arya, kalangan profesional. Menurut dia, hal ini kelihatan dari penjelasan Ma'ruf yg berulang soal dunia digital hingga iklim investasi.

Ma'ruf juga memakai istilah-istilah yg biasa digunakan kalangan profesional, seperti semangat “maximize utility” hingga “decacorn“. Bahkan, berulang kali ia mencetuskan istilah “DUDI” yg yaitu singkatan dari dunia usaha dan dunia industri.

Arya menilai, dengan penggunaan istilah-istilah itu, Ma'ruf ingin memperlihatkan bahwa dia juga memahami isu-isu di kalangan profesional.

Kalangan kedua yg menjadi target Ma'ruf Amin adalah kelompok Muslim.

“Beberapa istilah dan pernyataan juga memakai bahasa Arab, seperti takjim, takmilah, dan dua istilah yang lain dan pepatah Arab, hadis, Al Quran. Dia tak lupa basis tradisionalnya adalah pemilih Isam dan dia mau bangun psikologi kepada pemilih Islam bahwa dia oke, dia milik pemahaman, milik wawasan luas,” kata Arya.

Baca juga: Pasca-debat Ketiga, Sandiaga Berharap Masyarakat Dapat Tentukan Pilihan di Pilpres

Terakhir, Arya berpendapat, Ma'ruf menargetkan kalangan milenial. Salah sesuatu yg paling mencolok adalah penggunaan istilah “10 years challenge” yg diulang dua kali oleh Ma'ruf.

Ma'ruf memakai istilah yg sempat populer pada Januari 2019 ini ketika menyinggung soal riset yg utama bagi membuat perubahan 10 tahun mendatang.

Secara umum, Arya mengatakan, Ma'ruf cukup mampu mengambil momentum, dengan membalikkan anggapan publik terhadap kemampuannya.

“Pak Ma'ruf menurut aku mampu membalikkan keadaan, membuktikan bahwa dia mampu. Membuktikan bahwa apa yg dianggap orang selama ini tak benar soal kemampuannya,” kata Arya.

Entakan Sandiaga

Sementara itu, Arya menilai, Sandiaga Uno tampil lebih tenang pada debat ketiga.

Menurut dia, Sandiaga memiliki kecenderungan bagi mengaitkan seluruh tema dengan isu ekonomi.

Misalnya, tema pendidikan yg dinilai Sandiaga ada ketidaksinkronan antara kurikulum dan kebutuhan dunia usaha.

Baca juga: TKN: Penampilan Kiai Maruf di Luar Dugaan Banyak Orang

Meski demikian, penampilan Sandiaga yg paling mengentak adalah pada bagian akhir debat.

Arya merujuk pada kebijakan integrasi sesuatu kartu dengan KTP elektronik yg dicetuskan Sandiaga.

Menurut Arya, pernyataan itu membuat masyarakat terenyak sebab seolah mementahkan program berbasis kartu yg ditawarkan petahana.

“Sandi bisa mengambil momentum di akhir dengan membuat orang terenyak. ‘Benar juga nih, kenapa KTP tak dimanfaatkan‘. Orang berpikir itu,” kata Arya.

/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Menuju Istana 2019
googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112'); });

Sumber: http://nasional.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca