Kolaborasi Teknologi Untuk Lindungi Hutan Sumatera

oleh -69 views
Cloud Hosting Indonesia

Banyumas Raya

Jakarta – Huawei Indonesia mengumumkan kolaborasi dengan Rainforest Connection (RFCx), sebuah startup yang mengubah ponsel daur ulang menjadi perangkat pendengaran bertenaga surya bagi memantau dan melindungi daerah terpencil di hutan hujan.

Kolaborasi dikerjakan buat melindungi hutan hujan di Pulau Sumatera dengan mengembangkan platform inovatif sebagai alat pengumpulan data, layanan penyimpanan, dan analisis data yg akurat tentang keadaan hutan.

Melalui kolaborasi ini, Huawei menghadirkan teknologi pendukung, termasuk memakai smartphone yang dimasukkan ke dalam sistem buat menangkap suara kegiatan hutan hujan serta memakai teknologi Huawei AI (Artificial Intelligence) agar mampu lebih memahami suara binatang di dalam hutan hujan.

Teknologi-teknologi tersebut nantinya bisa memberikan bantuan yg dibutuhkan oleh dua spesies yg terancam punah.

Kolaborasi Huawei dengan RFCx berawal dari temuan besar Topher White tentang bagaimana ia dan timnya mendaur ulang ponsel lama bagi menolong melindungi hutan hujan dari penebangan liar, yg kemudian penemuan itu diperkenalkan melalui acara TedTalk pada 2014.

Tak lama setelah itu, Huawei menghubungi Topher buat membicarakan kolaborasi lebih lanjut. Tidak disangka, selama ini RFCx juga sudah memakai sebagian besar ponsel daur ulang Huawei karena daya tahannya yg bisa bertahan hingga beberapa tahun.

Tentunya hal ini sangat mengesankan dalam melindungi hutan hujan. Hingga ketika ini, teknologi tersebut sudah digunakan di 10 negara di lima benua, termasuk Sumatera yg hutan hujannya sudah dilindungi lebih dari 2.000 km2.

“Bersama dengan RFCx, kalian ingin memberdayakan masyarakat lokal bagi melindungi hutan hujan memakai perangkat Huawei dan teknologi AI. Hal ini adalah bagian dari kontribusi kita bagi menciptakan kelestarian lingkungan melalui teknologi yg kita sajikan. Kolaborasi ini tentu sejalan dengan inisiatif TECH4ALL kalian merupakan mendorong inklusi digital dan orang-orang mulai tetap terhubung sesuatu sama lain,” jelas Lo Khing Seng, Deputy Country Director Huawei Device Indonesia.

Dalam kolaborasi bagi melindungi hutan hujan di kawasan Muara Labuh, Sumatera Barat, RFCx menciptakan sistem pemantauan audio bertenaga surya yg disebut Guardian. Sistem Guardian memakai ponsel Huawei lama sebagai inti dari sistem mereka.

Guardian kemudian menangkap suara hutan hujan, termasuk suara gergaji mesin buat pemburuan liar, api, atau kegiatan berbahaya lainnya.

Didukung oleh Huawei Cloud dan menara telekomunikasi, suara mulai diterima secara real-time oleh polisi hutan yg bertanggung jawab di lapangan terdekat agar melaporkan kejadian tersebut ke penegak hukum setempat.

Huawei dan RFCx juga mengembangkan model algoritma cerdas yg lebih akurat yg dibuat dari layanan kecerdasan buatan canggih Huawei (Huawei Cloud AI) dan alat yg disebut dengan ModelArts.

Pengembangan ini bertujuan bagi mengidentifikasi kebisingan gergaji mesin dan suara truk yg lebih akurat.

Selain itu, Huawei menolong RFCx membangun model kecerdasan buatan yg mampu mendeteksi dan menganalisis suara spesies yg terancam punah, salah satunya orangutan.

Model tersebut mulai menolong polisi hutan melindungi spesies yg terancam punah melalui penyediaan keterangan tentang habitat mereka, tanda-tanda ancaman, hingga kebiasaan hidup mereka.

Selama proyek berlangsung, tim RFCx mengunjungi dua desa atau disebut juga nagari, antara yang lain Nagari Sirukam, Nagari Pakan Rabaa Timur, Nagari Pakan Rabaa, dan Nagari Pasir Talang Timur. Dalam kunjungan tersebut, mereka bertemu dengan masyarakat setempat bagi memperkenalkan dan melatih mereka tentang bagaimana memakai sistem Guardian di hutan hujan yg ada di sekitar mereka.

Respon dari masyarakat nagari sangatlah positif, meski ada sedikit kesulitan dalam mengenalkan teknologi baru karena tak semuanya akrab teknologi digital.

Berkat sistem dan aplikasi Guardian, salah sesuatu desa berhasil mendapatkan sesuatu peringatan pembalakan liar yg terjadi di hutan hujan sehingga mereka mampu segera melaporkannya ke penegak hukum setempat.

“Konservasi hutan hujan sangatlah menantang karena ada banyak hal yg mampu terjadi, termasuk perburuan liar, pembalakan liar, pembakaran, dan banyak lagi. Dengan teknologi yg didukung oleh perangkat Huawei dan AI Cloud, kalian berharap tak cuma masyarakat sekitar saja yg bisa kalian berdayakan namun juga orang-orang di kota-kota yang lain seperti Jakarta, buat mampu mendengar suara hutan hujan serta mendeteksi dan memberikan tanggapan langsung seandainya satu yg berbahaya terjadi,” kata Topher White, CEO dan Pendiri RFCx.

Sumber: http://teknologi.inilah.com
BanyumasRaya.com

Komentar Pembaca

No More Posts Available.

No more pages to load.