Elon Musk Sebut Kecerdasan Buatan Sebagai ‘diktator Abadi’

oleh -199 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Elon Musk telah lama mendapat julukan sebagai Tony Stark dunia nyata. Ambisinya buat menjadikan dunia jadi tempat lebih baik dengan bantuan teknologi, tentu sudah dirasakan di berbagai bidang.

BERITA TERKAIT
  • Ternyata begini geliat produsen Hp yang berasal China dalam ambisi menguasai pasar dunia
  • Infinix Mobility buka suara soal pencabutan sertifikat Infinix Zero 5
  • Smartphone gaming Xiaomi Black Shark rilis 13 April nanti?

Berbagai hal seperti bantuannya buat membangun baterai raksasa sebagai pengganti listrik konvensional, memproduksi mobil listrik Tesla yg mengubah pandangan masyarakat soal mobil mewah itu seperti apa, serta kontribusinya di dunia antariksa dan ambisi membawa manusia ke Mars lewat Space X.

Namun dengan segala obsesinya soal teknologi itu, Elon Musk diam-diam membenci produk teknologi yg digadang-gadang mulai jadi masa depan, yakni AI atau kecerdasan buatan.

Dalam sebuah dokumenter terbaru berjudul “Do You Trust This Computer?”, Elon menyebut bahwa di zaman kecerdasan buatan, kami dapat menciptakan “diktator abadi yg tak mulai pernah dapat kami lepaskan.”

Frasa diktator abadi tampaknya merujuk pada konsep otoritarianisme yg dimpimpin oleh seseorang yg yaitu diktator. Rezim otoriter tentu dapat runtuh seandainya sang penguasa mati: seperti cuma Hitler dan Mussolini. Namun sentimen ini digunakan Elon buat AI, di mana kecerdasan buatan itu abadi, tidak mulai pernah mati, dan tentu kami tidak dapat lepas darinya.

Dokumenter “Do You Trust This Computer?” ini dibuat oleh Chris Paine, seorang sutradara yg sama yg membuat dokumenter “Who Killed The Electric Car?” tahun 2006 yg memunculkan Elon di dalamnya.

Dalam dokumenter terbaru ini, Paine mengeksplorasi berbagai bahaya kecerdasan buatan, subyek yg sangat vokal ditentang oleh Elon. Elon menyebut bahwa ada kemungkinan seandainya AI yg dikembangkan oleh negara dengan pemerintah otoriter, dapat jadi mulai menghasilkan struktur penindasan masyarakat secara permanen.

Hal ini pun sudah kelihatan di dua negara. Mulai dari Rusia yg memakai algoritma bagi melemahkan demokrasi, serta China yg launching Sistem Kredit Sosial yg bertujuan bagi memantau warganya akan 2020 nanti.

Sebelumnya, Elon memperingatkan bahwa AI mampu memulai Perang Dunia III. Elon sendiri pernah menyarankan pemerintah buat meregulasi soal kecerdasan buatan, karena AI memiliki “risiko terbesar yg dihadapi peradaban manusia.” [idc]

Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca