Dari Teater, Boneng Pernah Dapat Penghargaan Aktor Dan Sutradara Terbaik

oleh -876 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Rabu (2/5) tepat pukul 16.00 WIB kita datang di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Kedatangan kita di Taman Ismail Marzuki, bukan karena ingin melihat pagelaran seni budaya. Melainkan ingin bertemu dengan aktor senior Zainal Abidin atau yg akrab disapa Diding Boneng.

BERITA TERKAIT
  • Film drama kurang menantang, pevita pearce malah stres main film horor
  • Ardhito pramono ungkap mengantuk ketika syuting video clip ‘fake optics’!
  • ‘Fake optics’ ardhito pramono ungkap kepalsuan gaya hidup hura-hura ala borjouis!

Sebelumnya, kita telah janjian bertemu di Taman Ismail Marzuki bagi mewawancarai pemain film Warkop DKI itu. Setiba di sana, kalian segera menghubungi Boneng. Kebetulah ketika kalian hubungi, Boneng juga baru saja sampai Taman Ismail Marzuki.

Kami pun bertemu, dan segera berkenalan. Pertama melihat Boneng, kalian sedikit terkejut dan kagum. Sebab, diusianya telah tidak muda lagi, bahkan rambut telah memutih, tapi Boneng masih kelihatan gagah.

Kami diminta menunggu, karena dia ingin bertemu teman-temannya di kantin Taman Ismail Marzuki, yg lokasi tak jauh dari tempat kalian bertemu. “Nanti yah, aku mau ngopi dulu,” kata Boneng sambil berjalan menuju kantin.

Di sini, kalian berharap banyak agar Boneng mau bicara banyak tentang dunia hiburan khususnya, film. Bahkan, kita ingat betul, setiap peran yg dimainkan Boneng sangat menghibur. Membuat para penonton tertawa. Apalagi, saat memerankan sosok Diding di film Wakop DKI. Itu salah sesuatu peran yg paling kita ingat sampai ketika ini.

Cuaca begitu bersahabat. Padahal sesuatu beberapa sebelumnya, Jakarta diguyur hujan. Angin sepoi-sepoi dan pohon rindang yg menutupi terik matahari membuat kalian merasa betah berada di halaman TIM yg begitu ramai. Ditambah lagi para mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yg tengah bersantai di tempat tersebut.

Beberapa menit menunggu, kita pun diminta menemui pria kelahiran Jakarta itu. Kebetulan, jarak kita dengan Boneng di kantin tak terlalu jauh. Sehingga, Boneng sangat gampang memanggil kalian yg sedang duduk santai di trotoar depan kantin TIM.

“Sini,” kata Boneng.

Boneng tengah duduk santai. Sambil merokok dan kopi hitam di atas meja, Boneng segera menanyakan mengenai konsep wawancara. “Mau gimana? di sini aja (wawancaranya),” tanya boneng, sambil menghisap rokok.

Kami menjelaskan detail konsep wawancara yg kita berikan, dan Boneng pun setuju. Tak membuang waktu lama, tim kalian segera mempersiapkan peralatan ‘tempur’ bagi mewawancarai Boneng. Sambil menunggu tim mengatur tempat, kita sedikit berbincang santai dengan Boneng.

Kami menyimak dengan serius saat Boneng menceritakan perjalanan karirnya. Meski singkat, tapi perbincangan kita cukup menarik. Mulai membahas film, teater, hingga kesibukan dia ketika ini. Hampir setiap hari Boneng berada di TIM, dia juga mengajar teater di Teater Besar setiap hari Rabu, Jumat, dan Minggu.

“Saya di sini setiap hari. Saya juga ngajar teater. Saya beberapa kali terpilih sebagai aktor terbaik. Sutradara terbaik tiga kali. Kalau sehari-hari lebih banyak teater walaupun nggak harus latihan tidak jarang diskusi. Lebih banyak sehari-sehari baca buku atau pada ketika jam-jam latihan, aku latihan,” kata Boneng.

Melihat perbincangan semakin menarik, kita mengajak Boneng duduk di depan kamera yg telah disiapkan tim kami. Wawancara pun dimulai. Sejumlah pertanyaan telah kalian siapkan. Boneng duduk santai di kursi berwarna hijau rasanya telah bersiap menjawab pertanyaan kami.

Kurang lebih sesuatu jam kalian mewawancarai Boneng. Dalam wawancara kali ini, Boneng bercerita banyak tentang perjalanan karirnya di bidang seni, khususnya teater. Boneng lebih banyak menghabiskan waktu dengan berteater.

Bahkan, dapat kalian bilang teater telah mendarah daging. Lewat teater, Boneng dapat bermain film. Bahkan dari teater itu juga Boneng meraih penghargaan aktor dan sutradara terbaik.

“Tahun 73 aku telah aktif di teater. Kemudian selalu aku berteater, 76 aku telah menyutradarai. 76 aku jadi sutradara terbaik, 78 aku juga sutradara bisa terbaik, ada dua kali lah. Itu bukan menjadi masalah buat saya. Saya berteater itu memang aku suka, dan aku sangat menekuni itu. Tentang hasil atau bagaimana, itu bagi aku nggak terlalu fokus. Saya tetap fokus di teater saja,” kata aktor empat anak itu.

Karena cinta dengan teater, Boneng diberikan tempat di Taman Ismail Marzuki buat mengajar teater. “Di sini dari tahun 1978 aku udah bisa fasilitas buat latihan di sini,” tutur Boneng.

Boneng mengatakan, banyak sekali orang-orang yg ingin belajar teater dengan dirinya. Namun, dia tidak ingin mengajarkan teater kepada orang-orang yg tak serius. Bisa dibilang buat mengisi waktu luang. Bagi Boneng, teater harus dijalani dengan serius.

“Cuma aku juga milik keterbatasan, harus milih-milih juga. Nggak hanya yg sekedar mengisi waktu, sekedar mengisi liburan. Kalo mau dateng ke sini, silahkan. Tapi serius. Karena dengan begitu, dia belajar tentang moral, dia tau apa itu manusia, bagaimana menghargai orang lain, bagaimana tak celaka, itu seluruh di teater kalian gali. Untuk menjadi manusia seutuhnya, itu harusnya mau memperdalam berlajar moral. Di teater itu penuh dengan moral,”

Yang membuat kita kagum dengan Boneng, selama mengajar teater, dia tak pernah meminta bayaran. Yang paling penting, orang-orang yg belajar teater serius menjalani bidang tersebut.

“Saya nggak pernah menuntut bayaran, nggak pernah. Tapi melihatnya itu, kamu serius nggak. Bayar aku dengan disiplin dan tanggung jawab. Jangan bayar dengan materi, kalo bayar materi kamu nggak mampu. Berapa kamu mau bayar aku per jam,”

“Saya minta bayaran sama kamu dengan disiplin dan tanggung jawab totalitas berlatih. Itu bayaran kamu paling besar untuk saya. Kalo mau cari duit, ayo bareng. Bikin pertunjukkan, jual. Bikin pertunjukan yg bagus, caranya ya latihan serius,”

Tidak sedikit murid Boneng yg sukses di dunia hiburan, baik itu jadi aktor maupun komedian. Namun, Boneng enggan memberitahu siapa saja murid-muridnya yg sukses di dunia hiburan.

Selain menceritakan kecintaan terhadap teater, Boneng juga bicara mengenai film. Kami sangat kagum dengan Boneng. Sebab, dia menceritakan perjalanan di dunia teater dan film sangat detail. Mulai dari film pertama kali hingga main film bersama Warkop DKI. Bahkan, dia juga ingat peran yg dia mainkan seperti apa.

“Film pertama aku bukan Warkop. Pertama kali main film Tiga Dara Mencari Cinta, 1980. Saya bukannya sombong yah. Saya kan udah bilang tadi, aku nggak pernah ikut casting, termasuk sama Warkop. Tiba-tiba PT-nya yg memproduksi Warkop, Soraya waktu itu dia ngoling saya. Saya disuruh dateng ke kantor Soraya Film. Di sana aku ketemu Warkop,” tutur Boneng.

Boneng masih ingat bagaimana enaknya main bersama grup yg beranggotakan Dono, Kasino, dan Indro itu. Bagi Boneng, dari segala film yg dia mainkan, main bersama Warkop DKI dinilai paling menarik. Selain peran yg dia mainkan cukup mudah, tiga pemain Warkop DKI itu sangat menyenangkan.

“Buat aku mereka orang baik seluruh dan jago. Dia lah orang baik, orang pinter dan komedian. Sulit sekali buat menyamai dia (warkop) dari kelompok yg lain. Dari management, dari keilmuan yg dia punya, latar belakang, segala itu warkop oke banget. Dari pergaulan, di lokasi, mereka enak, baik. Saya hanya syuting sama warkop kayaknya yg nggak tegang. Di film-film yang lain aku tegang,” katanya.

Sudah banyak membicarakan tentang Warkop DKI, kalian pun menanyakan foto Boneng yg viral di internet. Boneng tahu fotonya tersebar di internet, namun ketika menceritakan foto tersebut, Boneng sedikit kecewa dengan orang yg memotret dirinya saat berada di dalam kereta.

Boneng sangat menyayangkan orang yg memfoto dirinya diam-diam. Apalagi foto tersebut menyebar di media sosial. Padahal, seandainya ada orang yg ingin foto bersama, dirinya sangat bersedia.

“Yang di kereta itu aku marah sih nggak. Tapi aku berharap, maaf yah, seluruh baik dari wartawan atau bukan, izin lalu lah kalo mau ngambil foto orang. Yang di kereta aku tau, artinya ini nyolong karena aku nggak tau. Kalaupun dia ngomong, mungkin aku mampu jadi lebih terbuka. Mau foto ‘ayo mau foto di mana’,” kata Boneng.

“Karena gini, aku kan milik keluarga. Saya mungkin nggak masalah, tetapi anak aku mulai komplain, ‘papah kok diem aja sih, ada foto-foto kayak gitu’ itu misalnya. Kan jadi masalah, sayanya enggak, aku bodo amat lah. Jadi paling tak siapapun, bukan nggak boleh foto, aku sih bebas-bebas aja, ada baiknya izin dahulu ‘bang, mau minta foto’. Saya tuh orangnya bebas, aku nggak merasa bintang kok,” tutup Boneng.

(kpl/far/frs)

Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca