Menkominfo Tak Ragu Blokir Facebook Jika Jadi Alat Hasut

oleh -238 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyatakan pemerintah tak mulai tanggung-tanggung memblokir Facebook, seandainya media sosial besutan Mark Zuckerberg itu terindikasi digunakan sebagai alat penghasutan.

Ia menyontohkan kejadian yg terjadi di Myanmar. Dalam hal ini merujuk perkara Rohingya.

“Facebook mengakui bahwa Rohingnya itu salah satunya adalah disebabkan penggunaan media sosial di sana, termasuk Facebook,” katanya pada suatu kesempatan di Jakarta.

Maka itu, bagi masalah ini pihaknya tak memiliki keraguan mulai memblokir media sosial yg dijadikan sebagai alat penghasutan, termasuk Facebook.

“Saya telah membuat pernyataan tak milik keraguan buat menghindarkan Indonesia dari kejadian seperti itu. Saya tak milik keraguan buat memblokir atau shutdown kalau ada indikasi ke arah sana,” jelasnya.

Lain hal dengan perkara penghasutan, Facebook kini tengah ramai diperbincangkan lantaran penyalahgunaan data. Diduga sebanyak 1 juta data pengguna Facebook Indonesia disalahgunakan dalam perkara Cambridge Analytica (CA). Terkait hal ini, Menkominfo sudah melayangkan Surat Peringatan Kedua (SP II) kepada Facebook.

SP II tersebut dikeluarkan lantaran pemerintah menemukan adanya aplikasi yg serupa CA yakni CubeYou dan AgregateIQ. Sebelumnya, pemerintah telah melakukan sanksi administrasi berupa teguran lisan dan tertulis.

“Makanya, kemarin kalian keluarkan SP tambahan. Karena justru kita mengenali ada aplikasi yg mirip itu. Mereka juga kan katanya lagi melakukan audit cuma aku belum tahu kapan selesai auditnya,” jelasnya ketika ditemui awak media di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Rabu (11/4).

Sebagaimana diketahui, berdasarkan siaran pers Facebook, Rabu (4/4), mereka mengakui bahwa terdapat 87 juta data yg dimungkinkan disalahgunakan oleh CA. Dari 87 juta data yg kebobolan, sebagian besar adalah pengguna Facebook dari Amerika Serikat atau sekitar 81,6 persen data disalahgunakan. Selain Amerika Serikat, ada dua negara termasuk Indonesia.

Indonesia masuk urutan ketiga data yg disalahgunakan. Sekitar 1,3 persen dari 87 juta. Di atas Indonesia, ada Filipina yg kemungkinan besar penyalahgunaan data pengguna dari negeri itu sekitar 1,4 persen. Selain ketiga negara itu di antaranya Inggris, Mexico, Kanada, India, Brazil, Vietnam, dan Australia. [idc]

Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca