Cerita Ki Bagus Dan Kasman Hingga Tantangan Umat Islam Indonesia Kini

oleh -38 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

JAKARTA, – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, tantangan berat buat umat Islam dalam peringatan hari kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia adalah menjalankan ajaran Islam sesuai konteks keindonesiaan.

“Dalam konteks 74 tahun kami merdeka, maka tugas terberat kalian bagaimana nilai-nilai keislaman untuk umat Islam itu diwujudkan menjadi nilai islam yg damai, yg membangun kebersamaan,” kata Haedar di Hotel Luwansa, Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Menurut dia, Islam keindonesiaan harus membawa kemajuan serta sesuai dengan nilai-nilai yg terkandung dalam Pancasila.

“Sehingga segala penyelenggara negara dan elite negara, termasuk warga bangsa, membawa Indonesia berdasarkan pada lima sila itu sebagai dasar filsafat negara dan itu menjadi acuan bersama,” lanjut dia.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-5112'); });

Baca juga: Islam Nusantara Jadi Jembatan Diplomasi Damai

Haedar kemudian merujuk kepada dinamika tokoh nasional, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo dalam sejarah kemerdekaan RI.

Diketahui, Kasman adalah anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan terlibat dalam proses pengesahan Undang- undang Dasar (UUD) 1945 pada pertemuan PPKI 18 Agustus 1945.

Ki Bagus Hadikusumo sebagai salah sesuatu representasi golongan Islam ketika itu sempat menolak pengesahan UUD 1945. Ia menolaknya karena ada butir mewakili aspirasi umat Islam yg dihapus.

Butir yg dihapus berbunyi, “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam untuk pemeluk-pemeluknya”.

Butir itu sendiri yaitu kesepakatan yg dicapai pada meeting Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 22 Juni 1945 sebelumnya. Kesepakatan tersebut dikenal dengan nama Piagam Jakarta.

Baca juga: Jokowi: Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 Harga Mati

Kasman kemudian berperan menjadi jembatan antara Ki Bagus dengan Ir Soekarno dan Mohammad Hatta. Kasman mendorong agar kedua tokoh itu membujuk Ki Bagus bagi mengesampingkan kata itu.

Sebab, apabila butir tersebut dipertahankan, pasti muncul dari unsur golongan yg lain.

Akhirnya Ki Bagus dan sejumlah tokoh Islam sepakat mengesampingkan butir pada Piagam Jakarta tersebut. Pada bagian tersebut diganti dengan frasa “ketuhanan yg maha esa”.

“Jadi, beberapa tokoh ini (Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo) milik peran integrasi nasional keislaman dan kebangsaan. Sejak itu, Islam dan keindonesiaan itu bersenyawa dan tak ada lagi berkontradiksi,” ujar Haedar.

“Karena itu jangan lagi dibawa pada kontradiksi oleh siapapun,” lanjut dia.

 

Sumber: http://nasional.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca

No More Posts Available.

No more pages to load.