Tantangan Ekonomi Digital Indonesia, Minim SDM Dan Transaksi Cashless

oleh -34 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

– Google bersama Temasek memprediksi nilai valuasi ekonomi digial di Asia Tenggara pada tahun 2025 mencapai 240 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.448 triliun) pada tahun 2025.

Namun, sejumlah masalah masih menjadi “PR” buat pemerintah dan pelaku ekonomi digital di negara-negara Asia Tenggara. Dua tantangan terbesar adalah minimnya sumber daya manusia atau talent yg cakap dan masih rendahnya transaksi digital (digital payment).

Menurut Google, pada tahun 2017, sedikitnya sumber daya profesional yg mumpuni bagi mendongkrak pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara menjadi tantangan yg besar dan belum terpecahkan.

Beberapa perusahaan digital disebut susah payah merekrut pekerja yg andal dan mengembangkan jumlahnya buat menguatkan tim. Randy Jusuf, Managing Director Google Indonesia menyampaikan persoalan ini telah tidak jarang menjadi pembahasan.

Baca juga: 2025, Ekonomi Digital Indonesia Diprediksi Bernilai Rp 1.400 Triliun

Menurut Randy, sumber daya manusia yg dibutuhkan tidak melulu direct talent atau ahli yg berurusan segera dengan teknologi digital seperti developer, ahli koding, atau teknisi.

“Bukan cuma direct talent tetapi juga yg bekerja dari ride hailing atau UKM-UKM yg menjual produk ke luar negeri,” jelasnya.

Di tahun 2018, Google memperkirakan mulai ada lebih dari 100.000 pekerja ahli profesional di perusahaan ekonomi digital di Asia Tenggara yg meliputi empat sektor, yakni e-commerce, online media, online travel, dan ride hailing.

“Nah, meski masih ada kesempatan (untuk diperbaiki), tetapi kita cukup senang melihat ini sebagai kemajuan dalam dua-tiga tahun ke belakang,” imbuh Randy.

Transaksi cashless belum maksimal

Setali tiga uang, sektor transaksi digital juga disebut Randy masih belum maksimal. Dari survey Google, cuma kurang dari sesuatu dari beberapa pengguna internet di Asia Tenggara memakai layanan transaksi digital.

Filipina dan Vietnam menjadi beberapa negara terendah dari enam negara Asia Tenggara yang lain yg mengadopsi transaksi digital dengan persentase 21 persen dan 25 persen secara berurutan.

Singapura mejadi negara dengan penggunaan digital payment tertinggi di Asia Tenggara dengan persentase 52 persen. Disusul Indonesia dengan 46 persen di posisi kedua dan Malaysia 45 persen di posisi ketiga, dan Thailand 39 persen di peringkat keempat.

Baca juga: Dompet Digital Tokopedia Diganti, dari TokoCash Jadi Ovo

Menurut Randy, masyarakat memang telah akan berani melakukan transaksi secara cashless, namun bagi transaksi secara offline, mereka lebih kadang memakai uang tunai.

Rendahnya adopsi transaksi digital menyebabkan pertumbuhan konsumsi digital seperti gaming dan langganan streaming video serta musik menjadi tersendat.

Apalagi, sebagian besar masyarakat Asia Tenggara cenderung menikmati layanan streaming dengan subsidi iklan alias gratisan walaupun tersedia pilihan pembayaran, termasuk yg memakai transaksi digital.

Harus maju ramai-ramai

Beberapa perusahaan digital telah menyadari hal ini. Sebagian di antaranya akan menjalin kerja sama dengan FinTech, bank atau membuat platform sendiri seperti Go-Pay besutan Go-Jek.

“Ini tak mampu jalan sendirian, harus ada kerja sama bagi dapat maju rama-ramai, buat bagaimana memecahkan persoalan ini bersama-sama,” tambah Randy.

Ia juga menambahkan, kemungkinan para perusahaan itu buat membuat platform digital payment sendiri, sangat tergantung pada regulasi masing-masing negara.

Selain sumber daya dan transaksi digital, logistik juga menjadi salah sesuatu persoalan yg harus langsung diperbaiki seandainya ingin mewujudkan pertumbuhan ekonomi digital yg luas.

Google dan Temasek mencatat, pengiriman logistik e-commerce tumbuh pesat. Tahun 2015  cuma tercatat 800.000 pengiriman per hari, tetapi di tahun 2018 angkanya tumbuh mencapai tiga juta pengiriman per hari.

Puncaknya, setiap ada agenda festival belanja di Indonesia, aktivitas logistik dapat mencapai tiga kali lipat dari jumlah rata-rata per hari.

Demografi negara kepulauan yg dimiliki sebagian wilayah Asia Tenggara seperti Indonesia atau Filipina, menjadi tantangan tersendiri buat pertumbuhan logistik.

Baca juga: 50 Persen Transaksi Go-Pay Masih di Ekosistem Go-Jek

Beberapa perusahaan seperti Lazada dan Redmart tengah membangun jaringan logistiknya sendiri bagi mengatasi persoalan ini. Sedangkan e-commerce lain, masih banyak yg berpangku ke jasa ekspedisi pihak ketiga.

Sementara sektor yang lain seperti infrastruktur internet, jumlah pengguna dan investasi, mendapat “rapor biru” dari Google. Meski masih ada catatan bagi daerah terpencil yg masih kesulitan mengakses internet bagi langsung dijamah.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber: http://tekno.kompas.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca